Optimalisasi Fungsi Rumah Ibadah Sebagai Laboratorium Pembinaan Karakter
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 4 November 2015 . in Dosen . 4174 views

Fenomena yang amat menggembirakan terkait dengan pendidikan hingga saat ini adalah sudah tersedianya rumah ibadah di berbagai lembaga pendidikan. Kenyataan itu menggambarkan tentang petapa tingginya kesadaran para pengelola lembaga pendidikan, bahwa di dalam membina para siswa dan mahasiswa harus dilakukan secara utuh dan komprehensif, tidak cukup hanya melalui proses pembelajaran di dalam kelas atau ruang kuliah. Pembelajaran di ruang kelas hanya sebatas berfungsi mengembangkan aspek nalar yang harus disempurnakan dengan pengembangan spiritual yang hal itu amat tepat dilakukan, di antaranya, melalui rumah ibadah.

Pada akhir-akhir ini banyak kalangan merasa gelisah soal merosotnya karakter bangsa, telbih-lebih di kalangan pendidikan. Apa yang dipopulerkan oleh Presiden Joko Widodo dengan sebutan revolusi mental sebenarnya erat kaitannya dengan karakter ini. Bangsa ini boleh saja kekurangan beras, jagung, kedelai dan bahan pokok lainnya, tetapi jangan sampai mengalami kekurangan karakternya. Kehilangan karakter sama artinya dengan kehilangan segala-galanya.

Membina karakter atau dalam ajaran Islam disebut dengan akhlak adalah tidak mudah. Pembinaan akhlak adalah merupakan bagian terpenting dari tugas kenabian. Para nabi dan rasul terdahulu diutus adalah oleh karena di masyarakat terjadi kerusakan karakter dan akhlak itu. Suku Quraisy sebelum kedatangan Nabi Muhammad disebut sebagai masyarakat jahiliyah.

Sebutan Jahiliyah atau kebodohan diangap pantas diberikan kepada suku tersebut bukan oleh karena mereka kekurangan pangan, perumahan, dan fasilitas hidup lainnya, tetapi adalah oleh karena rusaknya karakter atau akhlak suku Quraisy pada waktu itu. Mereka yang kuat menindas yang lemah, anak-anak yatim dan orang miskin tidak diurus dan bahkan dijadikan budak. Demikian pula kaum wanita tidak dihargai. Itulah sebabnya pada waktu itu disebut sebagai zaman jahiliyah atau zaman kebodohan.

Pda akhir-akhir ini tidak sedikit kalangan yang mulai gelisah terhadap keadaan karakter bangsa, tidak terkecuali di kalangan generasi mudanya. Berbagai kasus perkelahian pemuda dan pelajar, penggunaan obat terlarang, seks bebas, penganiayaan terhadap anak-anak, dan lain-lain yang serupa itu banyak terdengar terjadi di mana-mana. Sementara itu para orang tua sadar, bahwa apapun yang akan berhasil diraih oleh bangsa ini, manakala karakter atau akhlak mereka bobrok maka prestasi itu tidak akan bermakna apa-apa.

Menghadapi kenyataan yang memprihatinkan itu, maka perlu dicarikan pendekatan yang tepat untuk menjaga karakter atau akhlak generasi muda, terutama yang berada di lembaga pendidikan. Jika di muka disebutkan bahwa pembinaan karakter adalah merupakan tugas kenabian, maka tepat kiranya manakala apa yang dilakukan oleh Nabi dimaksud, diadopsi oleh lembaga pendidikan. Nabi dalam membina masyarakat, berawal menjadikan masjid atau tempat ibadah sebagai pusat kegiatannya. Melalui rumah ibadah ini, manusia diajak berkomunikasi dengan Tuhan dan sekaligus dengan manusia.

Sekilas Pemahaman Tentang Karakter atau Akhlak

Membina akhlak atau karakter rasanya tidak cukup dilakukan hanya melalui pemberian pengertian tentang apa yang boleh dan atau apa yang tidak boleh dilakukan, tentang hal baik dan atau tentang hal buruk,. tentang sesuatu yang terpuji dan oleh karena itu harus dilakukan atau sebaliknya, sesuatu yang tercela dan oleh karena itu harus dijauhi. Seseorang tidak akan melakukan sesuatu hanya atas dasar telah diketahui atau tidak diketahui resikonya. Para koruptor, perampok, penjudi, dan kejahatan lainnya melakukan kejahatannya itu bukan oleh karena mereka tidak mengerti bahwa perbuatan itu dilarang dan beresiko, tetapi oleh karena dorongan nafsunya dari dalam diri orang dimaksud.

