Ketiga bagian tubuh manusia yang disebut dalam judul tulisan ini digunakan untuk memperoleh informasi. Mata digunakan untuk melihat, telinga digunakan untuk mendengarkan, dan demikian pula hati digunakan untuk merasakan sesuatu. Dua di antara piranti dimaksud, yaitu telinga dan mata jangkauannya terbatas. Mata hanya bisa digunakan untuk melihat dalam jarak beberapa kilometer saja. Itu pun jika tidak terhalang oleh awan, kabut, asap, atau benda lainnya.
Demikian pula telinga, hanya mampu digunakan untuk mendengarkan suara yang datang dari jarak beberapa meter saja, kecuali dibantiu oleh alat modern, misalnya pengeras suara, tilpun, atau sejenisnya. Mata atau telinga tidak bisa menangkap informasi atau kejadian yang telah berlansgung lama, kecuali lagi-lagi melalui dokumentasi rekaman. Kekuatan mata dan telinga amat terbatas.
Berbeda dengan mata dan telinga adalah hati. Hati yang sehat memiliki kemampuan untuk menangkap dan merekam informasi dalam jangkauan dan waktu yang tidak terbatas. Seseorang yang ditinggal mati oleh orang tanya dalam waktu yang sudah amat lama, ternyata masih mampu mengingat, membayangkan, dan merasakannya. Demikian pula hati yang sehat, juga bisa menjangkau jarak yang tidak terbatas.
Apa yang pernah dialami dan dirasakan oleh seseorang di tempat yang amat jauh dan atau dalam waktu yang amat lama, masih bisa direkam dan disimpan di dalam hati. :Peristiwa atau kejadian dimaksud sewaktu-waktu masih bisa diingat atau diungkap kembali sekalipun tanpa alat bantu. Demikian itulah kemampuan hati adalah melebihi kemampuan panca indera.
Atas kemampuan menjangkau yang tidak terbatas itu, maka setiap orang yang menjalankan shalat dan sedang berada di mana saja, maka diharapkan menghadirkan hati atau ruhnya di dalam Baitullah. Ketika sedang shalat, jasmaninya berada di mana saja, misalnya di masjid di Indonesia, di Malaysia, di Kanada, atau di mana pun, tetapi ruh atau hati yang bersangkutan hendaknya seolah-olah berada di Baitullah itu. Dengan cara itu, maka shalat akan menjadi lebih khusu'.
Hati yang bersih, sehat, dan suci bisa menangkap sesuatu, baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh mata pada umumnya. Selain itu hati juga bisa menangkap kejadian atau peristiwa yang telah lama dan atau berada di tempat yang jauh. Hati yang berkemampuan seperti itu adalah hati yang bersih, sehat, dan suci. Oleh karena itu, hati harus dirawat atau dipelihara, agar tidak sakit dan apalagi mati. Orang yang hatinya sakit dan apalagi mati, maka apa saja menjadi terasa buruk, salah, dan dianggap mengganggu.
Sebaliknya, orang yang hatinya sehat, bersih, dan suci, tatkala menemukan hal yang kurang baik, maka akan segera diperbaiki, yang lemah diperkuat, yang bermasalah akan segera diselesaikan. Demikian pula sesuatu yang kotor akan dibersihkan, dan seterusnya. Orang yang hatinya sakit atau kotor, maka di mana-mana akan selalu membuat kerusakan.
Bagi orang yang berhati sakit dan atau mati, maka tatkala menemukan sesuatu yang sebenarnya baik akan diubah menjadi jelek, yang lengkap dikurangi, dan bahkan sekalipun bukan miliknya akan diambil. Para koruptor sebenarnya adalah orang yang hatinya sedang sakit, dan atau bahkan mati. Maka, hati harus selalu dirawat dan dijaga. Menjaganya tidak ada lain kecuali dengan agama yang selalu dijadikan pegangan dan dijalankannya. Wallahu a'lam.



