Adaptasi Pesantren Terhadap Tuntutan Masyarakat
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 21 Oktober 2015 . in Dosen . 1784 views

Jika perguruan tinggi Islam negeri yang berupa sekolah tinggi dan institut berubah menjadi universitas, maka pendidikan pedsantren pun juga banyak yang telah mengalami perubahan. Pesantren salaf yang hanya mengajarkan kitab kuning dengan sorogan, wekton dan bandongan sudah semakin sedikit jumlahnya. Banyak pesantren salaf sudah melengkapi dengan sekolah formal, misalnya madrasah dan atau sekolah.

Perubahan yang amat mendasar itu biasanya dilakukan atas alasan yang bersifat praktis, yaitu sebagai upaya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dahulu orang belajar ke pesantren agar bisa mengaji, tetapi sekarang kebutuhan itu sudah meningkat atau bertambah, yaitu agar mendapatkan ijazah sebagai syarat untuk meneruskan pendidikan atau untuk melamar pekerjaan. Bagi pesantren yang tetap bertahan dengan sistem salaf, kebayakan akan menanggung resiko, yaitu jumlah santrinya semakin menurun.

Di beberapa tempat, perubahan itu tidak tangung-tanggung dan akhirnya menjadi bentuk pendidikan yang ideal. Disebut tidak tanggung-tanggung oleh karena lembaga itu tidak sekedar berubah ala kadarnya, tetapi juga menyesuaikan dengan tuntutan kualitas yang diharapkan oleh masyarakat. Tidak sedikit di antara mereka mengemas model pendidikannya dengan memadukan antara sekolah atau madrasah dengan pesantren. Jika pada akhir-akhir ini, sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan, mulai populer sebutan boarding school, maka pesantren sudah lebih dahulu mengimplementasikan konsep itu.

Pesantren pada hakekatnya adalah lembaga pendidikan berasrama. Oleh karena itu tatkala muncul konsep boarding school, maka adaptasi pesantren, dalam hal-hal tertentu, tampak amat mudah. Untuk mengimplementasikan konsep tersebut, pesantren tidak perlu kebingungan mengisi kegiatan para siswa selama bertempat tinggal di asrama itu. Pesantren telah terbiasa memberikan bimbingan terhadap para siswa selama berada di asrama, mulai dari kegiatan yang bernuansa spiritual, sosial, hingga yang berkaitan dengan akademik. Hal yang masih harus disesuaikan oleh pesantren dalam memodernkan pendidikkan hanya terkait dengan pengembangan mata pelajaran umum.

Usaha-usaha beradaptasi yang dilakukan oleh pesantren ternyata tidak sedikit yang berhasil. Pesantren salaf telah mengembangkan sekolah umum baik yang berupa madrasah ataupun sekolah, seperti SMP, SMA, atau juga SMK. Seringkali saya menemukan lembaga pendidikan formal di pesantren tampak berkembang pesat. Pendidikan boarding school sebagai pengembangan tradisi pesantren, tidak banyak mengalami kesulitan. Itulah sebabnya, adaptasi dimaksudkan itu juga berhasil menambah kepercayaan masyarakat dengan bukti bahwa jumlah peminat masuk pesantren semakin bertambah besar.

Manakala keberhasilan yang dimaksudkan itu bisa dipertahankan dan bahkan dikembangkan, maka sangat mungkin lembaga pendidikan pesantren akan memiliki keunggulan tersendiri. Sebagai lembaga pendidikan yang relatif memiliki kebebasan untuk melakukan kreatifitas, maka dari pesantren sangat mungkin justru akan berkembang hal-hal baru yang tidak mudah diraih oleh jenis lembaga pendidikan lainnya, termasuk lembaga pendidikan yang bestatus negeri. Dengan demikian, hari santri nasional, yang idenya muncul dari pesantren, akan semakin memperkukuh lembaga pendidikan tradisional, namun telah berhasil melakukan adaptasi atau perubahan yang dimaksudkan itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up