Semangat Berhaji
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 13 September 2015 . in Dosen . 1295 views

Pada akhir-akhir ini, semangat menunaikan ibadah haji luar biasa besarnya. Keinginan menjalankan rukun Islam kelima ini tidak saja dimiliki oleh orang-orang biasa, tetapi juga para pejabat pemerintah, pengusaha, akademisi, hingga orang-orang yang secara ekonomi sebenarnya tidak mampu. Orang yang disebutkan terakhir, oleh karena sedemikian semangatnya menunaikan ibadah haji, mereka harus menabung bertahun-tahun sampai biaya yang harus dibayarkan mencukupi.

Dahulu agar bisa menunaikan ibadah haji, seseorang harus memiliki uang yang cukup sebagai bekalnya. Siapapun yang secara fisik sehat dan memiliki uang sebanyak yang dibutuhkan itu, maka pada setiap musim haji bisa menunaikan rukun Islam yang ke lima ini. Maka kala itu, hambatan berhaji hanya uang dan kesehatan. Jika tidak memiliki uang dan juga tidak sehat, maka siapapun tidak akan menunakan panggilan ke tanah suci.

Perjalanan haji pada zaman dahulu, sebelum ada kebijakan pemerintah, yakni harus menggunakan pesawat terbang secara massal, mereka menggunakan kapal laut. Akhirnya, siapapun yang berhaji membutuhkan waktu di perjalanan yang sedemikian lama. Perjalanan dengan menggunakan transportasi laut dalam jarak yang sedemikian jauh pasti memakan waktu hingga berbulan-bulan. Dengan demikian, menunaikan haji cukup berat, akan tetapi, oleh karena besarnya semangat itu, maka apapun dianggap tidak sulit.

Berbeda dengan zaman dahulu, berhaji sekarang ini begitu mudah. Jika dahulu dengan kapal laut, dan di perjalanan harus sampai berbulan-bulan, maka sekarang ini dengan pesawat terbang, dari Indonesia hanya memerlukan waktu antara 9 hingga 10 jam saja. Jama'ah haji yang diberangkatkan dari wilayah Sumatera kira-kira hanya memerlukan waktu 8 jam. Bagi mereka yang berangkat dari airport yang berada di pulau Jawa, sekitar 9 jam, dan sedangkan mereka yang berangkat dari Indonesia Timur, Makassar misalnya, memerlukan waktu sekitar 10 hingga 11 jam.

Setelah transportasi itu semakin mudah, ternyata muncul hambatan lain, yaitu jumlah jama'ah semakin bertambah besar dan pemerintah Saudi Arabia tidak menambah kuota, bahkan selama ada kegiatan pembangunan di masjidil haram, dikurangi. Oleh sebab itu, siapa saja yang berkeinginan berhaji terpaksa harus antri hingga belasan dan bahkan, di daerah tertentu, sampai puluhan tahun dihitung dari waktu mendaftarnya. Orang naik haji tidak cukup hanya memiliki bekal berupa uang dalam jumlah besar dan kesehatan, tetap juga harus ditambah dengan adanya kesempatan. Mungkin saja seseorang memiliki uang, tetapi harus antri hingga puluhan tahun untuk memperoleh kesempatan itu.

Atas besarnya semangat berhaji itu, mungkin sementara orang akan bertanya, yaitu apa sebenarnya yang mendorong mereka berhaji. Memang pergi haji, hukumnya wajib, tetapi hanyalah bagi mereka yang mampu. Sedangkan orang yang tidak mampu, maka kewajiban itu akan gugur dengan sendirinya. Sedangkan bagi mereka yang tidak mampu, sebenarnya tidak perlu memaksa diri, misalnya harus dengan berhutang atau meminjam yang akan memberatkan dirinya.

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin saja beranaka ragam. Mungkin saja mereka berhaji dengan maksud untuk memperbaiki diri agar mendapatkan petunjuk atau hidayah setelah berada di tanah suci, untuk memenuhi kewajiban, sebagai cara beradaptasi dengan lingkungan, atau atas kesadaran mendalam bahwa kewajiban itu harus ditunaikan sekalipun sekali seumur hidup. Tentu berbagai kekuatan yang memotoivasi ibadah itu pada masing-masing orang tidak sama. Akan tetapi apapun, niat memenuhi panggilan Tuhan dengan ikhlas dan sabar adalah yang paling utama.

Berhaji dengan niat yang teguh, yaitu memenuhi panggilan Tuhan adalah merupakan hal yang tepat. Berhaji tidak boleh dilakukan sekedar beralasan bahwa saudara dan atau orang tuanya sudah berhaji, tetangga dan atasannya sudah berhaji, atau bahkan agar disebut sebagai orang yang taat dalam menjalankan agama. Islam memberikan tuntunan bahwa semua perbuatan menjadi bermuatan ibadah tatkala dijalankan sesuai dengan petunjuknya dan dilakukan dengan ikhlas dan sabar. Jika semangat berhaji itu dibarengi dengan suasana batin dimaksud maka, insya Allah akan mabrur dan membawa berkah, dan begitu pula sebaliknya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up