Selama ini umat Islam masih dihadapkan pada kenyataan yang tampak kontradiktif. Kitab suci al Qur'an dan Hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam mengajarkan tentang peradaban unggul, tetapi pada kenyataannya di kalangan umat Islam sendiri masih mengalami ketertinggalan dibanding umat lainnya, baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dan lain-lain. Memperbincangkan umat Islam seolah-olah hanya menyangkut di seputar kegiatan ritualnya, dan akhirnya yang terjadi adalah ketertinggalan, kemandekan, dan atau sesuatu yang tidak akrab dengan kemodernan.
Menghadapi kenyataan tersebut, di kalangan umat Islam, terutama para tokohnya, sebenarnya sudah cukup lama mempertanyakan sebab-sebab yang menjadikan keadaan yang tidak menyenangkan itu. Banyak pendapat tentang penyebab keterlambatan umat Islam dibanding umat lainnya. Tetapi sebenarnya masih ada lagi jawaban yang belum banyak diperbincangkan di kalangan luas, yaitu menyangkut pendidikan Islam itu sendiri. Apa yang dipelajari tentang Islam oleh para pelajar dan mahasiswa selama ini tidak mencukupi, yaitu hanya sebatas menyangkut tentang tauhid, fiqh, akhlak, tasawwuf, tarekh, dan Bahasa Arab, dan itupun ternyata juga tidak tuntas. Islam tidak sesederhana itu.
Belajar Islam seharusnya tentang kehidupan ini secara luas, sebagaimana yang diajarkan di dalam al Qur'an dan Hadits Nabi. Mendasarkan pada kedua sumber ajaran tersebuit, Islam tidak sebatas menyangkut pedoman pelaksanaan ritual seperti cara berdzikir, shalat, puasa, zakat, haji, pembagian waris, pernikahan, cara-cara berdo'a, dan sejenisnya. Berbicara Islam seharusnya berbicara tentang ilmu pengetahuan, kualitas pribadi unggul, tentang keadilan yang seharusnya ditegakkan, bekerja secara profesional atau beramal shaleh, dan tentu juga tentang kegiatan ritualnya.
Jika Islam yang diajarkan di berbagai lembaga pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya hanya menyangkut tentang kegiatan ritual sebagaimana yang berjalan sekarang ini, maka hingga kapan pun umat Islam tidak akan mampu bersaing dengan umat lainnya. Selamanya umat Islam akan tetap berada di belakang, dan tidak akan mampu memimpin peradaban. Manakala berharap keluar dari ketertinggalannya, maka umat Islam sendiri seharusnya berani mereformulasi kembali konsep keilmuan dan pendidikan Islam sebagaimana disebutkan di muka. Berbicara Islam tidak cukup hanya sebatas dari aspek ritualnya, sebagaimana hal itu diajarkan di masyarakat dan juga di lembaga pendidikan selama ini. Wallahu a'lam.



