Menempatkan Organisasi melebihi Alat Perjuangan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 14 November 2015 . in Dosen . 5697 views

Manusia dikenal sebagai makhluk yang menyukai berkumpul dan atau bersama-sama. Selanjutnya semangat berkumpul dan bersama-sama itulah kemudian melahirkan kesukaan berorganisasi. Dalam organisasi itu, banyak naluri yang bisa disalurkan. Misalnya naluri berkumpul, memimpin, membanggakan kebesaran, bahkan juga naluri untuk berebut dan mengalahkan pihak lain.

Sekalipun keberadaan organisasi pada awalnya adalah agar bisa berkumpul dan bekerja bersama-sama, tetapi oleh karena di dalamnya terdapat orang-orang yang memiliki naluri untuk berebut dan mencari kemenangan, maka tidak jarang di tempat itu juga terjadi konflik, berebut, dan saling menjatuhkan. Dengan demikian, jika di dalam sebuah organisasi terjadi peristiwa semacam itu maka adalah hal wajar. Organisasi memang tempatnya orang yang memiliki ambisi dan perilaku yang beraneka ragam itu.

Pada awalnya organisasi didirikan sebenarnya dimaksudkan adalah sekedar sebagai alat, yaitu alat untuk memperjuangkan sesuatu. Namun selanjutnya, banyak kejadian orang lebih mementingkan alat dibanding tujuan yang ingin diraih oleh organisasi itu sendiri. Bahkan tujuan itu kadangkala dikorbankan hanya sebatas untuk memelihara dan mempertahankan alat yang dimaksudkan itu. Padahal sebagai alat, seharusnya tidak boleh diposisikan melebihi tujuan yang diinginkan.

Tatkala organisasi hanya diposisikan sebatas sebagai alat, maka seharusnya alat itu dicari dan dipilih yang sekiranya paling efektif dan efisien. Sebagai contoh, pada zaman dahulu orang mengolah sawah dengan menggunakan cangkul dan atau bajak. Pada saat itu seorang petani dengan menggunakan cangkul atau bajak, dianggap sudah hebat. Namun pada saat sekarang ini, alat itu sudah dianggap kuno. Untuk mengolah sawah, agar efektif dan efisen, harus bergantri dengan menggunakan mesin.

Demikian pula organisasi, jika hal itu diposisikan sebagai alat atau instrumen, dan ternyata alat itu sudah tidak efektif lagi, maka seharusnya boleh saja diganti dengan yang baru. Namun aneh, banyak orang lupa terhadap tujuan yang sebenarnya. Mereka berhenti pada kegiatan memelihara alat atau instrumen, dan bukan berusaha meraih tujuan dari adanya alat yang dibuatnya itu. Selain itu, banyak orang berlebih-lebihan di dalam mencintai dan membela terhadap alat yang telah dimilikinya itu. Sikap yang demikian itu akhirnya menjadi tampak aneh, yaitu mereka memperebutkan alat dan sebaliknya, justru melupakan tujuan yang sebenarnya ingin diraih.

Pada akhir-akhir ini, kita disuguhi banyak orang berebut, yakni berebut posisi di dalam organisasi yang sebenarnya hanya sebagai alat atau instrumen itu. Mereka terlalu mencintai alat, padahal sebenarnya yang seharusnya diraih bukan alat atau instrumen itu, melainkan tujuan organisasi yang didirikan itu. Namun oleh karena masing-masing pihak menganggap bahwa jumlah alat itu terbatas dan atau tidak mungkin membuat lagi yang baru, maka terpaksa alat itu diperebutkan. Akibatnya ---bisa jadi, alat itu rusak dan semua akan merugi.

Bentuk dan jenis organisasi itu bermacam-macam. Ada organisasi politik, sosial, ekonomi, dan bahkan juga orgnisasi yang bersifat keagamaan. Namun semua jenis organisasi dimaksud ternyata ada kemiripannya. Jika di sebuah organisasi ada konflik, berebut, dan saling menjatuhkan, maka di mana pun, --tidak terkecuali di organisasi sosial keagamaan, hal yang sama juga bisa terjadi. Hanya saja, jika konflik atau perebutan itu terjadi di organbisasi sosial keagamaan, maka banyak orang akan bertanya-tanya, yaitu apa sebenarnya yang diperebutkan di tempat itu.

Tujuan organisasi sosial keagamaan, adalah jelas, yaitu untuk berdakwah dan memperbaiki akhlak. Oleh karena itu, jika di dalam organisasi yang dimaksudkan itu, misalnya terjadi konflik, perebutan, saling menjatuhkan dan seterusnya, maka yang perlu dipertanyakan adalah, bagaimana sebenarnya mereka memposisikan organisasi keagamaan tersebut. Jika mereka lebih mengutamakan tujuan organisasi, maka gegeran, berupa konflik, berebut, dan saling menjatuhkan itu tidak akan terjadi. Mereka akan lebih mengutakan tujuan perjuangan dibanding sekedar membela alat yang digunakan untuk meraih tujuan itu. Tapi memang terasa aneh, kebanyakan orang lebih mencintai organisasi dibanding meraih cita-cita mulia dari organisasi itu sendiri. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up