Beberapa bulan terakhir, saya melihat dan juga mengikuti dua kegiatan yang sama-sama menarik, yaitu di banyak pesantren mulai belajar berbisnis, sementara itu di kalangan guru besar atau profesor mulai belajar al Qur'an. Tentu, keduanya tidak ada yang keliru. Belajar berbisnis adalah penting. Sebab, di zaman seperti ini, jika seseorang tidak memahami ekonomi, maka akan kalah bersaing dengan mereka yang memiliki ilmu dan sekaligus juga pengalaman.
Pesantren harus tetap mengembangkan jati dirinya, yaitu mandiri dalam berbagai hal, tidak terkecuali adalah dalam berekonomi. Dahulu, tatkala ilmu pengetahuan dan teknologi belum berkembang seperti sekarang ini, orang tidak perlu mengetahui banyak tentang ekonomi. Asalkan memiliki modal, sawah, tegalan, ternak, atau kapal, maka kebutuhan ekonominya, tidak terkecuali para kyai pesantren dapat dicukupi dari sumber-sumber dimaksud.
Keadaan Sekarang ini berbeda dengan dahulu. Usaha apa saja harus mendasarkan pada ilmu pengetahuan, pengalaman, dan teknologi. Sebagai contoh, memelihara ternak saja, tanpa mendasaarkan pada ilmu beternak, maka tidak akan mendatangkan hasil. Mulai dari membuat kandang, memenuhi pakan ternak, obat-obatan, dan tidak terkecuali pemasarannya, semua itu harus dilakukan atas dasar ilmu pengetahuan.
Rupanya pada akhir-akhir ini, pesantren mulai menyadari bahwa keadaan ekonominya sudah mulai tergeser oleh pihak lain yang melakukannya secara professional. Jika dahulu, pesantren menguasai sumber-sumber ekonomi, maka sekarang sudah kalah dibanding pengusaha di luar pesantren. Dahulu, pesantren memiliki sawah, empang, kebun, kapal dan lain-lain, maka pada saat sekarang ini, seharusnya para tokoh agama atau para kyai juga tetap unggul seperti dulu. Namun, jika dulu mereka memiliki sawah luas, kapal, atau empang, maka sekarang seharusnya juga memiliki CV, PT atau pabrik-pabrik besar yang mendatangkan keuntungan melimpah.
Sejak beberapa bulan terakhir, saya bersama beberapa teman diundang ke berbagai pesantren untuk mendorong para santri mempelajari berbagai jenis kegiatan entrepreneur. Kegiatan dimaksud untuk menumbuhkan kesadaran tentang betapa pentingnya belajar berbisnis, selain masih harus tetap tekun mempelajari al Qur'an, Hadits, dan kitab kuning. Mereka harus sadar bahwa berekonomi di dunia modern membutuhkan bekal ilmu yang seharusnya dipelajari. Menggantungkan cara-cara yang bersifat alamiyah seperti zaman dulu, sudah tidak mungkin memadai lagi.
Jika pesantren tidak segera mengembangkan ekonomi, maka institusi ummat ini tidak akan berhasil mengembangkan kemandirian sebagai ciri khasnya. Pesantren sejak zaman dulu selalu mengambil posisi independen, atau tidak memilihak dan tergantung pada siapapun. Oleh karena itu jika pesantren lemah di bidang financial, maka independensinya akan terganggu. Pesantren akan mudah terpengaruh oleh tawaran dari berbagai pihak yang bisa mengganggu daya kritisnya. Sebutan bahwa adanya pesantren proposal adalah sebagai contohnya.
Selain itu, para santri juga harus dibekali kemampuan dalam menghadapi problem kehidupan di masa depan, di antaranya adalah persoalan ekonomi. Kebutuhan berekonomi itu sekarang mulai disadari dan sudah banyak pesantren yang kemudian menyelenggarakan pelatihan, seperti pelatihan berbisnis, usaha property, kuliner, perkebunan, pertambangan, dan lain-lain. Maka, sejak beberapa tahun terakhir, pesantren mulai tertarik mengembangkan dan mengajari santrinya berbisnis.
Fenomena menarik lainnya, di beberapa kota besar, mulai dari di Makassar, di Medan, di Yogyakarta, dan lain-lain, saya menemukan kegiatan para professor secara bersama-sama melakukan kajian terhadap al Qur'an. Saya menangkap ada pengakuan jujur dari para professor dimaksud bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa menyelesaikan persoalan manusia hingga tuntas. Telah banyak dokter dengan kualitas unggul, tetapi masih banyak yang gagal dalam mengobati penyakit. Pada fase tertentu, mereka angkat tangan atau menyerah.
Para professor menyadari bahwa untuk memahami manusia sebagai ciptaan Tuhan secara utuh, maka harus mengikut-sertakan sumber pengetahuan yang berasal dari Sang Penciptanya sendiri, yaitu al Qur'an dan Sunnah. Para dokter bisa mengetahui jantung, empedu, ginjal, dan lain-lain, tetapi pada fase tertentu pengetahuan itu akan terbukti terbatas. Apa yang bersifat lahir berhasil diketahui, tetapi menyangkut hal yang lebih dalam, yaitu tentang ruh atau sumber kekuatan yang menghidupkannya ternyata tidak akan bisa diketahui.
Sebagai contoh sederhana lainnya, seseorang tatkala melihat kawannya sendiri, adakalanya seketika muncul kemarahannya. Mengapa ia marah dan bahkan membenci, ternyata tidak seorang pun bisa menjawab. Contoh lain, panca indera seperti hidung, mata, telinga, peraba, dan pengecap selalu jujur, tetapi mengapa hatinya bisa tidak jujur. Mulut siapa saja jika disentuh lombok, maka secara spontan akan merasakan pedas, tatkala disentuh gula akan mengatakan manis, disentuhkan garam akan merasakan asin, dan seterusnya.
Beda dengan panca indera itu adalah hati yang kotor atau sakit. Apa saja yang dilaporkan oleh panca indera dengan jujur tersebut bisa dimanipulasi oleh hati yang sedang sakit atau kotor. Mengapa demikian, ternyata tidak ada seorang pun yang bisa menjawab. Maka, Al Qur'an saja yang bisa menyodorkan jawabannya. Karena itu, tepat sekali apa yang dilakukan oleh para professor, yaitu mencari jawab terhadap persoalan yang dihadapi tidak saja mengandalkan logika dan hasil observasi yang bisa dilakukan, tetapi juga menyempurnakan pengetahuannya itu dari Kitab Suci dan Sunnah Rasul. Wallahu a'lam.



