Beberapa hari yang lalu, saya mendengar keluhan tentang adanya pupuk palsu. Bagi petani, pupuk menjadi kebutuhan pokok yang harus ada. Tanpa pupuk, maka tanaman mereka tidak akan panen maksimal. Padahal membeli pupuk bagi petani kecil, bukan perkara ringan. Oleh karena itu jika pupuk yang dibeli ternyata palsu, maka sama artinya membebani mereka luar biasa beratnya.
Namun ternyata tidak saja pupuk yang dipalsukan. Banyak kebutuhan rakyat kecil lainnya yang dijadikan sasaran untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Berbagai jenis komuditas lainnya seperti minyak, daging, tepung, madu, kopi, obat-obatan, dan lain-lain ternyata dipalsu. Disebut sebagai daging sapi misalnya, ternyata daging babi hutan. Disebut madu, ternyata gula yang diolah dengan larutan lainnya, dan seterusnya.
Orang menjual barang palsu dengan maksud untuk memperoleh keuntungan sebesar-besatnya. Mereka tidak berpikir bahwa dengan perbuatannya itu, orang lain akan merugi. Selain itu juga tidak diperhitungkan bahwa jika perbuatannya diketahui orang dan apalagi oleh penagak hukum, maka selain dihukum, maka yang bersangkutan selamanya tidak akan dipercaya lagi oleh siapapun.
Siapa saja yang menipu, mungkin saja akan memperoleh keuntungan dari apa yang dilakukannya itu. Akan tetapi, mereka akan kehilangan kekayaannya yang paling utama, yaitu kepercayaan. Orang yang sudah tidak dipercaya maka sama artinya dengan kehilangan segala-galanya. Resiko yang demikian itu biasanya tidak terpikirkan. Mereka baru sadar setelah hukuman itu diterimanya.
Memalsu sama artinya dengan berbuat bohong. Sementara itu, di antara penyakit hati yang amat membayakan adalah kebohongan itu. Namun sayangnya, banyak orang sedemikian mudah memalsu atau berbuat bohong. Bahkan, berbohong kadang dijadikan aktivitas sehari-hari. Seolah-olah berbohong tidak dianggap sebagai sesuatu yang salah. Selain itu, memalsu atau berbohong dianggap sebagai cara yang dibolehkan dan atau bukan aib. Aneh sekali, pada akhir-akhir ini, ijazah dan gelar akademik juga termasuk ada yang dipalsukan.
Islam mengajarkan agar umatnya menjauhi berbuat bohong dan atau memalsu apa saja. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad mengajarkan tentang kebenaran dan kejujuran. Utusan Allah ini, sejak usia kanak-kanak dan bahkan oleh orang yang membencinya sekalipun, ia disebut sebagai orang jujur, hingga digelari dengan sebutan yang amat mulia, yaitu al Amien. Oleh karena itu, di kalangan umat Islam seharusnya tidak boleh ada kepalsuan atau kebohongan yang pasti hal itu merugikan banyak orang. Wallahu a'lam.



