Menunggu Organisasi Tanpa Konflik
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 31 Oktober 2015 . in Dosen . 2072 views

Tanpa disebut secara eksplisit, semua orang sudah tahu bahwa hampir semua organisasi, baik organisasi politik, social, dan bahkan keagamaan terdengar pernah terjadi konflik. Bahkan, sebagian konflik itu hingga sekarang ini masih berlangsung. Padahal dengan terjadinya konflik, maka aktifitas orgnaisasi pasti terganggu. Agenda organisasi tidak bisa berjalan normal, dan bahkan potensi yang ada akan terkuras habis untuk mengurus internal organisasinya.

Akibat sedemikian seringnya konflik di kalangan organisasi, maka ketika ada konflik dianggap sebagai hal biasa. Justru yang luar biasa adalahketika organisasi tidak mengalami konflik. Adanya konflik dianggap sebagai pertanda bahwa organisasi itu masih hidup. Sebaliknya, jika tidak ada konflik maka organisasi dimaksud dianggap tidak ada dinamika, dan juga tidak hidup. Maka konflik dianggap sebagai cirri khas atau sesuatu yang lazim atau biasa terjadi pada setiap organisasi.

Setiap organisasi selalu ingin memperjuangkan sesuatu. Dalam berjuang itu pasti ada pilihan-pilihan strategi, prioritas, personal, dan juga lainnya. Tatkala menghadapi pilihan-pilihan itulah maka terjadi perbedaan yang kemudian melahirkan konflik. Oleh karena itu, memang benar, bahwa konflik sepanjang dimaksudkan untuk meraih tujuan yang terbaik, maka tidak perlu dikhawatirkan. Akan tetapi jika konflik itu sekedar berebut tempat, posisi, dan apalagi fasilitas, maka seharusnya dihindari. Namun, hal yang perlu dipertanyakan adalah, berbagai konflik dalam organisasi politik, social, dan keagamaan pada akhir-akhir ini sebenarnya apa yang diperebutkan.

Umpama yang diperebutkan dalam berbagai konflik dimaksud adalah hal yang bersifat mendasar yaitu bersifat idiologis dan strategis maka hal itu tidak mengapa. Tetapi jika yang diperebutkan hanya sebatas kursi, kedudukan, posisi, dan apalagi yang lebih rendah dari itu, misalnya menyangkut fasilitas, gengsi, dan atau kehormatan, maka hal itu patut disayangkan. Orang tidak perlu berorganisasi jika keterlibatannya itu hanya membuahkan konflik dan beresiko memutus tali sillaturahmi.

Pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan adalah, apakah mungkin organisasi bergerak tanpa konflik. Sudah barang tentu jawabnya adalah mungkin saja, ialah tatkala dalam menjalankan organisasi tidak saja mendasarkan pada pertimbangan akal, tetapi juga hati nurani. Sebaliknya, selama yang digunakan sebagai dasar gerakan di dalam organisasi hanyalah aturan, tata tertib, dan akal, maka mereka akan saling menyusun taktik dan strategi untuk meraih kemenangan dan keuntungan. Akhirnya, konfliklah yang selalu terjadi.

Berbeda halnya jika yang dikedepankan dalam organisasi itu adalah hati nurani. Hati nurani tidak pernah mau diajak berbohong, berkhianat, mencari menang dan keuntungannya sendiri, dan atau menyimpang dari kebenaran. Kecuali, adalah hati yang sakit dan apalagi mati. Orang yang berhati sehat, maka akan mengedepankan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Siapapun yang diperlakukan seperti itu maka akan menerima dengan tulus. Konflik tidak akan terjadi.

Namun sekarang ini, yang tampak dari luar, bahwa berorganisasi selalu dikaitkan dengan kepentingan yang sifatnya sempit dan bahkan lebih pribadi. Orang berusaha teribat pada organisasi agar mendapatkan keuntungan politik, pengaruh, dan juga lainnya. Jika demikian itu halnya, maka yang terjadi adalah persaingan, perebutan, konflik dan saling menjatuhkan. Dalam perebutan itu ada pihak yang kalah dan pihak menang. Mereka yang kalah akan berusaha merebut kemenangan dan juga yang menang akan selalu berusaha untuk bertahan, sehingga tidak ada selesainya. Maka, itulah sebabnya dalam organisasi selalu ada konflik dan berebut.

Organisasi yang di dalamnya tidak terjadi konflik, sebagaimana disebut di muka, adalah organisasi yang lebih digerakkan oleh hati nurani, digunakan untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Selain itu, organisasi dimaksud selalu diposisikan sebagai wahana untuk meningkatkan kualitas diri bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kualitas yang dimaksud itu adalah menyangkut berbagai aspek, yaitu spiritualitas, akhlak, ilmu, maupun profesionalitas.

Organisasi yang hanya kaya konflik dan apalagi tidak memberi apa-apa terhadap upaya peningkatan kualitas pribadi, maka akan dijauhi dan bahkan ditinggalkan oleh pendukungnya. Namun, jika dalam berorganisasi, orang berhail menemukan sesuatu yang dicari, yaitu ketenagan, kedamaian, dan kemuliaan, maka siapapun akan bertahan. Itulah organisasi yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh banyak orang, dan bukan organisasi yang sekedar kaya konflik. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up