Pada akhir-akhir ini semakin banyak terdengar penilaian seseorang terhadap keber-Islaman orang lain. Dianggapnya bahwa orang lain, oleh karena pandangan mereka tidak sama dengan dirinya, disebut sebagai sesat, kafir, munafiq, bid'ah, dan atau sebutan lain yang tidak mengenakkan. Apapun jenis sebutan yang diberikan kepada seseorang, sebenarnya tidak akan berpengaruh apa-apa. Seseorang disebut kafir, munafiq, atau apa saja tidak akan mempengaruhi sebutan yang diberikan oleh Tuhan sendiri.
Namun demikian, sebagai manusia biasa, tatkala dirinya disebut sebagai kafir, munafiq, ahlu bid'ah atau lainnya merasa tidak enak. Hati mereka dengan sebutan itu merasa terganggu. Istilah kafir, munafiq, dan seterusnya mengganggu perasaannya. Mereka jelas tidak menerima atas pemberian sebutan itu. Itulah sebabnya, orang tidak menyukai terhadap seseorang atau sekelompok orang yang dengan seenaknya sendiri, memberikan sebutan dimaksud.
Mungkin saja, pemberian sebutan kafir, munafiq, zindiq, dan lain-lainnya itu adalah sebagai cara untuk mengingatkan agar orang yang dimaksudkan itu mau mengoreksi diri dan kemudian bersedia merubah pikiran, pandangan, dan keyakinan yang dinilainya keliru itu. Namun mereka tidak membayangkan bahwa siapapun jika diingatkan dengan pendekatan dan cara yang kurang tepat, misalnya melalui kritik, mengolok-olok, dan atau memberi sebutan yang kurang menyenangkan, justru akan meninggalkan dirinya dan bahkan berbalik memusuhi.
Siapapun ingin meraih keselamatan, baik keselamatan di dunia maupun di akherat. Beragama adalah cara meraih keselamatan yang dimaksudkan itu. Namun pada kenyataannya, terdapat beberapa jenis pilihan agama yang tidak diketahui, mana yang sebenarnya paling benar. Bagi siapapun tidak mudah memilihnya. Oleh karena itu, banyak orang dalam memilih agama, mengikuti saja pilihan orang tuanya atau masyarakat lingkungannya. Agama apa saja yang dipilih orang tua dan lingkungannya, itulah yang dianggap benar dan kemudian diikutinya.
Ketika sudah menjatuhkan pilihannya, maka agama dimaksud sudah dianggap paling benar. Siapapun yang menyalahkan agama pilihannya, jika tidak mampu menunjukkan argumentasi dan bukti-bukti yang lebih kokoh, maka tawaran itu bukan saja ditolak, tetapi juga akan dianggap mengganggu. Siapapun yang mengenalkan agama yang dianggap baru atau berbeda dari sebelumnya pasti tidak mudah. Sebab, orang tidak akan mudah berganti keyakinan dari yang telah dipegangi sebelumnya. Oleh karena itu, orang yang mengenalkan keyakinan baru akan dianggap pengganggu terhadap keyakinan sebelumnya.
Selain itu, pengetahuan agama seseorang tidak akan diraih sekaligus secara sempurna. Kesempurnaan pengetahuan agama dan bahkan juga keimanan seseorang akan melewati proses atau tahap demi tahap yang kadang cukup panjang. Itulah sebabnya, ada seseorang yang disebut imannya masih lemah dan sebaliknya sudah kuat. Bahkan, keimanan seseorang juga bisa berubah-ubah, bertambah dan juga bisa berkurang. Sesekali waktu iman itu menguat dan pada waktu yang lain berubah menjadi melemah. Dalam hadits nabi disebutkan bahwa, iman itu yazidu wa yanqus atau bertambah dan berkurang.
Selain hal tersebut, pada diri seseorang selalu terdapat kekuatan yang saling tarik menarik. Kekuatan itu disebut nafsu, yaitu nafsu yang mengajak kepada kebaikan dan sekaligus juga nafsu yang mendorong pada perbuatan dosa atau tercela. Itulah sebabnya, pada diri seseorang kadangkala tampak gejala kemukminannya, kadangkala kemunafiqannya, dan bahkan kadangkala juga kekafirannya. Tatkala seseorang sedang mampu berbuat jujur, adil, dan benar, maka keimanannya tampak. Tetapi kadang kala, orang tidak mampu menyesuaikan antara apa yang dikatan dengan yang dilakukannya sehingga tepat disebut munafik, dan bahkan ketika ia menunjukkan sifat takabur, dendam, hasut, memfitnah, maka yang bersangkutan sebenarnya hatinya telah tertutup, atau kafir.
Oleh karena itu, pada diri seseorang sebenarnya sangat mungkin menyandang ketiga sifat sekaligus, yaitu mukmin, munafiq, dan juga kafir. Namun untuk menyadari hal yang demikian itu ternyata tidak mudah. Mereka mengira bahwa dirinya sendiri mukmin, sementara orang lain munafiq, dan sebagian yang lain disebut kafir. Padahal, pada diri seseorang, sebenarnya telah bersemayam tiga sifat dimaksud sekaligus, yaitu mukmin, munafiq, dan kafir. Masing-masing sifat tersebut pada saat yang berbeda, diminan secara bergantian. Jika demikian itu halnya, maka pertanyaannya, mengapa seseorang dengan mudah menuduh orang lain sebagai kafir, munafiq, dan juga bid'ah. Padahal pada dirinya sendiri, sifat-sifat yang dimaksudkan itu pada suatu saat secara bergantian juga muncul. Wallahu a'lam



