Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah tugas penting perguruan tinggi adalah melakukan riset. Betapa pentingnya kegiatan itu hingga dijadikan sebagai bagian dari tri dharma perguruan tinggi. Tanpa kegiatan riset, perguruan tinggi dianggap tidak sempurna, bahkan menjadi tidak bisa dibedakan dari lembaga pendidikan pada jenjang sebelumnya, yakni sekolah menengah dan atau bahkan lebih bawah lagi.
Melalui kegiatan riset itu perguruan tinggi menjadi selalu berada pada posisi di depan dalam setiap gerak inovasi dan modernisasi. Inovasi dan modernisasi selalu mendasarkan pada hasil pemikiran, pandagangan, dan gagasan baru. Semua itu diperoleh dari hasil riset. Maka tidak bisa dibayangkan, apa sebenarnya yang dilakukan, jika perguruan tinggi tanpa kegiatan riset.
Sebagai warga kampus, riset semestinya bisa dilakukan di mana dan kapan saja, mulai dari taraf yang paling sederhana, berskala kecil, hingga yang paling besar dan rumit. Pelaksanaannya juga bisa dilakukan di mana-mana, tergantung apa yang diteliti. Penelitian tertentu, mengharuskan untuk dilakukan di laboratorium dan atau di perpustakaan. Tapi bidang-bidang lainnya, bisa dilakukan di mana saja, menyesuaikan dengan fokus perhatiannya.
Sebenarnya belajar di perguruan tinggi menjadi menarik adalah oleh karena ada kegiatan riset itu. Apa yang diperbincangkan di dalam ruang kuliah, tempat seminar, dan diskusi adalah hal baru sebagai hasil riset itu. Siapapun akan tertarik dengan sesuatu yang baru. Apalagi hal baru yang dimaksudkan itu adalah sesuatu yang nyata dan dipandang rasional. Riset selalu terkait hal yang nyata dan bersifat rasional itu.
Jika terdapat mahasiswa di suatu perguruan tinggi tidak bersemangat ke kampus dan atau tidak rajin mengikuti kegiatan akademik, kuliah misalnya, maka bisa diduga, pada institusi itu belum berkembang kegiatan riset. Budaya riset belum tumbuh. Akibatnya, sehari-hari yang diperbincangkan hanyalah hal lama dan atau sesuatu yang sudah usang. Memang, siapapun tidak akan tertarik pada sesuatu yang tidak ada relevansinya dengan kehidupan nyata yang dihadapi. Oleh karena itu, jika mahasiswa malas ke kampus, maka bisa diduga, mereka merasa tidak memperoleh sesuatu yang baru, hal yang dicari di tempat itu.
Riset sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa dan kapan saja. Dosen dan atau mahasiswa bisa melakukan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. Hanya ada kalanya, riset dipandang sebagai kegiatan yang harus diformalkan. Kiranya hal itu boleh-boleh saja, jika memang ada keterkaitan dengan aturan atau juga anggaran yang harus dipertanggung jawabkan. Akan tetapi, sebenarnya, riset sangat mungkin dilakukan tanpa diformalkan.
Jika kegiatan riset sudah menjadi sesuatu yang rutin, sebagai kebiasaan, atau bahkan membudaya, maka siapa saja boleh melakukan, asal hasilnya bisa dipertanggung jawabkan. Bukti pertanggung-jawaban itu juga tidak harus berbentuk surat keterangan resmi dari pihak yang dianggap berwenang. Untuk mengetahui kebenaran hasil riset sebenarnya bukan dilihat dari surat keterangan resmi, tetapi dari penilaian terhadap data yang dikemukakan, logika atau argumentasi peneliti yang bersangkutan.
Selanjutnya, orang yang selalu melakukan riset biasanya juga banyak menulis. Hasil riset umumnya dilaporkan dalam bentuk tulisan. Maka mudah sekali ditengarai, bahwa orang yang tidak pernah riset biasanya juga tidak pernah menulis. Mereka tidak pernah menulis oleh karena tidak pernah riset. Orang yang tidak pernah riset, mencukupkan ilmunya dari hasil bacaan terhadap buku atau laporan hasil penelitian orang lain. Selain itu, bagi orang yang tidak pernah riset, tatkala berbicara, selalu menyandarkan penjelasannya pada orang lain.
Sebaliknya, orang yang sudah menjadikan riset sebagai kebiasaan hidupnya, maka yang bersangkutan selalu mengemukakan pendapat atau gagasannya sendiri. Ketika mereka harus menyebut gagasan atau temuan orang lain, maka hal itu hanya dijadikan sebagai bandingan atau tambahan penjelasan. Akhirnya, jika kegiatan riset sudah hidup dan menjadi kebiasaan, maka kampus akan selalu penarik, orang menjadi senang datang ke tempat itu, dan lebih dari itu, tidak akan ada lagi cerita bahwa lulusan perguruan tinggi tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat. Maka, riset harus dikembangkan dan dibudayakan. Wallahu a'lam.



