Agar Hubungan Antar Sesama Terjalin Kokoh
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 9 Oktober 2015 . in Dosen . 9531 views

Jika diperhatikan secara saksama, hubungan antar manusia itu memiliki motif atau tujuan yang berbeda-beda. Hubungan itu ada kalanya saling menguntungkan atau mendatangkan manfaat, tetapi juga sebaliknya, ialah saling merugikan. Hubungan yang mendatangkan manfaat misalnya adalah hubungan yang bersifat saling tolong menolong, saling bekerjasama, hubungan ekonomi, politik, sosial, dan semacamnya.

Sedangkan hubungan yang mendatangkan kerugian atau kemudharatan terutama dilihat dari sudut pandang kemanusiaan misalnya, adalah pertengkaran atau konflik, saling menindas, saling akal mengakali, jajah menjajah, saling menghegemonik, mengkooptasi, dan lain-lain. Hubungan yang sebenarnya merugikan seperti disebutkan itu ternyata selalu ada pada setiap zaman. Sementara orang mengira bahwa masyarakat modern, hubungan yang nyata-nyata merugikan itu akan semakin hilang. Namun pada kenyataannya tidak demikian itu.

Hubungan antar manusia pasti mendatangkan manfaat tatkala tumbuh dan berkembang atas dorongan atau didasari oleh kekuatan hati nurani. Hubungan antara suami dan isteri, antara orang tua dengan anaknya, guru dengan murid, kyai dan santri, dan sejenisnya, maka akan melahirkan kedamaian dan tidak mudah putus. Sebaliknya, hubungan yang dijalin atas dasar kepentingan atau hitungan akal atau logika, maka biasanya tidak terlalu kokoh. Hubungan yang demikian itu jika masing-masing masih merasa memperoleh keuntungan akan bertahan. namum jika tidak diperolehnya lagi maka akan segera putus.

Hubungan yang didasarkan atas kasih sayang atau hati nurani misalnya adalah antara orang tua dan anak, suami dan isteri, kakek atau nenek dengan para cucu-cucunya, guru dengan murid, kyai dan para santrinya, dan seterusnya, maka akan kokoh dan biasanya bertahan lebih lama. Hubungan yang dijalin oleh kasih sayang, antara masing-masing pihak bukan saja dibangun atas dasar suka rela atau tanpa memperhitungkan untung rugi, tetapi lebih dari itu, antar keduanya juga bersedia berkorban. Kakekk atau nenek mau berkorban berupa apapun demi untuk kepentingan cucu-cucunya. Demikian pula seorang suami mau melakukan apa saja untuk memenuhi keinginan isterinya. Hubungan yang diikat oleh tali kasih sayang juga tampak indah.

Berbeda dengan hal tersebut adalah hubungan yang mendasarkan pada rasionalitas bekala, maka biasanya tidak bertahan lama. Jika kepentingan untuk memperoleh keuntungan atau hubungan yang bersifat transaksional tidak lagi didapat, maka biasanya akan segera putus. Contoh tentang hal itu sedemikian mudah didapat dalam kehidupan sehari-hari. Antar kelompok atau antar orang yang semula selalu bersama-sama dalam berbagai kegiatan politik, ekonomi, atau apa saja yang bersifat transaksional itu, ternyata tidak lama kemudian berpisah, dan bahkan berakhir di meja hijau. Di antara mereka menjadi saling gugat menggugat.

Namun kedua jenis hubungan dimaksud di dunia yang semakin modern seperti sekarang ini, ternyata ada saja yang semakin tidak jelas. Tampaknya hubungan dimaksud terkesan dijalin atas dasar kasih sayang dan bersifat nuraniah, tetapi pada kenyataannya tidak demikian itu. Seseorang pada suatu waktu menampakkan sedemikian dermawannya. Banyak panti asuhan anak yatim, lembaga pendidikan, pondok pesantren, tempat ibadah, dan lain-lain diberi bantuan. Seolah-olah hubungan antara orang yang membantu dan mereka yang dibantu terjalin atas dasar kasih sayang, namun ternyata orang yang membantu dimaksud bertujuan agar diberikan dukungan politik. Kata pepatah ada udang di balik batu. Hubungan yang demikian itu biasanya juga tidak bertahan lama, bahkan jika kemauannya tidak terpenuhi, justru melahirkan konflik.

Sedangkan hubungan yang jelas mendatangkan mudharat atau merugikan sebagaimana dikemukakan di muka adalah saling akal mengakali, tindas menindas, jajah menjajah, dan semacamnya, Hubungan yang demikian itu harus dihilangkan. Baik adat istiadat, peraturan, undang-undang, tatakrama, dan apalagi agama tidak membolehkan hal demikian itu dipelihara atau kembangkan. Hubungan antar orang harus bisa menguntungkan semua pihak. Selanjutnya, hubungan dalam bidang apapun, ---pendidikan, sosial, organisasi, dan lain-lain, agar menjadi bertahan lama, kokoh, dan produktif, maka harus diikat oleh jiwa kasih sayang. Sebagai contoh sederhana, di kantor saja misalnya, tatkala antara atasan dan bawahan, ikatannya tidak bersifat formal dan birokratis, melainkan terdapat nuansa kasih sayang, maka kantor dimaksud akan menjadi hidup, menyenangkan, dan produktif. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up