Pada akhir-akhir ini, banyak orang berharap, agar kelak Indonesia menjadi kiblat kajian dan peradaban Islam. Sekalipun umatnya belum berhasil mewujudkan kehidupan yang unggul, Islam dipandang sebagai ajaran yang komprehensif, berisi berbagai konsep dan petunjuk dalam menjalani kehidupan yang lebih dinamis, maju, dan beradab. Tentu gagasan ini sangat mulia dan seharusnya mendapatkan dukungan dari semua pihak, terutama umat Islam di Indonesia.
Pertanyaan penting yang harus dijawab dari harapan tersebut adalah apa sebenarnya keunggulan yang akan dimiliki oleh Indonesia hingga negara-negara Islam melihat dan akhirnya menjadikan sebagai acuan untuk pengembangan kajian Islam di negaranya masing-masing. Ka'bah dijadikan kiblat bagi umat Islam, di antaranya, oleh karena bangunan ka'bah itu mengingatkan siapapun terhadap empat nama tokoh besar dan sekaligus sangat dicintai oleh Allah, yaitu Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Siti Hajar, dan Nabi Muhammad saw.
Keempat nama tokoh tersebut memiliki sejarah hidup yang luar biasa, sehingga seharusnya menjadi tauladan bagi siapapun yang menghendaki hidupnya sukses. Nabi Ibrahim misalnya, dikenal sebagai Bapak Tauhid. Kisah hidupnya di dalam mencari Tuhan diabadikan di dalam al Qur'an. Kekokohannya di dalam bertauhid hingga ia diberi gelar sebagai kholilullah. Di antara kelebihan lainnya, adalah terkait dengan kualitas kepemimpinannya.
Kelebihan Isma'ail adalah kemampuannya dalam menunjukkan keikhlasan dan ketulusannya, hingga ia bersedia disembelih, jika hal itu adalah merupakan perintah Allah. Ia memberikan contoh bahwa, apapun perintah yang datangnya dari Allah, maka secara total dijalankan. Belajar dari kisah Ismail itu, maka seharusnya umat Islam selalu berjuang untuk bersatu, oleh karena Allah melalui al Qur'an, menghendaki yang demikian itu. Sekalipun secara psikologis amat berat, maka seharusnya perintah agar bersatu itu dijalankan. Umat Islam tidak boleh bercerai berai dalam berbagai aspeknya.
Demikian pula Siti Hajar, ia telah menunjukkan tanggung jawab, keberanian menangung resiko apapun dalam menjalankan amanah, yaitu merawat hingga membesarkan anaknya, yakni Ismail. Bahkan, isteri Ibrahim ini mampu menunjukkan keikhlasannya, yaitu ketika anak satu-satunya yang dicintainya itu harus memenuhi perintah Tuhan, apapun jenis perintah itu. Demikian pula, berkiblat ke Ka'bah juga mengingatkan pada perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun peradaban Islam yang tinggi dan mulia.
Maka, ketika menyuarakan agar Indonesia menjadi kiblat kajian Islam, maka yang segera harus dipikirkan adalah kelebihan apa yang bisa ditunjukkan pada berbagai bangsa lain hingga mereka mau melihat dan kemudian lebih dari itu adalah menirunya. Sudah barang tentu, jawabnya adalah tentang banyak hal. Tetapi dari sekian banyak hal yang ditawarkan, harus ada yang istimewa dan belum dikembangkan oleh lainnya. Misalnya, adalah tentang integrasi dan interkoneksi kajian Islam. Di berbagai negara Islam, kajian Islam baru sebatas dari perspektif teologi, syari'ah, tarbiyah, adab, dan dakwah. Sedangkan ilmu lainnya belum dianggap sebagai bagian dari Islam, sehingga hal tersebut melahirkan pandangan dikotomik tentang bangunan keilmuan.
Pada akhir-akhir ini hal menarik dalam kajian Islam di Indonesia adalah menyangkut cara pandang terhadap Islam yang lebih komprehensif. Berbicara tentang Islam tidak saja menyangkut fiqh, tauhid, akhlak, tasawwuf, tarekh, dan sejenisnya, melainkan juga berbicara tentang berbagai jenis ilmu pengetahuan yang luas hingga tanpa batas. Bersumberkkan pada al Qur'an, hadits nabi dan hasil-hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis, maka digali berbagai ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Lebih dari itu, kajian Islam juga diperluas hingga menemukan teknologi baru yang diperlukan bagi kehidupan modern ini.
Memandang Islam secara komprehensif dan kemudian memformulasikannya dalam bentuk-bentuk kajian, maka membuahkan konsep yang benar-benar baru. Konsep itulah yang kemudian sebenarnya diharapkan menjadi kiblat kajian Islam. Maka, menjadi kiblat bukan oleh karena sebatas para guru besar atau dosennya lulusan luar negeri, gedungnya tampak indah, anggarannya besar, sarana dan prasarana pendidikkannya tercukupi, dan seterusnya, melainkan karena keberhasilannya di dalam melahirkan konsep atau pemikiran baru yang bersumber dari ajaran islam itu. Semua faktor pendidikan yang disebutkan itu memang penting, tetapi yang lebih utama lagi adalah kemampuannya dalam merumuskan konsep kajian Islam yang komprhensif hingga berhasil melahirkan apa yang disebut dengan peradaban unggul. Wallahu a'lam



