Menyatukan banyak orang ternyata tidak pernah mudah. Perbedaan pendapat, buah pikiran, ide, dan kemauan selalu terjadi di mana-mana. Setiap muncul ide atau gagasan baru, maka akan segera muncul gagasan atau ide dari orang lain yang mengimbangi, dan bahkan mematahkannya. Jarang sekali gagasan seseorang segera diterima oleh orang lain kecuali yang datang dari seseorang yang menyandang otoritas atau kewibawaan.
Perbedaan tersebut tidak saja terjadi di antara banyak orang, melainkan juga pada diri seseorang. Setiap orang memiliki hati, ucapan, dan perbuatan. Ketiganya seharusnya menyatu. Apa yang terbetik di dalam hati seharusnya sama dengan apa yang diucapkan dan kemudian ditindak-lanjuti dalam perbuatan. Antara qolby (suara hati), qouly (ucapan), dan fi'ly (tindakan) seharunya sama atau menyatu. Tetapi pada kenyataannya, hal itu tidak mudah terjadi.
Tidak sedikit orang memiliki niat, keinginan, maksud yang sedemikian baik, tetapi hal tersebut tidak selalu berhasil dikemukkaan secara jelas melalui lisannya. Suara hati seseorang yang sebenarnya baik tersebut akhirnya tidak berhasil dimengerti oleh orang lain. Demikian pula, umpama suara hati itu bisa dikemukakan dengan jelas melalui lisannya sendiri, tetapi juga belum tentu bisa dijalankan secara sempurna. Maka, antara qolby, qouly, dan fi'ly tidak selalu berjalan seiring dan sejalan.
Orang yang tidak mampu menyatukan ketiga kekuatan yang ada pada dirinya sendiri tersebut dalam Islam disebut munafiq. Apa yang dikatakan tidak sama dengan suara hatinya. Begitu pula, apa yang dilakukan berbeda dengan apa yang diucapkan dan juga berbeda pula dengan suara hatinya. Bisa saja seseorang berniat untuk menjalankan shalat secara disiplin dan dilakukan di masjid berjama'ah. Namun pada saat tiba waktu sholat itu, sekalipun yang bersangkutan mendengarkan suara adzan, tatkala mau berangkat ke masjid, ternyata terasa berat dan akhirnya suara hatinya gagal dipenuhi.
Contoh sederhana lainnya, seorang mahasiswa bercita-cita atau suara hatinya menginginkan kelak menjadi seorang yang berprestasi di bidang akademik dari kampus pilihannya. Pada awalnya yang bersangkutan masih konsisten dengan suara hatinya itu. Bahkan, beberapa peralatan belajar yang diperlukan diusahakan untuk dipenuhi, misalnya buku-buku literatur, komputer, dan begitu pula tempat kost dipilih di antara yang tidak ada gangguan. Semua untuk meraih prestasi telah dipersiapkan dengan sempurna agar suara qolbunya terimplementasikan oleh perkataan dan perbuatannya. Akan tetapi belum lama kemudian, ternyata suara hati dan lisannya sendiri tidak mampu diwujudkan. Prestasi yang digambarkan tidak berhasil diraih.
Kegagalan menyatukan antara suara qolby, qouly, dan fi'ly seperti dimaksudkan itu tidak saja dialami oleh para siswa atau mahasiswa pada tingkat awal, tetapi juga oleh mahasiswa tingkat lanjut, misalnya program Doktor dan bahkan juga para dosen atau guru besar sekalipun. Lebih ekstrim lagi dapat dikatakan bahwa kegagalan itu bisa saja dialami oleh semua orang di segala umur, di semua strata kehidupan, atau mudahnya bisa dilalami oleh siapa saja. Padahal dalam kontek penyelesaian studi, semua orang pasti menghendaki selesai tepat waktu, termasuk menyelesaikan karya ilmiahnya. Akan tetapi, suara batin itu tidak selalu berhasil diikuti oleh perangkat lain yang ada pada dirinya sendiri.
Kesadaran terhadap betapa sulitnya menyatukan semua kekuatan yang ada pada dirinya sendiri itu mungkin bisa dengan mudah digunakan untuk memahami kesulitan menyatukan banyak orang yang memiliki pikiran, pandangan, situasi batin, dan keadaan yang berbeda-beda. Menyatukan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri saja sulit maka apalagi menyatukan banyak manusia yang bukan merupakan otoritas manusia, melainkan adalah otoritas Tuhan. Mereka yang diberi rakhmat oleh-Nya saja, sekalipun berbeda-beda, maka akan bersatu. Demikian pula jika rakhmat itu tidak diperoleh, maka jangankan menyatukan banyak orang, sedangkan menyatukan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri saja tidak selalu berhasil. Atas dasar kenyataan itu, maka manusia dianjurkan untuk memohon kepada Allah swt., agar diberi kekuatan untuk bersatu atau bahkan menyatukan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri untuk meraih keberhasilan hidupnya Wallahu a'lam.