Dalam Islam dikenal bahwa, sumber kekuatan penggerak perilaku manusia itu bukan terletak pada pikiran atau akalnya, tetapi adalah pada hatinya. Orang yang hatinya lagi sakit dan apalagi mati, maka tidak akan mampu memilih antara perbuatan yang boleh dilakukan dan atau perbuatan yang seharusnya ditinggalkan. Pada setiap diri manusia, dari mana pun asal muasalnya, suku atau bangsanya, memiliki apa yang disebut dengan istilah ruh. Dengan ruh itulah manusia memiliki sifat-sifat mulia, yaitu jujur, adil, dan kemauan untuk melakukan kebaikan dan kemuliaan.

Namun selain terdiri dari ruh, manusia juga terdiri dari jasmani. Aspek jasmani yang merupakan gambungan antar unsur tanah, api, air dan angin, ternyata memiliki ciri-ciri serupa dengan unsur itu. Unsur angin misalnya, selalu mendorong bergerak mencari tempat yang kosong. Unsur api selalu mencari tempat yang tinggi dan membakar apa saja. Sebaliknya air, selalu mencari tempat yang rendah dan demikian pula tanah yang selalu tidak puas dengan apa saja yang dimiliki.

Aspek jasmani manusia yang terdiri atas empat unsur dimaksud akan melahirkan nafsu. Disebut ada dua nafsu yang berbahaya, yaitu nafsu ammaroh dan nafsu lauwwamah. Kebalikan dari ruh, maka kedua nafsu tersebut mengajak manusia untuk berbuat jahat, yaitu ujub, riya', takabur, bakhil, hasat, dengki, fitnah, mengdu domba, dan sejenisnya. Melawan nafsu dimaksud bukan perkara mudah. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad sepulang dari perang Badar yang dahsyat, mengingatkan kepada pasukannya, bahwa setelah perang Badar akan ada musuh yang jauh lebih berat, yaitu musuh berupa hawa nafsu.

Nafsu yang ada pada setiap diri manusia, yakni nafsu amarah dan nafsu lauwwamah, selalu mengajak berbuat jahat. Nafsu itu dimiliki oleh semua orang, tidak pandang bulu. Oleh karena itu sebenarnya pada diri setiap orang terdapat unsur kebaikan yaitu iman, tetapi sekaligus juga ada unsur kemunafikan dan bahkan juga kekafiran. Tatkala seseorang terpanggi kepada kebaikan, kejujuran dan keadilan, maka hal itu pertanda bahwa ada keimanan pada diri yang bersangkutan. Akan tetapi, tatkala apa yang dikatakan seseorang tidak sesuai dengan yang dilakukan, maka sebenarnya pada diri yang bersangkutan terdapat kemunafikan, dan bahkan ketika seseorang sedang memfitnah, mengadu domba, sombong dan seterusnya, maka pada dirinya sedang berkecamuk sifat kekafiran.

Memahami penjelasan tersebut, maka pada hakekatnya setiap orang pada dirinya terdapat beberapa kekuatan yang selalu tarik menarik antara mempertahankan keimanannya, atau mengikuti nafsunya yang mengajak untuk berbuat munafiq dan bahkan juga mengikuti sifat-sifat kekafiran itu. Bagi mereka yang memiliki keimanan yang kuat dan mampu melawan hawa nafsunya, maka akan disebut berperilaku baik, berkarakter atau berakhlaq mulia. Sudah barang tentu, untuk mengalahkan nafsu yang mengajak pada kemunafikan dan kekafiran itu tidak cukup dibekali ilmu pengetahuan yang tersusun di dalam kurikulum, melainkan seharusnya ada kegiatan yang dilakukan secara benar dan istiqomah.

Rumah Ibadah Sebagai Laboratorium Pembinaan Karakter

Keberadaan rumah ibadah itu sendiri sebenarnya sudah memiliki arti penting bagi pendidikkan. Rumah ibadah mengingatkan kepada siapapun tentang pentingnya kegiatan ritual dan lainnya yang terkait dengan keagamaan. Di tempat itu orang melakukan kegiatan shalat berjama'ah, iktikaf, berdoa, membaca kitab suci, dan semacamnya. Oleh karena itu, manakala di lembaga pendidikan sudah dilengkapi dengan rumah ibadah sebenarnya menunjukkan bahwa institusi dimaksud sudah memiliki kesadaran tentang betapa pembinaan karakter manusia itu seharusnya dilakukan secara utuh dan komprehensif. Mendidik yang dimaknai sebagai upaya mengantarkan seseorang meraih pribadi yang utuh dan unggul tidak cukup melalui proses belajar mengajar di ruang kelas atau ruang kuliah, perpustakaan dan laboratorium, melainkan harus dilengkapi dengan tempat untuk memupuk dimensi spiritual yang diharapkan melahirkan karakter atau akhlak mulia.

