Manusia Baru Sebagai Hasil Revolusi Mental
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 3 November 2015 . in Dosen . 2075 views

Betapa indahnya manusia yang bermental Pancasila sebagaimana yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesika. Manusia Pancasila adalah manusia yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Manusia berkemanusiaan yang adil dan beradab. Manusia yang selalu membangun dan menjaga persatuan,. Manusia yang menyadari bahwa kerakyatan hendaknya dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan, dan manusia yang menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Semua pemimpin bangsa Indonesia selalu mengaku akan memperjuangkan nilai-nilai mulia dan luhur tersebut. Mereka yang tidak menyetujui terhadap nilai-nilai dimaksud dianggap bukan sebagai bangsa Indonesia yang baik. Nilai-nilai tersebut disosialisasikan dengan berbagai pendekatan dan cara. Di antaranya adalah melalui pendidikan, baik di lembaga pendidikan maupun di masyarakat. Pancasila selalu disebut dalam berbagai kesempatan oleh pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan siapapun yang peduli pada cita-cita bangsa ini.

Namun pada kenyataan nilai-nilai luhur dan mulia itu tidak pernah secara konsisten dijalankan di dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bangsa yang berketuhanan, maka seharusnya agama diposisikan pada tempat yang penting dan strategis. Akan tetapi, agama hanya sekedar disuarakan, dan tidak selalu diikuti oleh cara berpikir dan bertindak secara konsisten, tidak terkecuali oleh tokoh agama sendiri. Semua agama mengajarkan tentang kejujuran, keadilan, kebenaran, membela yang lemah, mencintai semuanya, tetapi pada kenyataannya nilai-nilai luhur dan mulia itu tidak selalu tampak pada kehidupan sehari-hari.

Pancasila mengajarkan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, akan tetapi pada kenyataannya nilai-nilai kemanusiaan dan juga adab belum dijadikan pedoman di dalam kehidupan sehari-hari oleh bangsa ini. Tidak memperhatikan kebutuhan dan kepentingan orang lain masih dianggap hal biasa. Berlebih-lebihan di tengah-tengah orang yang berkekurangan dianggap tidak menyalahi nilai-nilai luhur falsafah dan dasar negara yang dijunjung tinggi dimaksud. Membiarkan orang lain tidak mampu berteduh dan tidak berhasil mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dianggap tidak menyalahi nilai-nilai Pancasila. Bahkan, membangun usaha yang dampaknya mematikan ekonomi orang banyak dianggap wajar. Akhirnya, kehidupan bagaikan ikan di tengah laut bebas, Ikan berukuran besar boleh menghirup dan memangsa apa saja, asalkan mampu melaksanakannya.

Kenyataan tersebut harus diubah secara bersama-sama. Tidak ada gunanya nilai-nilai yang agung dan mulia namun hanya sekedar dijadikan jargon, semboyan, kata-kata keramat yang tidak memiliki makna sebenarnya. Itulah sebabnya diperlukan revolusi mental secara bersama-sama. Mental mengabaikan dan melupakan Sang Pencipta segera diubah menjadi bermental makhluk yang sadar akan keberadaannya. Mereka seharusnya menyadari bahwa hidup ini adalah sebentar dan harus dipertanggung-jawabkan. Bermental selalu mementingkan diri sendiri diubah menjadi selalu peduli kepada orang lain atau sesama.

Merasakan sebagai bangsa yang tertinggal dibanding bangsa-bangsa lain yang sudah maju adalah disebabkan oleh karena mental yang dibangun belum mendorong untuk maju bersama. Banyak orang, tidak terkecuali para pemimpinnya, masih mengutamakan dirinya sendiri, golongannya, organisasi politiknya, dan sebaliknya, belum berjiwa atau bermental besar, yaitu memikirkan seluruh bangsanya. Melihat sesuatu yang merugikan bangsanya sendiri diam asalkan sudah beruntung. Bahkan, ada saja orang yang mencari keuntungan diri sendiri dengan mengorbankan bangsa dan negaranya.

Mental sebagaimana digambarkan tersebut harus diubah, atau direvolusi secara bersama-sama dan menyeluruh, dimulai dari diri sendiri, keluarga, organisasi, dan seterusnya. Jika hal itu sukses dilakukan, maka akan melahirkan manusia baru, ----dalam konteks Indonesia, adalah manusia Pancasila. Sebagai bangsa yang bersifat paternalistik, maka gerakan itu menjadi strategis jika dimulai dari para pemimpinnya. Pemimpin formal maupun informal seharusnya menjadi pelopor gerakan revolusi mental itu. Sebaliknya, mereka tidak boleh menjadi pelopor kegiatan yang kontra produktif, yakni sehari-hari terlibat konflik terbuka berebut kuasa yang tidak berkesudahan. Tidak akan mungkin bangsa menjadi besar, adil dan makmur, dibangun dengan suasana perseteruan. Maka, seharusnya tidak boleh begitu. Wallahu a'lam. 


(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up