Dalam perjalanan ke Mataram, pada hari Ahad sore tanggal 8 Nopember 2015, saya dikenalkan oleh teman kepada seorang pengusaha di Bali yang berasal dari Taiwan. Orang Taiwan mengaku sudah cukup lama bertempat tinggal di Indonesia, yakni lebih dari 27 tahun. Namun oleh karena merasa telah lama meminum, makan, dan berteduh di bumi Indonesia, ia mengaku sangat mencintai negeri yang dianggapnya sangat indah ini. Indonesia dianggap olehnya sebagai negerinya yang kedua setelah tanah kelahirannya, yaitu Taiwan.
Setelah turun dari pesawat dalam perjalanan dari Surabaya ke Bali dan akan melanjutkan ke Mataram itu, teman yang menjemput saya di bandara mendapatkan tilpun dari temannya yang berasal dari Taiwan. Sekalipun hanya sebentar, orang Taiwan memaksa untuk ketemu, sekedar makan malam bersama di restoran. Orang Taiwan tersebut diberi tahu, bahwa ia sedang bersama saya sekeluarga akan menuju ke Mataram. Informasi itu ternyata justru direspon positif, yakni agar istirahat sejenak dan makan malam bersama, sebelum menyeberang ke Mataram.
Sudah beberapa hari terakhir ini, bandara NTB ditutup sehubungan dengan meletusnya anak gunung Rinjani, sehingga semua orang yang menuju ke Mataram harus menempuh jalan darat dan kemudian menyeberang dengan kapal laut. Sebelum meneruskan perjalanan itulah, teman saya mengajak ketemu orang Taiwan sambil makan malam. Dalam kesempatan pertemuan itu, saya berusaha menggali pandangan tentang bagaimana seorang pengusaha Taiwan melihat Indonesia. Bagi saya informasi itu penting sebagai bahan koreksi diri.
Selama di Indonesia, orang Taiwan ini mengaku bekerja sebagai eksportir ikan laut ke China, Jepang, dan lain-lain. Pada akhir-akhir ini saja, ia menambah usahanya, berkebun sawit. Menurut pengakuannya, ia telah membuka lahan sawit sekitar 800 hektar di Sulawesi Barat, sebagai percobaan. Berkebun dianggapnya merupakan pekerjaan yang paling mudah dan tidak banyak resiko, apalagi menanam sawit. Pekerjaan yang harus dilakukan sebagai petani sawit adalah hanya sekedar memantau dan meneliti laporan dari petugas yang dipercaya. Menghitung biaya dan segala hal terkait dengan berkebun dianggapnya juga mudah.
Bertanam sawit, menurutnya, tidak memerlukan tenaga kerja banyak. Setiap 100 hektar kebun sawit cukup 8 orang pekerja. Mernghitung tenaga yang dibutuhkan juga tidak perlu dilipat-lipatkan. Sekalipun setiap 100 hektar memerlukan 8 orang, maka untuk 800 hektar cukup 40 orang, dan maksimal 50 orang saja. Selanjutnya, agar para pekerja kebun termotivasi juga tidak sulit. Mereka yang berprestasi diberi bonus, sedangkana mereka yang malas dan tidak produktif diberhentikan, dan kemudian dicari penggantinya. Mendapatkan tenaga kerja di Indonesia, diakuinya sangat mudah.
Dalam kesempatan itu, saya menanyakan kepada orang Taiwan dimaskud, mengapa ia bertahan tinggal di Indonesia hingga 27 tahun, padahal banyak orang Indonesia justru mencari kerja ke Taiwan. Pertanyaan saya tersebut hanya dijawab dengan kelakar, yaitu oleh karena banyak orang Indonesia mencari ke kerja ke Taiwan, maka dia ingin di Indonesia saja. Dia mengatakan bahwa, tinggal di Indonesia sangat menyenangkan. Bekerja sederhana saja sudah mendapat penghasilan banyak. Disebutkan bahwa orang Indonesia sangat dimanja oleh alamnya yang subur, sehingga tidak bersemangat kerja. Hal itu sangat berbeda di negerinya sendiri, di Taiwan. Siapapun di Taiwan, jika tidak bekerja keras, maka tidak akan bisa makan.
Dalam kesempatan itu, saya juga menanyakan, apakah Indonesia ini bisa dibuat makmur. Pertanyaan saya itu dijawab secara spontan, bahwa membuat bangsa ini menjadi makmur mudah sekali. Yaitu, rakyatnya diajak bekerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan. Mereka yang mampu bertani seharusnya diajak bertani, mereka yang mampu beternak diajak beternak, yang menyukai laut diajak melaut. Hanya saja, rakyat harus dibimbing dan disadarkan agar mau bekerja. Menurutnya, bekerja jangan hanya dimaknai mencari uang, melainkan harus menjadi budaya. Harus ditanamkan pengertian bahwa bekerja itu harus dipandang sebagai kebaikan. Orang yang tidak bekerja harus dianggap kurang baik.
Mendengarkan berbagai pandangannya yang sedemikian menarik dan rasional, saya secara berkelakar menanyakan, umpama dia diminta memimpin bangsa ini, apa yang akan ia lakukan. Pertanyaan saya tersebut dijawab bahwa, tidak ada mimpi untuk memimpin bangsa yang sebesar ini. Namun setelah saya desak bahwa bukankah kita harus membuat kebaikan di dunia ini. Kebaikan yang saya masksudkan adalah menolomng orang, ialah terhadap siapapun tanpa membedakan suku, bangsa, dan juga agamanya, agar mereka mendapatkan kemakmuran. Saya katakan kepadanya bahwa, bukankan membantu orang untuk memecahkan masalah adalah kebaikan yang seharusnya selalu dilakukan.
Mendapatkan desakan saya tersebut, akhirnya dia mengaku bahwa umpama disuruh untuk memimpin orang banyak, dia memilih menjadi kepala desa saja. Alasannya, dengan menjadi kepala desa, dia akan menunjukkan bukti bahwa masyarakat bisa dipimpin untuk maju. Selain itu, dengan hanya menjadi kepala desa, ia berharap masih bisa berbisnis. Kehidupan bisnis tidak bisa ia tinggalkan. Sebab bisnis adalah mencari nafkah atau kehidupan. Sermentara itu, memimpin masyarakat, atau menjadi pejabat adalah pengabdian. Keduanya harus dipisahkan.
Disebutkan bahwa, ketika memimpin orang banyak sambil mencari penghidupan dan apalagi kekayaan, maka akan berakibat cenderung menyimpang, atau korupsi. Selain itu, saya juga menanyakan, apa kelemahan para pemimpin Indonesia yang selama ini yang ia lihat. Ternyata, hanya diajawab satu saja, ialah bahwa kebanyakan pemimpin bangsa ini tidak mau disalahkan. Mereka sudah salah tetapi tidak mau mengaku salah. Padahal mengaku salah, ---menurut pendapatnya, adalah kunci kemajuan. Orang yang tidak pernah merasa salah, selain tidak akan berusaha mencari yang lebih benar, biasanya juga akan tersesat terus menerus. Dan sikap itu sangat berbahaya, bukan saja terhadap dirinya sendiri tetapi juga bagi masyarakat banyak yang dipimpinnya. Wallahu a'lam (bersambung)



