Mengurus manusia ternyata tidak sederhana, yakni tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan rasio, akal atau pertimbangan ilmiah. Manusia memiliki beberapa dimensi, yang semuanya harus dipertimbangkan. Dalam mengambil keputusan misalnya, tidak cukup hanya mendasarkan pada obyektifitas. Atau sebaliknya, yaitu bersikap subyektif. Berbuat obyektif kadangkala salah, tetapi memilih subyektif juga dianggap keliru.
Ada contoh sederhana, berupa kisah fiktif, namun kiranya bisa digunakan untuk menjelaskan hal dimaksud. Pada zaman dahulu, terdapat seorang raja yang amat masyhur, kaya, dan pengaruhnya sedemikian luas. Namun, raja dimaksud cacat sejak lahir, yaitu matanya hanya satu. Apapun keadaannya, oleh karena keturunan raja, maka ia bisa naik tahta menjadi raja pula.
Sebagaimana raja-raja lain yang diketahui, ia berkeinginan agar gambar dirinya ditaruh di tempat-tempat yang dianggap strategis dan penting. Sekalipun raja ini sudah populer, tetapi ia masih berkeinginan agar gambar dirinya itu bisa dilihat di mana-mana. Sayagnya, ketika itu belum tersedia alat untuk mengambil gambar sebagaimana di zaman modern sekarang ini.
Maka, untuk memenuhi keinginannya itu, raja memerintahkan kepada stafnya agar mencari pelukis yang dianggap hebat. Beruntung untuk nmendapatkan pelukis di negeri itu tidak sulit, oleh karena banyak sekali pelukis professional. Akhirnya, segeralah dipilihkan pelukis terbaik di negeri itu. Tidak bisa dibayangkan, pelukis yang tepilih untuk melukis sang raja itu gembiranya bukan main. Tugas itu tidak saja akan mendatangkan rizki, tetapi sekaligus juga sebagai kehormatan yang luar biasa besarnya.
Setelah semua siap, maka dimulailah melukis wajah raja itu. Sebagai seorang seniman professional, maka pekerjaan itu tidak memerlukan waktu lama. Ia lukis wajah raja itu seobyektif dan seindah mungkin. Ia mengira bahwa raja menyukai hal yang bersifat obyektif. Raja bermata satu, maka juga dilukis apa adanya, yakni bermata satu. Segera setelah selesai, dalam arti telah dipigora segala, lukisan itu diserahkan kepada Sang Raja.
Tatkala menyerahkan lukisan itu, oleh karena dianggap sempurna dan berhasil diselesaikan tepat waktu, pelukis merasa akan berhasil menyenangkan sang Raja. Akan tetapi, setelah lukisan itu dilihatnya, raja bukannya bergembira, tetapi justru sebaliknya. Raja sedemikian marah ketika melihat wajahnya dilukis apa adanya, yakni matanya hanya satu. Maka raja memerintahkan kepada stafnya agar menghukum kepada pelukis yang tidak bijak itu. Perintah raja tersebut tentu ditunaikan, yaitu pelukis dimaksud dimasukkan ke penjara.
Gagal memenuhi keinginannya, raja tidak putus asa. Ia perintahkan lagi agar dicarikan pelukis yang sekiranya bisa memenuhi kemauannya. Tidak lama kemudian, berhasil diperoleh pelukis yang juga tidak kalah hebat dibanding pelukis yang pertama. Oleh karena pelukis pertama dengan bersikap obyektif dianggap salah dan dihukum, maka ia merasa mudah menenunaikan tugas itu. Segeralah ia memulai melukis wajah raja dimaksud. Pelukis pertama mengambil sikap obyektif dinilai salah, maka ia bersikap subyektif. Sekalipun raja itu bermata satu, ia lukis seolah-olah bermata dua.
Pelukis itu mengira bahwa dengan mengambil sikap subyektif, yaitu raja bermata satu dilukis seolah-olah bermata dua akan mendatangkan kegembiraan. Namun setelah lukisan itu diserahkan dan dilihatnya, ternyata sama, raja marah luar biasa. Kepada stafnya diperintahkan agar pelukis itu juga segera dikirim ke penjara. Ia dianggap salah, yaitu menghina, raja merasa bermata satu tetapi dilukis seolah-olah bermata dua. Dari peristiwa itu dapat dipahami bahwa dalam mengurus manusia, bersikap obyektif maupun subyektif, keduanya ternyata keliru.
Hingga kedua pelukis tersebut dimasukkan ke penjara, Raja belum berputus asa. Ia masih memerintahkan stafnya mencari pelukis yang mampu memenuhi keinginannya. Banyak pelukis tidak sanggup menyelesaikan tugas itu, khawatir salah dan kemudian dihukum. Mungkin seperti zaman sekarang ini, banyak pejabat pemerintah tidak berani mengimplementasikan anggarannya, khawatir dituduh salah dan dipenjara. Namun untung, ternyata masih ada pelukis yang berani mencoba untuk memenuhi keinginan Sang Raja.
Pelukis yang ketiga ini tidak tergesa-gesa menunaikan tugasnya. Sebelum memulai melukis, Ia pelajari beberapa hal terkait dengan kehidupan Sang Raja. Akhirnya ditemukan informasi, bahwa raja bermata satu itu memiliki hoby berburu. Mendengarkan keterangan itu, pelukis dimaksud segera pergi ke kota untuk datang ke toko senapan. Beruntunglah, ternyata di toko yang didatangi itu dijual senapan produk mutakhir. Sekalipun harganya mahal, alat berburu itu dibelinya dan segera datang ke istana menemui Sang Raja yang akan dilukis.
Sebelum menunaikan tugasnya, pelukis itu menjelaskan bahwa dirinya mendengar, raja memiliki hoby berburu dan ia mengaku memiliki senapan buatan mutakhir. Pelukis memohon perkenan akan menghadiahkan senapan itu kepada Raja. Namun sebelum senapan itu diserahkan sebagai hadiah, ia memohon untuk mencobanya. Permintaan pelukis itu ternyata dipenuhi oleh Raja bermata satu dimaksud. Hal yang lazim, bagi siapapun tatkala menggunakan senapan, maka pasti akan menggunakan mata satu. Ketika raja mencoba untuk menggunakan senapan itulah kemudian dilukis. Melihat lukisan itu, tentu raja senang sekal. Sekalipun ia bermata satu, tidak kelihatan, karena sedang menembak. Pelukis yang ketiga ini memiliki keunggulan yang luar biasa, yaitu arif atau bijak, sehingga mampu menyelesaikan tugas terkait dengan manusia secara tepat. Wallahu a'lam.



