Oleh karena rumah saya berdekatan dengan sawah, saya beruntung sekali-kali bisa bergaul dengan penggembala bebek dan dari pergaulan itu mendapatkan informasi menarik. Bebek katanya, memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap suasana lingkungannya. Pada setiap ada disharmoni di lingkungan keluarga penggembala ternak itu, maka dapat dipastikan jumlah telor yang dihasilkan menurun. Oleh karena itu, semua anggota keluarga selalu berusaha untuk menghindari cek-cok yang tidak perlu. Khawatir jumlah telor yang dihasilkan menurun. Jumlah telor yang dihasilkan pada setiap hari menjadi salah satu penyangga kehidupan mereka sehari-hari.
Bebek saja ternyata terpengaruh dari keadaan lingkungan rumah tangga pemiliknya. Maka, sangat bisa dimengerti manakala alam sekitar juga terpengaruh dipengaruhi oleh suaasana hati para penduduk yang menempati di lingkungan itu. Suasana hati yang damai tidak saja penting bagi masing-masing individu setiap orang melainkan juga komunitas yang lebih luas. Kedamaian itu ternyata akan berpengaruh pada semua makhluk yang ada di tempat itu, baik orang-orangnya, pepohonan, binatang, dan bahkan juga tanah yang ditempatinya.
Pandangan tersebut mungkin saja oleh sementara orang dikatakan tidak masuk akal atau disebut irrasional. Tetapi hal tersebut tidak perlu dibantah, oleh karena sama-sama tidak tahu pandangan mana yang paling benar. Tidak semua orang menyadari bahwa dalam kehidupan ini banyak kejadian yang tidak masuk di akal. Bahkan, keberadaan atau keadaan dirinya sendiri saja sebenarnya juga tidak masuk akal pula. Mereka mengkonsumsi makanan yang sama baik jenis dan jumlahnya, tetapi keadaan tubuhnya berbeda. Yang satu kurus sementara yang lain gemuk dan tinggi besar.
Semua pihak menghendaki kedamaian, tidak saja manusianya tetapi juga alam yang ada di lingkungan itu. Manakala pihak-pihak tertentu ada yang merasa sedih, atau hatinya galau dan apalagi merasa tersakiti atau terdholimi, maka alam sekelilingnya juga berontak. Jika bebek saja ketika pemiliknya konflik, tidak bertelor, maka apalagi tatkala ada manusia yang merasa diperlakukan secara tidak adil, maka wajar jika dikatakan bahwa alam juga akan mengamuk, bentuknya musibah yang tidak diperkirakan datangnya.
Jika sekarang ini terjadi gejala alam yang agaknya beda dari biasanya, misalnya kemarau terlalu panjang, banyak gunung meletus, hutan terbakar hingga mengakibatkan asap tebal yang tidak bisa dikendalikan, dan lain-lain, maka sebenarnya tidak ada salahnya segera berinteropeksi mempertanyakan perilaku apa yang salah hingga mengakibatkan orang merasa teraniaya. Perlu diingat bahwa sekitar sepuluh tahun yang lewat juga terjadi hal serupa. Pada saat itu terjadi sunami di aceh, kemudian gempa di Pulau Nias, gempa di Yogyakarta, obak air laut tidak sebagaimana biasanya, berbagai penyakit yang mematikan muncul di mana-mana dan disambung dengan konflik di berbagai daerah.
Orang yang hanya mengandalkan akalnya akan mengatakan bahwa peristiwa tersebut hanyalah gejala alam biasa, dan tidak terkait dengan perilaku manusia. Terbangunnya pikiran seperti itu seolah-olah mereka mengetahui segala-galanya, termasuk juga rahasia kejadian. Padahal, siapapun, termasuk orang yang selalu mengandalkan akalnya, jangankan pengetahuan tentang alam, sementara itu pengetahuan tentang dirinya sendiri saja tidak seberapa yang dimiliki. Mereka itu tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, dan apalagi rahasia Tuhan yang sedemikian tidak mudah dipahami.
Setiap muncul kejadian yang aneh atau yang tidak biasa, saya selalu bertanya, bahwa barangkali ada makhlkuk atau bahkan manusia yang diperlakukan secara tidak adil dan atau berlebihan. Dalam menjalani hidup ini, menurut ajaran agama, tidak boleh memperlakukan siapapun dengan cara tidak adil dan atau berlebihan itu. Orang yang diperlakukan tidak adil atau teraniaya, maka doanya akan didengarkan oleh Pemilik Jagad Raya ini. Dunia ini diciptakan dalam keadaan baik, maka siapapun yang menghuninya harus berperilaku baik dan tidak merugikan siapapun.
Berangkat dari pandangan sederhana tersebut, maka kiranya perlu secara bersama-sama bertanya dan juga merenung, bahwa jangan-jangan banyaknya orang yang teraniaya yang sebenarnya mereka tidak merasa salah, tetapi diperlakukan secara tidak adil dan berlebih-lebihan, berpengaruh pada lingkungan yang lebih luas. Misalnya, sejak beberapa tahun terakhir, banyak orang yang merasa diperlakukan secara aniaya dan tidak adil. Banyak orang diadili dan dipenjara, sementara itu mereka mengetahui bahwa banyak orang lain yang justru benar-benar melakukan kesalahan yang lebih besar tetapi masih aman. Keadaan itulah yang menjadikan muncul rasa ketidak-adilan.
Perasaan tidak adil tumbuh dengan mudah oleh karena penyimpangan selama ini dilakukan oleh hampir semua orang, termasuk pejabat atau penguasa dan bahkan juga oleh orang-orang yang terkait dengan kekuasaan itu. Mereka melakukan kolusi atau nepotisme untuk mendapatkan keuntungan bersama-sama. Sebagai contoh kecil, kasus yang terjadi baru-baru ini terkait dengan ekploitasi pasir di Lumajang, ternyata banyak pihak yang terlibat. Kasus seperti itu, jika diteliti secara saksama, sangat mungkin juga terjadi di mana-mana. Belum lagi, di penjara sendiri, kabarnya juga banyak penyimpangan, mulai dari suap menyuap, hingga jual beli narkoba.
Keadilan dalam kehidupan menjadi kebutuhan bagi semua orang. Orang yang tidak diperlakukan secara adil maka hatinya akan sakit luar biasa. Oleh karena itu, Islam melarang memperlakukan secara tidak adil dan aniaya terhadap siapapun. Orang yang diperlakukan secara tidak adil ternyata semakin dekat pada Tuhan. Doa mereka itu didengar dan dikabulkan. Maka, banyaknya musibah hingga di antara masyarakat memaknai bahwa hal itu terjadi karena banyaknya orang yang diperlalkukan secara tidak adil dan aniaya, sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Bebek saja terpengaruh oleh disharmoni pemiliknya, maka apalagi suasana batin manusia, maka sangat wajar berpengaruh terhadap lingkungannya. Dan, menjaga hati siapapun, sebenarnya adalah niscaya. Wallahu a'lam.



