Suatu saat ketika sedang berada di rumah, saya kedatangan dua orang dengan maksud bersilaturrahmi. Seorang di antaranya sehari-hari bekerja sebagai anggota DPRD, dan seorang lagi sebagai Kepala Desa merangkap sebagai pengusaha. Kedua orang dimaksud sudah sering datang ke rumah, tentu setelah janji terlebih dahulu. Keduanya mengerti bahwa setiap ke rumah harus tilpun terlebih dahulu, khawatir saya sedang bepergian.
Dalam perbincangan itu, satu di antaranya mengajukan pertanyaan sederhana, tetapi menurut hemat saya memang perlu didiskusikan. Dia menanyakan tentang bagaimana seharusnya hidup ini dihadapi agar menjadi tenteram, berkecukupan, dan damai. Persoalan ini sederhana, tetapi sebenarnya tidak mudah diraih oleh setiap orang.
Persoalan tersebut menjadi tidak sederhana, karena tidak saja menyangkut kehidupan lahir tetapi juga batin. Tenteram dan damai adalah menyangkut rasa, hingga sangat subyektif sifatnya. Rasa tenteram tidak bisa diukur dari jumlah kepemilikan yang ada padanya. Tidak selalu orang yang kaya raya dan apa saja yang diinginkan bisa dipenuhi, dapat dipastikan bahwa hatinya selalu tenteram dan damai.
Sebaliknya, ada orang yang sebenarnya hidupnya biasa-biasa saja, rezeki tidak berlebih, yaitu sekedar cukup, tetapi kehidupannya tampak tenteram dan damai. Persoalan selalu datang, tetapi juga bisa diselesaikan. Sekalipun hidupnya sederhana, namun tidak terlalu kelihatan berambisi mengejar sesuatu yang berlebih-lebihan. Dengan begitu, maka hidupnya menjadi damai dan tenteram.
Memperhatikan kenyataan seperti itu, tamu yang sehari-hari sebagai angota DPRD tersebut menanyakan, bagaimana sebenarnya hidup yang tepat, agar tenteram, berkecukupan dan damai itu. Jawaban itu tentu tidak tunggal, tergantung masing-masing orang. Setiap orang memiliki pandangan hidup, cita-cita, dan kehendak yang berbeda. Perbedaan tersebut akan berpengaruh terhadap pilihan hidupnya masing-masing.
Menjawab persoalan tersebut sebenarnya sangat tergantung dari pilihan hidupnya. Dalam kehidupan ini terbentang berbagai pilihan, misalnya ada yang menggeluti bidang politik, bertani, pedagang, guru, seniman, ilmuwan, broker, atau lainnya. Masing-masing peran itu tentu menuntut cara pandang, pola pikir, dan atau mindset yang berbeda-beda. Manakala pilihan hidup itu telah berfokus pada bidang tertentu dan dijalaninya semaksimal mungkin, maka akan diperoleh ketenteraman, kecukupan, dan kedamaian yang diharapkan itu.
Sebagai petani misalnya, maka pikirannya harus menyesuaikan dengan petani pada umumnya. Sebagai seorang petani, maka sehari-hari pekerjaannya adalah merawat tanamannya. Sebagai guru atau dosen, maka yang dikerjakan dan dicita-citakan adalah mendidik dan berhasil mengantarkan para siswa dan atau mahasiswanya menjadi pintar dan berbudi pekerti luhur. Demikian pula, sebagai pedagang, mereka selalu berusaha memperoleh dagangan dan kemudian menjual kembali agar memperoleh untung sebanyak-banyaknya, dan tentu seterusnya.
Semua jenis pekerjaan tersebut akan mendatangkan kebahagiaan dan tentu terdapat resikonya yang berbeda-beda. Seorang petani akan merasakan kebahagiaan manakala hasil panennya sukses dan bahkan berlebih. Seorang guru akan merasa bahagia ketika melihat muridnya tampak cerdas dan bisa menempatkan diri dalam pergaulan sehari-hari. Berbeda hal tersebut dengan pedagang. Mereka akan mendapatkan kebahagiaan jika segera memperfoleh dagangan dan segera berhasil menjualnya kembali dengan untung besar.
Kebahagiaan itu ternyata terletak pada keberhasilan sesuai dengan bidang pekerjaannya masing-masing. Sukses petani berbeda dengan suksesnya guru, dan berbeda pula dengan suksesnya pedagang, nelayan, seniman, dan lain-lain. Semua pilihan itu ada resikonya. Sebagai seorang guru misalnya, gajinya pasti terbatas jumlahnya namun bersifat rutin. Hal itu berbeda dari pedagang. Pendapatan pedagang tidak selalu pasti. Kadang besar, kadang sedang, dan pada saat lain bisa merugi.
Manakala pilihan hidup itu benar-benar dihayati, dan dikerjakan secara maksimal atau terbaik sebagai amanah yang dibebankan kepadanya, maka apapun pekerjaan dan berapapun pendapatan yang dikterima akan mendatangkan ketentaraman, kecukupan dan kedamaian. Hal yang biasanya mendatangkan persoalan hingga melahirkan kegelisahan adalah manakala seseorang menyimpang dari adat atau logika pilihan hidup yang berbeda-beda itu. Seorang guru misalnya, ingin menyamai pedagang, politikus, broker, atau lainnya, maka akan menjadikan batinnya tidak tenang.
Ketenteraman, kecukupan, dan kedamaian itu berada di hati. Manakala seseorang telah menunaikan amanah sebaik-baiknya, menghasiklkan sesuatu yang terbaik, dan kemudian disyukujri, maka sebenarnya apa yang diinginkan itu telah diraih. Mereka akan tenang hidupnya. Akan tetapi sebaliknya, jika seseorang selalu berharap mendapatkan sesuatu yang tidak jelas atau tidak semestinya, maka hingga kapan pun ketenteraman, kecukupan, dan kedamaian tidak akan berhasil dirasakan. Hidup memang pilihan, dan masing-masing pilihan itu pasti ada konsekuensi atau resikonya. Wallahu a'lam



