Berdiskusi Tentang Pembelajaran Ekonomi Di Pesantren
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 7 November 2015 . in Dosen . 1621 views

Diskusi tentang pembelajaran ekonomi di kalangan pesantren ini dilakukan secara informal saja. Beberapa orang berkumpul membicarakan pesantren ke depan. Dulu, ketika kehidupan ekonomi masih bersifat trasidional, para alumni pesantren tidak mengalami masalah terkait dengan kehidupannya. Mereka bekerja sebagai petani, berdagang, atau lainnya dengan mudah. Tapi di zaman modern seperti sekarang ini, rupanya cara-cara tradisional sudah harus ditinggalkan, apalagi jika ingin memenangkan di dalam berkompetisi.

Melalui diskusi itu semua sepakat bahwa seharusnya para santri dibekali dengan pengetahuan ekonomi. Namun persoalannya adalah, apa dan bagaimana mengajarkan ekonomi di pesantren. Orang pesantren dalam hal teknis tidak terbiasa berpikir teoritis sebagaimana dijalankan di sekolah atau di perguruan tinggi. Orang pesantren lebih tertarik kepada hal yang lebih segera dapat dilihat hasil dan manfaatnya.

Mempelajari buku-buku tebal tentang ekonomi, sekedar dimaksudkan untuk membekali para santri terkait kemampuan praktis dalam mencari nafkah dianggap tidak diperlukan. Bagi pesantren yang diperlukan adalah pengalaman. Berangkat dari pengalaman sukses berekonomi itu, para santri sendiri diharapkan mampu mengembangkannya lebih lanjut. Apalagi, orang pesantren juga mengetahui, bahwa banyak orang telah membaca buku-buku tebal yang membahas teori ekonomi, namun ternyata juga tidak semua sukses dalam mengembangkan usahanya di bidang ekonomi.

Melalui diskusi itu diperoleh pandangan bahwa cara mempelajari ekonomi akan dilakukan melalui pengamatan saja. Para santri misalnya, diajak untuk mengamati perekonomian di suatu kota atau daerah tertentu. Tentu, di wilayah kota itu terdapat pasar, mall, berbagai macam pabrik, dealer mobil, kantor bank, penjual jasa asuransi, pertokoan dan lain-lain. Selain itu juga terdapat penjual bakso, pracangan, juru parkir, penjual buah eceran, dan lain-lain. Dari hasil pengamatan itu diperoleh pemahaman bahwa, dalam kehidupan ekonomi di perkotaan ternyata terdiri atas berbagai jenis dan juga levelnya. Sudah barang tentu jumlah keuntungan yang diperoleh oleh masing-masing jenis dan level itu juga akan berbeda-beda.

Berawal dari pengamatan itu, maka para santri akan diajak untuk melihat dan mempelajari, yaitu sebenarnya siapa saja yang memiliki jenis usaha yang berskala besar dan juga mendatangkan keuntungan besar seperti mall, berbagai macam pabrik, berbankan, restoran, dan semacamnya itu. Sebaliknya, siapa para penjual bakso, pengecer buah yang tidak punya tempat tetap, penjual pakaian rombengan, juru parkir, dan sejenisnya itu. Mereka juga diajak berdiskusi dan memikirkan untuk menjawab pertanyaan mendasar, yaitu mengapa para pelaku ekonomi itu cenderung berasal dari kelompok etnis tertentu.

Sekalipun tidak bermaksud untuk menumbuhkan sikap rasialis di kalangan santri, maka perlu diajak berdiskusi untuk menjawab pertanyaan, yaitu mengapa perusahaan besar, mall, perbakan, asuransi, dan lain-lain yang tentu mendatangkan keuntungan besar ternyata dimiliki oleh etnis tertentu. Begitu pula sebaliknya, penjual bakso, warung nasi kecil-kecilan, pracangan, tukang tambal ban, juru parkir dan sejenisnya juga berasal dari etnis lainnya. Pertanyan lainnya juga misalnya, tentang kekuatan apa sebenarnya yang menjadikan jenis dan skala usaha mereka itu berbeda-beda. Dari mengamati keadaan ekonomi itu, maka selanjutnya para santri diajak untuk bersama-sama mencari kekuatan dan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing pihak sehingga melahirkan perbedaan itu.

Melalui cara pembelajaran tersebut maka akan terbangun kesadaran tentang berekonomi di zaman modern yang tentu sangat berbeda dibanding ekonomi tradisional dahulu. Selain itu, juga akan diperoleh pengalaman, bahwa dalam berekonomi selalu terjadi persaingan keras. Siapa yang kuat mereka itulah yang menang. Kekuatan itu bukan saja terletak pada faktor fisik, melainkan juga modal, strategi, jaringan komunikasi, kecerdasan, dan lain-lain. Mereka yang kuat itulah yang akan memperoleh kemenangan dan akan menguasai sektor-sektor ekonomi, dan bahkan juga lainnya di daerah itu.

Sudah barang tentu para santri juga diajak membaca buku ekonomi, sekalipun hanya sekedarnya. Namun yang dipentingkan dari pembelajaran itu adalah kemampuan membaca atau dalam bahasa akademiknya adalah riset tentang kehidupan ekonomi secara nyata. Pembelajaran ekonomi seperti itu justru akan memberikan bekal yang lebih bersifat kontektual. Para santri tidak diajak terlalu sibuk mendalami teori ekonomi, tetapi justru akan didorong menyusun teori ekonomi dari hasil pengamatannya sendiri. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara demikian itu akan menjadi relevan dengan tantangan yang ada. Para santri akhirnya diharapkan tidak tertinggal dibanding orang yang belajar tentang ekonomi di tempat lain. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up