Suara Hati Nurani
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 27 September 2015 . in Dosen . 17049 views

Pada kenyataannya setiap orang berbeda-beda, baik dari suku, bangsa, tanah kelahiran, adat istiadat, bahasa, dan bahkan juga agamanya. Akan tetapi di atas perbedaan itu, semua orang ternyata memiliki kesamaan, yaitu memiliki suara hati nurani yang sama. Hal demikian itu oleh karena, semuanya merupakan ciptaan Allah, atau makhluk Allah.

Atas perbedaan tersebut, mereka melakukan persaingan, berkompetisi, berebut, konflik, dan bahkan juga saling berusaha menguasai satu sama lain. Tuhan tidak menyuruh di antara yang berbeda itu untuk saling menguasai, dan apalagi menghancurkan, melainkan diperintahkan agar saling mengenal, memahami, menghargai, menyayangi, dan saling bertolong-menolong.

Sebagaimana yang bisa dibaca di dalam al Qur'an, manusia dianjurkan agar saling berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Perlombaan itu tidak mengenal finish, oleh karena jelas bahwa perlombaan itu adalah tentang kebaikan yang tidak mengenal akhir. Perlombaan itu hendaknya dilakukan sepanjang waktu, dan selama yang bersangkutan masih hidup.

Namun anehnya, dalam kehidupan sosial, manusia di mana-mana bukan berlomba tentang kebaikan, melainkan berebut kemenangan atas harta, kekuasaan, popularitas, pengaruh, dan lain-lain. Memperoleh kemenangan tentang hal tersebut di atas dipahami seolah-olah juga sebagai perintah agamanya. Tatkala mereka mendapatkan kemenangan dan sebaliknya, yaitu berhasil mengalahkan orang atau pihak lain, maka dianggapnya sukses. Padahal Islam sebenarnya tidak demikian itu. Islam membimbng agar saling mengajak kepada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.

Suara hati nurani selalu tidak akan mau mengalahkan, merendahkan, atau palagi menghancurfkan orang lain. Hati nurami selalu mengajak pada kebaikan, kejujuran, dan keadilan, saling menyayangi di antara sesama. Selain tu, hati nurani selalu berpihak kepada kebenaran, kejujuran, berbuat baik terhadap siapapun. Lagi pula, hati nurani tidak pernah mau berbohong. Oleh karena itu, tatkala orang sedang melakukan kebohongan, mencuri, merampok, korupsi, dan sejenisnya, sebenarnya hal itu tidak diinginkan oleh nuraninya sendiri.

Hati nurani tidak mau diajak untuk berbuat apa saja yang sekiranya dianggap merugikan, atau mengganggu orang lain. Namun oleh karena pada diri manusia selalu digoda oleh setan, jin dan atau iblis, dan bahkan juga oleh sesama manusia sendiri, maka suara hati nurani bisa kalah. Godaan itu tidak terbatas dialami orang tertentu, misalnya kepada orang yang tidak mengenal al Qur'an dan hadits, tetapi juga kepada orang-orang yang yang sehari-hari membaca kitab suci, kepada orang yang berada di sekitar masjid, kepada orang yang pada setiap waktu menjalankan shalat, menunaikan zakat, puasa dan juga kepada orang yang telah menjalankan ibadah haji.

Sebagaimana hati nurani, panca indera, yaitu mata, hidung, pendengaran, pengecap, dan peraba juga selalu jujur. Mata tidak pernah berbohong, apa saja yang dilihat dilaporkan apa adanya kepada hati. Sesuatu yang tampak putih dikatakan oleh mata putih, yang merah dikatakan merah, yang hijau dikatakan hijau, dan bahkan ketika mata tidak bisa melihat, maka ia juga mengaku tidak melihat. Demikian pula hidung, juga akan melaporkan tentang hasil tugasnya apa adanya. Jika mencium sesuatu berbau busuk, dilaporkan busuh, yang wangi juga disebut wangi, dan seterusnya, persis apa adanya.

Sementara itu yang berbohong bukan panca indera dan apalagi hati nurani atau ruh yang ditiupkan oleh Tuhan pada setiap diri manusia, tetapi adalah hati manusia yang sedang rusak, kotor dan sakit. Setiap orang berpotensi memiliki hati yang kotor itu. Hati yang rusak atau kotor mendorong orang melakukan permusuhan, perusakan, memutus tali sillaturrahmi, berkeinginan menguasai atau memonopoli apa saja hingga mengakibatkan orang lain merugi, menderita, celaka, dan seterusnya. Itulah sebabnya, tatkala seseorang melakukan kesalahan, kekeliruan, atau durhaka, maka diingatkan agar segera kembali pada hati nurani. Ternyata suara hati nurani itu selalu sejalan dengan kitab suci, al Qur'an. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up