Sehari-hari kita mendengarkan betapa ekonomi menjadi persoalan yang dirasakan berat baik secara individu, masyarakat, maupun negara. Berita tentang pendapatan yang masih rendah, ekonomi lesu, pengangguran semakin banyak, pendidikan masih tidak sesuai dengan tuntutan lapangan kerja, penyimpangan hukum terkait korupsi, pemutusan hubungan kerja, dan lain-lain, semuanya seolah-olah tidak ada putusnya.
Tidak terkecuali adalah pemerintah juga menjadi tampak jelas sekali selalu dihadapkan pada persoalan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Beban itu juga dirasakan sedemikian berat. Sekedar meraih swasembada beras saja sejak dahulu tidak selalu berhasil. Dari tahun ke tahun, atau dari periode pemerintahan ke pemerintahan berikutnya, isu tentang ekonomi selalu mengemuka. Bahkan berbagai aspek lainnya juga dikaitkan dengan persoalan ekonomi itu. Akibatnya, seolah-olah ekonomi menjadi persoalan utama dalam kehidupan ini.
Persoalan politik, pendidikan, hukum, pertahanan keamanan, dan bahkan agama sekalipun ternyata dikaitkan dengan ekonomi. Dalam bidang politik, tatkala berlangsung kampanye pemilihan kepala daerah, parlemen, dan bahkan presiden, maka yang ditunggu-tunggu adalah bagaimana janji yang disampaikan dalam meningkatkan pendapatan atau kesejahteraan rakyat. Pemiliihan para pemimpin bukan dilihat dari keluasan ilmu, pengalaman, dan akhlak sebagai dasar membangun peradaban, melainkan karena kemampuannya dalam meningkatkan ekonomi itu.
Demikian pula pendidikan, juga diarahkan pada ulusannya agar bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan besar. Lembaga pendidikan yang mampu mengantarkan anak didiknya segera kaya atau pintar mendapatkan uang, maka itulah yang diminati oleh masyarakat. Sebaliknya, ilmu atau lembaga pendidikan yang dianggap tidak segera mendatangkan penghasilan akan ditinggalkan, sekalipun sebenarnya adalah juga penting sebagai bekal membangun kehidupan.
Pertanyaannya adalah apakah memang benar bahwa mencukupi kehidupan ekonomi ini sedemikian sulit sehingga menjadi perhatian utama. Negeri ini kaya sumber daya alam, yakni memiliki tanah yang subur dan luas, banyak berbagai jenis tambang, lautan dengan berbagai potensinya, jumlah pendiuduk yang besar, dan lain-lain. Jika persoalan ekonomi itu memang begitu berat dan tidak mudah diselesaikan, siapa sebenarnya yang patut disalahkan. Demikian pula jika beras, daging, sayuran, buah-buahan, kedelai, dan bahkan garam saja harus import, maka di mana letak kekeliruan itu. Bukankah para petani sendiri sebenarnya sudah cakap untuk menanam, beternak, menangkap ikan di laut, dan atau bekerja dalam bidang apa saja.
Maka jangan-jangan persoalan itu bukan pada kemampuan dan kemauan bekerja, tetapi adalah karena mereka kalah bersaing dengan kekuatan besar, yaitu mereka yang memiliki modal berlebihan maupun strategi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Kehidupan ekonomi jika dibiarkan sebebas-bebasnya akan mirip dengan kehidupan di laut lepas. Ikan apa saja yang kuat dan berukuran besar, maka akan mengambil berbagai jenis makanan, dan bahkan ikan-ikan berukuran kecil tidak saja dibiarkan, melainkan bahkan juga dihirup sekalian oleh ikan besar.
Kehidupan di laut, ikan berukuran kecil bukan tidak mau besar, melainkan dilarang menjadi besar. Kiranya juga begitu dalam kehidupan ekonomi bebas. Persaingan itu amat tidak seimbang. Petani kecil yang tidak memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan modal, harus menjual tanahnya kepada mereka yang memiliki modal besar itu. Demikian pula para pedagang, nelayan, dan lain-lain akan mengalami keadaan yang sama. Selanjutnya setelah tidak memungkinkan lagi mampu mengembangkan ekonomi, walaupun sekedar untuk memenuhi hidupnya sehari-hari, mereka meninggalkan kampung halamannya, dan kemudian pergi ke kota untuk menjadi buruh dan bahkan keluar negeri, bekerja seadanya untuk menyambung hidupnya.
Keadaan yang menyakitkan sebagaimana digambarkan itu, jika tidak ada upaya dari pemerintah yang bersifat mendasar dan bahkan radikal, maka keadaan rakyat miskin itu akan semakin parah. Jumlah mereka yang tidak berdaya semakin lama akan semakin banyak dan demikian pula penderitaan yang dialami akan semakin parah. Persoalan ekonomi menjadi semakin menguras perhatian pemerintah oleh karena adanya kekuatan yang semakin liar dan tidak bisa dikendalikan itu.
Kekuatan penindas berupa pemilik modal yang menguasai kekuatan ekonomi luar biasa tersebut sebenarnya melebihi penjajah bangsa asing yang dahulu berada di negeri ini hingga ratusan tahun. Jika peta persoalan ekonomi yang demikian itu segera dipahami dan kemudian berhasil dicarikan solusinya secara tepat, maka persoalan hidup ini tidak selalu hanya terkait ekonomi, melainkan akan bergeser pada pilar-pilar penyangga peradaban yang sebenarnya. Ekonomi memang penting, tetapi hal itu sebenarnya hanya menyangkut persoalan perut. Wallahu a'lam.



