Kejahatan di zaman semakin maju dan modern seperti sekarang ini ternyata juga semakin meningkat, baik kuantitas dan kualitasnya. Digambarkan oleh banyak orang bahwa semakin maju ilmu pengetahuan sebagai buah dari kemajuan zaman itu, diharapkan kejahatan menjadi semakin berkurang. Akan tetapi pada kenyataannya tidak begitu. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak berbanding lurus dengan berkurangnya kejahatan.
Sementara ini banyak orang berpendapat bahwa kejahatan bersumber dari kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan. Orang miskin dan apalagi tidak berpendidikan selalu dianggap menjadi sebab perbuatan jahat. Mereka tidak mengerti bahwa suatu perbuatan disebut jahat dan atau dilarang, sehingga dijalaninya. Atas anggapan itu dikira bahwa, penghuni penjara kebanyakan adalah orang miskin dan tidak berpendidikan.
Padahal penghuni penjara kenyataannya tidak ada hubungannya dengan rendahnya tingkat ekonomi dan pendidikan. Banyak orang kaya dan juga berpendidikan, menjalani hukuman di penjara. Bahkan, banyak penjara penuh bukan dihuni oleh orang miskin dan tidak pernah bersekolah. Tetapi jusru sebaliknya, orang kaya dan berpendidikan tinggi juga banyak yang berada di tempat yang tidak menyenangkan itu.
Jika yang disebut pelaku kejahatan itu adalah orang yang dipenjara, maka sebenarnya mereka berasal dari berbagai kelompok yang tidak mengenal jenis pekerjaan, tingkat ekonomi, jabatan aau pangkat, dan juga latar belakang pendidikan. Tatkala orang mengatakan bahwa ekonomi harus ditingkatkan, agar kejahatan berkurang, maka tidak selalu tepat. Ekonomi harus ditingkatkan tetapi tidak secara otomastid menjadikan kejahatan berkurang. Bahkan pendidikan pun tidak selalu berhasil mengurangi tindak kejahatan dimaksud.
Para pengguna obat terlarang, perselingkuhan, korupsi, traffikking, kejahatan perbankan, berbagai mafia hukum, bisnis, dan lain-lain adalah tidak mustahil dilakukan oleh orang kaya, pejabat tinggi, pengusaha, termasuk oleh orang berpendidikan. Bahkan semakin orang pintar, maka kualitas kejahatan yang dilakukan juga semakin modern. Sebagai contoh sederhana, tatkala orang masih primitif mereka berperang hanya menggunakan tombak dan atau panah sehingga korbannya tidak seberapa. Akan tetapi ketika orang sudah pintar dan modern, maka mereka berperang menggunakan senjata modern pula yang memiliki kekuatan pemusnah manusia yang luar biasa.
Demikian pula ketika seseorang masih miskin dan berpendidikkan rendah hanya bisa mencuri sandal jepit dan ayam tetangga. Akan tetapi ketika sudah pintar dan kaya, maka akan mampu membobol bank, membuat bisnis perempuan nakal, jual beli obat terlarang antar negara, dan bahkan juga memperdagangkan orang. Atas dasar kenyataan seperti itu, semestinya orang tidak akan mudah mengatakan bahwa tingkat ekonomi dan pendidikkan yang rendah tidak selalu bisa disebut sebagai sumber kejahatan.
Membaca berbagai kenyataan tersebut, maka untuk mengetahui sumber kejahatan yang sebenarnya bisa diarahkan kepada faktor penting yang ada pada diri manusia yang menjadi sumber perilaku sehari-hari. Pertanyaan sederhana yang bisa diajukan misalnya, mengapa seseorang melakukan sesuatu dan atau tidak melakukannya. Tentu perintah melakukan sesuatu itu bersumber dari hati masing-masing orang. Jika hati seseorang baik, maka perilakunya akan baik. Sekalipun bodoh dan miskin, jika berhati sehat, bersih, dan mulia, maka yang bersangkutan tidak akan melakukan tindakan yang dilarang, baik oleh adat istiadat, peraturan pemerintah, dan apalagi aturan agama.
Sebaliknya, jika seseorang berhati sakit, gelap, dan apalagi hatinya mati, maka tidak akan mampu melihat mana benar dan atau salah, berbahaya atau tidak, dilarang atau dibolehkan, mendatangkan dosa atau tidak, dan seterusnya. Sesuatu dikerjakan hanya mengikuti hatinya yang gelap dan mati itu. Bagi mereka, bahwa yang terpenting adalah memuaskan keinginannya. Apa saja yang dimaui akan dilaksanakan tanpa ada rambu-rambu yang harus dipertimbangkan. Oleh karena itu, pusat kejahatan itu sebenarnya ada di hati setiap orang.
Jika penjelasan tersebut itu benar, maka jawaban dari pertanyaan di muka tidak perlu dicari ke mana-mana. Hati yang sehat dan bercahaya selalu akan memproduk perilaku terpuji, dan demikian pula sebaliknya. Namun kejernihan dan kesehatan hati tidak bisa dibuat oleh dirinya sendiri dan apalagi oleh orang lain. Hati jenih, sehat dan bercahaya adalah pemberian Tuhan. Itulah sebabnya, setiap orang harus selalu mendekat pada-Nya, memohon agar dikaruniai hidayah. Siapa saja yang dikaruniai petunjuk, maka tidak akan tersesat dan demikian pula sebaliknya, jika tidak memperoleh petunjuk maka tidak ada kekuatan yang mampu menolongnya. Wallahu a'lam



