Banyak orang merindukan kedamaian, tetapi ternyata tidak mudah terpenuhi. Hidup damai di antara sesama adalah sesuatu yang diinginkan dan dicari. Tanpa suasana kedamaian di antara sesama maka hidup akan tersiksa. Kemana, di mana, dan kapan saja merasa ada yang mengganggu dan bahkan mengancam. Apapun yang telah dimiliki dan kekuasaan setinggi apapun yang berhasil diraih, tetatpi jika tidak merasa aman, maka semuanya tidak terasa ada gunanya. Akhirnya orang mengatakan, bahwa yang terpenting adalah aman dan selamat.
Terorisme sudah lama dirasakan oleh banyak orang sebagai sesuau yang berbahaya dan menakutkan. Musuh itu nyata tetapi tidak tampak, dan selalu datang tiba-tiba. Karena itu, mencegahnya tidak mudah. Keadaan dianggap aman ternyata justru bahaya, dan begitu pula sebaliknya. Apa yang baru saja terjadi di Paris adalah contohnya. Kurang kuat apa keamanan dan intelejen di kota itu, tetapi ternyata bobol juga. Oleh karena itu, untuk mencegahnya, harus dicari sumber yang sebenarnya dari ancaman yang membahayakan itu.
Dampak kejadian teror tersebut terasa hingga di mana-mana. Di kota-kota besar, tidak terkecuali di Indonesia, hotel-hotel berbintang berusaha meningkatkan kewaspadaannya. Mobil-mobil yang masuk ke hotel diperiksa secara ketat. Menggunakan anjing pelacak dan juga alat-alat yang memadai, semua saja yang masuk hotel diperiksa. Hal demikian itu menggambarkan bahwa keadaan tidak aman. Semua orang harus meningkatkan kehati-hatiannya. Rasa takut, khawatir, dan curiga kepada siapapun dirasakan oleh banyak orang. Hal demikian itu menggambarkan bahwa rasa damai menjadi amat mahal.
Perang melawan teroris pasti tidak mudah. Musuh itu tidak diketahui dari mana datangnya dan demikian pula tidak jelas pelakunya. Sama sekali tidak diduga bahwa di suatu tempat berbahaya, ternyata secara mendadak terdapat bom meledak dan menewaskan hingga ratusan orang. Siapapun yang berada di tempat kejadian itu terkena akibatnya. Orang mengetahui bahwa ada teror tatkala serangan itu sudah terjadi dan bahkan sudah menelan korban. Itulah sebabnya, melawan terorisme tidak mudah.
Belajar dari kenyataan, mencegah terjadinya terorisme tidak cukup dengan kekuatan fisik, misalnya dengan mengerahkan tentara, polisi atau semacamnya. Memahami akar munculnya teroirisme dan kemudian mengurangi sebab-sebab terjadinya teror itu adalah cara tepat sehingga tidak boleh diabaikan. Orang melakukan teror sebenarnya telah menyadari bahwa dirinya lemah tetapi tidak tahan melihat atau diperlakukan secara tidak adil oleh pihak-pihak yang dianggap memiliki kekuatan lebih.
Perilaku kekerasan berupa teror sebenarnya bisa terjadi di mana-mana, kapan saja, dan memiliki skala yang beraneka ragam. Teror bisa saja terjadi di rumah tangga, di kantor, di kampus-kampus, dan lain-lain. Seorang anak yang diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya, seorang pembantu, dan bahkan isteri yang diperlakukan tidak semestinya oleh suaminya, maka akan sangat mungkin meneror siapapun yang dianggap menjadi sumber ketidak adilan. Maka, teror sebenarnya bisa muncul di mana-mana dan sumbernya adalah rasa ketidak-adilan itu.
Rasa diberlakukan tidak adil dapat muncul dari golongan, kelompok, dan lapisan manapun. Seseorang yang merasa dirinya lemah dan tidak dihargai dalam jangka waktu lama, maka sebagai cara untuk mengubah keadaannya adalah melakukan teror. Oleh karena itu, untuk membangun kedamaian, cara yang tepat adalah berperilaku adil terhadap siapapun. Membasmi teror hanya dengan kekuatan senjata tanpa memperhatikan keadilan sebenarnya tidak akan menyelesaikan masalah. Mengurangi kesenjangan, menghilangkan suasana diskriminatif, mendengarkan dan atau melibatkan semua, adalah cara tepat untuk menghilangkan terorisme dan meraih kedamaian bersama. Kedamaian memang mahal, namun asalkan mau, sebenarnya bisa diraih. Wallahu a'lam



