Nilai Lebih Dari memadukan Perguruan Tinggi Islam Dengan Pesantren (Lanjutan)
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 19 November 2015 . in Dosen . 1739 views

Sebagaimana pegalaman yang diperoleh oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, ketika perguruan tingggi Islam ini belum memadukan dengan pesantren atau disebut dengan ma'had, para dosen yang mengajar di kampus ini selalu mengeluh, oleh karena kebanyakan mahasiswanya belum mampu sekedar membaca al Qur'an, memahami kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab, memimpin kegiatan ritual di tengah masyarakat, dan sejenisnya. Kekurangan itu, bagi perguruan tinggi Islam, dianggap sebagai sesuatu yang amat mendasar. Lulusan perguruan tinggi Islam diharapkan berhasil menjadi contoh dan sekaligus sanggup melakukan peran-peran kepemimpinan di tengah masyarakat. Lulusan perguruan tinggi Islam diharapkan melakukan peran-peran strategis sebagaimana yang telah berhasil ditunjukkan oleh alumni pesantren.

Oleh karena itu, sarjana lulusan perguruan tinggi Islam diharapkan memiliki kopentensi dan kapabilitas yang memadai, terutama terkait dengan kehidupan keagamaan. Sebutan sebagai ulama yang intelek dan intelek yang ulama tidak saja diharuskan menguasai ilmu sesuai dengan disiplinnya, melainkan juga ada kesediaan mengimplementasikan ilmunya itu dalam kehidupannya sehari-hari. Pada setiap hari, umat Islam menjalankan kegiatan ritual, seperti shalat, berdoa', dan kegiatan lain yang bersifat insidental. Sebagai orang yang ditokohkan, oleh karena menyandang lulusan perguruan tingi Islam, maka yang bersangkutan diharapkan mampu bertindak sebagai pemimpinnya.

Demikian pula sebagai tokoh di tengah-tengah masyarakat, sarjana perguruan tinggi Islam dituntut memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap problem kehidupan masyarakat, baik terkait dengan persoalan ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya. Berbagai tuntutan yang sedemikian besar sebagaimana digambarkan itu akan terpenuhi lewat pendidikan ma'had atau pesantren. Pendidikan pesantren dengan ciri khasnya, yaitu melahirkan orang yang bertanggung jawab, mandiri, berjiwa kebersamaan, ikhlas, sederhana, dan sejenisnya adalah amat tepat untuk menopang terbentuknya sosok pemimpin masyarakat beragama di berbagai lapisan.

Kelebihan lainnya pendidikan pesantren dan hal itu tidak selalu mudah ditemukan di perguruan tinggi modern adalah tradisi mencintai ilmu sebagai bagian dari keberagamaannya, mencintai guru, dan semangat mengabdikan diri untuk kepentingan orang lain. Dalam kehidupan pesantren selalu diajarkan konsep beramal shaleh. Lulus dari perguruan tinggi pada umumnya, orang biasanya segera berkeinginan bekerja untuk mendapatkan uang, berkeluarga, memenuhi tuntutan hidup modern, sehingga tidak jarang melupakan lingkungannya. Sebaliknya adalah konsep pendidikan pesantren, agar ilmu yang diperolehnya bermanfaat, maka keluar dari lembaga pendidikan tradisional itu, mereka segera pengabdian pada masyarakat. Bagi para satri, belajar bukan semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan diabdikan untuk masyarakatnya.

Oleh karena itu menggambungkan perguruan tinggi Islam dengan pesantren atau ma'had sebenarnya adalah juga sebagai upaya menjadikan lembaga pendidikan tinggi Islam yang berkonotasi modern masih tetap memiliki akar yang kuat di tengah masyarakatnya. Selepas lulus dari perguruan tinggi, para sarjana Islam bukan saja memikirkan dirinya sendiri, melainkan berupaya untuk mengabdikan diri pada masyarakat sebagaimana lulusan pesantren pada umumnya. Nilai-nilai yang demikian itu, bukan sebatas masih berada pada wilayah angan-angan, tetapi telah dapat dibuktikan setelah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melengkapi pendidikannya dengan ma'had di tengah-tengah kampusnya.

Di antara buah lainnya yang dihasilkan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari memadukan pendidikannya dengan ma'had adalah para lulusannya pada batas-batas tertentu, berhasil memahami ajaran Islam yang bersumberkan al Qur'an dan hadits nabi secara mandiri, semangat menggali ilmu semakin meningkat, konsep Islam terkait ilmu pengetahuan menjadi semakin jelas, dan bahkan kecintaan para mahasiswa terhadap kitab suci semakin meningkat hingga sebagian di antara mereka berusaha menghafalkannya. Tercatat tidak kurang dari 20 % mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ikut menghafal al Qur'an. Dalam tradisi keulamaan, kegiatan menghafal al Qur'an sudah dilakukan sejak zaman Nabi. Para ilmuwan muslim zaman dahulu, seperti Imam Syafi'i, Ibu Sina, Iman al Ghazali, dan lain-lain, mereka adalah para penghafal al Qur'an. Oleh karena itu, memadukan antara perguruan tinggi Islam dan ma'had semakin diyakini merupakan cara yang tepat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas akademiknya.

Hal lain yang cukup menggembirakan, setelah sekian tahun perguruan tinggi Islam ini dilengkapi dengan ma'had, adalah bahwa para mahasiswa yang sehari-hari mempelajari sains dan teknologi juga sekaligus mampu memahami kitab suci dan bahkan menghafalkannya. Tidak sedikit mahasiswa biologi, fisika, kimia, matematika, psikologi, humaniora, dan lain-lain, selain prestasi akademiknya unggul, juga sebagai pengafal al Qur'an. Melalui ma'had yang berada di dalam kampus, maka selain cita-cita para pemuka Islam terdahulu, yaitu ingin melahirkan ulama yang intelek dan intelek yang ulama akan tercapai, dan bahkan juga sekaligus konsep integrasi antara sains dan Islam menjadi bisa dilihat hasilnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up