Mempertanyakan Siapa Orang Nakal Itu
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 30 Oktober 2015 . in Dosen . 4229 views

Kadang sedemikian mudah, kita menghakimi seseorang sebagai orang nakal dan harus dihukum. Sebaliknya, kita sendiri mengklaim sebagai orang baik, jujur, adil dan selalu berbuat kebaikan. Atas dasar pandangan seperti itu, maka kita mengkategorikan banyak orang menjadi orang nakal, sedang-sedang saja, dan orang baik.

Kategori tersebut mungkin saja benar. Di dalam kehidupan masyarakat memang ada saja orang baik, sedang-sedang saja, dan ada orang jahat. Akan tetapi apakah kategorisasi tersebut bersifat tetap atau berubah-ubah. Artinya apakah ada konsistensi perilaku seseorang, sehingga mereka yang tergolong baik tetap baik, sementara itu yang jelek atau jahat selamanya tetap jahat.

Pada kenyataannya, jika diamati secara saksama, tidak demikian itu yang terjadi. Pada diri seseorang selalu ada unsur-unsur kebaikan dan sekaligus sebaliknya, terdapat unsur kejahatannya. Manusia selalu tidak sempurna. Maka, itulah sebabnya, dalam kehidupan ini setiap orang diharapkan selalu berusaha menyempurnakan dirinya.

Keimanan saja juga selalu berubah-ubah. Kadangkala, iman itu semakin bertambah atau semakin kuat, akan tetapi pada saat yang lain menjadi berkurang. Begitu pula watak seseorang. Suatu saat kelihatan baik, tetapi pada saat yang lain menunjukkan sebaliknya. Pada suatu saat seseorang kelihatan adil dan jujur, namun pada saat lainnya sifat yang mulia itu berubah total.

Dalam pentas kehidupan sehari-hari, seseorang pada awalnya kelihatan sedemikian baik, bijak, jujur, memiliki kepedulian sosial yang amat tinggi, sehingga dipercaya untuk menjadi pemimpinnya. Pada awalnya, kesan dan harapan masyarakat terasa tidak keliru. Namun, setelah berjalan beberapa lama, karakter mulia itu ternyata berubah. Sifat-sifat mulia yang disandangnya, setelah menduduki posisi sebagai pemimpin, ternyata hilang, berubah menjadi sebaliknya. Watak dasar aslinya setelah menduduki posisi penting, sebagai seorang pemimpin, ternyata muncul kembali.

Gambarkan tersebut ternyata dialami oleh banyak pemimpin pada berbagai bidang dan juga tingkatan. Seorang pemimpin pemerintahan atau negara semula dianggap baik, bijak, adil, dan berintegritas tinggi namun ternyata pada akhir masa jabatannya dianggap telah melakukan banyak penyimpangan. Pemimpin dimaksud dianggap banyak merugikan rakyat atau mereka yang dipimpinnya. Disebutkan bahwa orang tersebut sangat kontradiktif antara di awal dan di akhir kepemimpinannya.

Hal demikian tersebut sebenarnya adalah bukan sesuatu yang aneh. Sebab pada diri seseorang selalu saja terdapat potensi berbuat baik dan sekaligus juga potensi berbuat jahat. Kebaikan dan kejahatan selalu saja ada pada diri seseorang. Atau, nafsu untuk berbuat baik dan nafsu berbuat jahat, selalu ada pada siapapun. Pada diri setiap orang, termasuk para pemimpin, selalu ada keimanan, kemunafikan, dan bahkan juga kekufuran.

Atas dasar pemahaman tersebut maka seyogyanya bagi siapapun tidak boleh bersikap berlebih-lebihan pada seseorang. Siapapun sangat mungkin berubah-ubah karakternya, yaitu dari sangat baik menjadi sebaliknya sangat buruk. Itulah sebabnya, siapapun dianjurkan agar selalu memohon petunjuk atau hidayah kepada Dzat Yang Maha Kuasa, dan berdoa agar khusnul khotimah. Selain itu, orang nakal bisa dialami oleh siapapun tanpa memandang asal muasal, jabatan, dan bahkan juga tingkat pendidikannya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up