Kesempurnaan Beragama Diraih Melalui Proses Panjang
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 6 November 2015 . in Dosen . 2193 views

Hampir tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini tanpa lewat proses. Bahkan hingga bisa disebut sebagai manusia saja, juga melalui proses panjang. Berawal dari bayi, lalu tumbuh menjadi anak-anak, kemudian berkembang menjadi remaja, dan akhirnya disebut manusia dewasa. Sekalipun begitu, proses itu tetap berlangsung menuju kesempurnaannya. Kemudian, apakah hingga umurnya habis, atau meninggal, kesempurnaan sebagai manusia telah diraih, ternyata tidak ada yang mengetahui.

Demikian pula adalah menyangkut agama. Seseorang atas hidayah yang diterimanya bersedia mengucapkan dua kalimah Syahadah. Atas dasar kesaksiannya itu, yang bersangkutan telah disebut menjadi seorang Islam. Namun demikian, pengetahuan dan kemampuannya menjalankan syari'at Islam, belum tentu telah mencukupi. Setelah dibimbing mengucapkan dua kalimah Syahadah, maka ia masih harus belajar berwudhu, menghafal bacaan shalat, berlatih membaca al Qur'an, dan lain-lain.

Untuk memahami dan trampil melaksanakan ajaran Islam memerlukan waktu lama. Tahap demi tahap harus dilalui. Kadangkala hingga seseorang sampai usia dewasa sekalipun, pengetahuan tentang Islam yang dimiliki belum tentu seberapa banyak dan mendalam. Bahkan, jika seringkali berhenti dalam belajar, maka apa yang telah diketahui sebelumnya, bisa hilang lagi. Tidak saja iman yang mengalami pasang surut, ------antara bertambah dan berkurang, ternyata pengetahuan pun juga bisa bertambah dan kemudian berkurang kembali.

Terkait dengan pelaksanaan ajaran agama, sebenarnya tidak perlu harus menunggu pengetahuannya sampai sempurna. Berhasil mengetahui tentang tata cara shalat, sekalipun masih dalam tahap awal, maka ibadah itu boleh segera dimulai . Tidak perlu menunggu pengetahuannya hingga sempurna. Apa yang bisa dilakukan, maka sebaiknya segera mulai dilakukan. Dalam berdakwah pun juga begitu, seseorang yang baru mengenal satu ayat, maka satu ayat yang dipahami itu boleh disampaikan kepada orang lain. Mengajak berbuat baik kepada orang lain tidak perlu menunggu lama. Asalkan dirinya sendiri sudah menjalankan, maka boleh mengajak orang lain.

Hal yang justru tidak dibolehkan adalah, mengajak atau menyuruh orang lain, sementara itu dirinya sendiri saja belum menjalankannya. Orang lain disuruh shalat berjama'ah misalnya, tetapi dirinya sendiri tidak pernah berada di masjid pada waktu shalat. Orang lain dianjurkan berzakat, puasa, berinfaq, dan bahkan juga berbuat baik lainnya, sementara itu yang mengajak sendiri belum menjalankannya. Dalam menjalankan ajaran Islam harus memulai dari dirinya sendiri, kemudian berlanjut mengajak keluarganya, tetangganya, dan kemudian masyarakat luas.

Terkait dengan proses menuju kesempurnaan beragama, saya pernah mendapatkan pengalaman menarik dari seseorang yang baru saja saya kenal. Seseorang dimaksud, pada masa kecil, ia diajari oleh orang tuanya tradisi kejawen. Pengetahuan dan penghayatannya terhadap kejawen berhasil dirasakan dan mewarnai hidupnya. Namun tatkala menginjak remaja, dan masuk sekolah menengah pertama, ia dimasukkan ke sekolah Katholik. Dari lembaga pendidikkan itu, ia mulai mengerti tentang agama Katholik. Setelah lulus dan masuk SMA, ia dipilihkan oleh orang tuanya pula, lembaga pendidikan yang dikelola oleh penganut Kristen. Tentu, ia juga belajar tentang Agama Kristen.

Perubahan lembaga pendidikan yang dialami belum berhenti, yaitu ketika dikirim ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan tinggi, ia masuk Mormon. Berbagai perubahan lembaga pendidikan yang dijadikan tempat belajar, dan demikian pula agama yang diajarkan, ternyata bukan menjadikannya semakin jelas, tetapi justru kebingungan yang diperoleh. Maka akhirnya, ia mengaku lebih baik tidak beragama. Ia berani untuk tidak percaya pada agama apapun. Ia memilih atheis. Namun baru setahun pikirannya dikosongkan dari agama, ternyata ia merasa bertambah bingung.

Dalam suasana kebingungan itu, ia ketemu seorang Ustadz yang mampu memberikan pandangan tentang agama. Ia akhirnya belajar tentang Islam. Agama baru yang terakhir dikenalinya itu, menurut pengakuannya, mampu menjawab berbagai persoalan hidupnya. Namun ada hal yang dirasakan berat, yaitu keharusan menjalankan shalat lima waktu. Ia menawar kepada ustadznya, agar diijinkan menjalankan shalat sekali dalam sehari semalam. Kesanggupannya itu, tentu untuk sementara diikuti. Namun, pada taraf awal, sekedar menjalankan shalat sekali sehari semalam tersebut, masih sering ditinggalkan.

Hal lain lagi yang masih berat ditinggalkan, ialah berjualan minuman keras. Ia merasa tidak mungkin meninggalkan berjualan barang haram dimaksud, karena sebagai pemilik hotel yang para pelanggannya adalah banyak orang asing, mau tidak mau, harus menyediakan minuman yang hanya dikonsumsi oleh kebanyakan orang berduit. Lagi-lagi untuk sementara, ustadznya mengijinkan. Atas ijin itu, ia merasa gembira, ber-Islam tetapi masih dibolehkan untuk berjualan minuman haram.

Namun, selama menjadi mua'laf, pada setiap hari, ia selalu menambah pengetahuan agamanya. Demikian pula, ia secara bertahap mencoba untuk meningkatkan kualitas keberagamaannya dengan menambah jumlah pelaksanaan waktu shalat. Selain itu, kebiasaan berjualan minuman haram juga semakin dikurangi. Akhirnya, setelah berjalan sekian lama, ia mengaku sudah menjalankan shalat secara istioqomah 7 waktu, yaitu subuh, dhuha, dhuhur, asyar, maghrib, isya' dan tahajud selama delapan tahun tanpa henti. Demikian pula, sekarang hotelnya juga sudah tidak dilengkapi lagi dengan minuman keras. Namun demikian ternyata, pengahasilan bersihnya jauh melebihi sebelumnya.

Menurut pengakuannya, kini ia tidak saja menjalankan shalat 7 waktu, -----yakni 5 waktu wajib dan 2 sunnah, yang telah dilakukannya secara istiqomah, tetapi juga membayar zakat secara tertib. Setelah melewati proses yang panjang itu, ia merasakan bahwa, Islam memang agama yang membawa pada kedamaian lahir dan batin, menjaga kualitas hidup, peduli sesama, teduh dan menyenangkan, serta menjaga tali sillaturrahmi yang luas. Melalui kisah tersebut dapat dipetik pelajaran bahwa, meraih kesempurnaan beragama ternyata harus bertahap dan lewat proses panjang. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up