Selanjutnya, rumah ibadah itu akan menjadi semakin maksimal fungsinya untuk membina karakter atau akhlak manakala dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa kekuatan penggerak perilaku manusia adalah berada pada bagian terdalam, yaitu hati. Hati yang sehat atau qolbun saliim adalah sumber kekuatan bagi siapa saja untuk melahirkan perilaku terpuji. Hati yang sehat merupakan buah dari apa yang dilakukan seseorang dalam mendekatkan diri pada Tuhan melalui kegiatan ritual, memahami kitab sucinya, dan selalu dekat dengan para ulama atau pemuka agamanya. Berbagai jenis kegiatan dimaksud akan menjadi tepat dan mantap bila dilaksanakan di rumah ibadah.

Untuk memakmurkan tempat ibadah, tidak terkecuali di lembaga pendidikan, harus melalui pembiasaan dan ketauladanan. Dua hal tersebut adalah perupakan pendekatan untuk membangun perilaku yang efektif. Pada hakekatnya, manusia selalu meniru terhadap perilaku pemimpin, orang yang dipercaya, dan atau yang diidolakannya. Selain itu, perilaku manusia juga dibentuk melalui pembiasaan yang dijalankan secara terus menerus. Sedang kekuatan yang mampu membiasakan dan juga sekaligus menjadi tauladan di lembaga pendidikan, tentu adalah para kepala sekolah, guru, dan atau siapa saja yang menyandang kewibawaan sehingga keberadaannya dikagumi, diidolakan, dan selanjutnya didengarkan ucapannya dan diikuti perilakunya.

Oleh karena itu menjadikan rumah ibadah sebagai laboratorium pembinaan karakter maka mustahil tidak melibatkan secara maksimal para pimpinan sekolah dan para guru-gurunya. Hati sebagai sumber kekuatan penggerak perilaku harus mendapatkan contoh yang tepat. Sementara itu, memberi contoh dan juga membiasakan perilaku terpuji di sekolah harus dilakukan secara ikhlas. Maka, kegiatan di rumah ibadah akan berbeda dibandingkan di ruang kelas. Mendisiplinkan kegiatan di ruang kelas atau ruang kuliah bisa melalui penertiban daftar hadir dan cara-cara lain yang serupa itu. Sedangkan menggerakkan kegiatan yang bernuansa spiritual harus dilandasi oleh keikhlasan, oleh karena sasaran yang dihidupkan adalah hati atau wilayah batin.

Manakala Rumah ibadah yang berada di lembaga pendidikan dimaksud berhasil difungsikan secara maksimal, maka institusi tersebut sebenarnya telah mengembangkan manusia secara utuh dan mendasar, yaitu aspek intelektual, profesional, spiritual, dan juga akhlaqnya Kedua aspek yang disebutkan pertama yaitu intelektual dan profesional dikembangkan melalui kegiatan di ruang kuliah, laboratorium, dan perpustakaan, sedangkan kegiatan spiritual dan akhlak dikembangkan melalui rumah ibadah. Manakala ke empat aspek dimaksud berhasil dikembangkan secara menyeluruh dan utuh, maka diharapkan akan melahirkan manusia seutuhnya, yaitu sehat jasmani dan ruhaninya.

Akhirnya, lembaga pendidikan akan menjadi bagaikan rumah besar, terdiri atas orang tua yang sehari-hari dijadikan sebagai sumber ilmu dan hikmah, tauladan, pengasuh, dan sejenisnya, sementara itu para siswa, mahasiswa, dan atau santri, berusaha membekali dirinya untuk menyiapkan kehidupan di masa depan. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai tempat untuk memperoleh tanda lulus, tetapi benar-benar membekali kepada siapapun yang belajar di tempat itu dengan bekal yang cukup dan utuh.

Pengalaman Memaksimalkan Fungsi Rumah Ibadah Di Kampus

Saya harus berterus terang mengatakan bahwa ketika pertama kali mendapatkan amanah memimpin perguruan tinggi Islam, ialah STAIN Malang yang sekarang telah berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, melihat ada sesuatu yang harus segera dibenahi. Keadaan kampus itu baik secara fisik, kelembagaan, aktifitas sehari-hari, dan lain-lain tidak begitu menggembirakan. Nama Islam yang digunakan oleh instiutusi pendidikan itu, saya sendiri menilai, terasa masih jauh dari gambaran tentang Islam yang saya tangkap dari apa yang selama ini saya pelajari. Gambaran saya bahwa Islam itu adalah cara hidup yang ideal, hingga menghasilkan kehidupan yang membahagiaan, baik di dunia maupun di akherat.

Sebagai orang yang diberi amanah oleh pemerintah memimpin kampus, tentu menginginkan agar sukses. Kampus ini harus maju, menghasilkan lulusan yang berkualitas. Kemajuan itu akan terjadi atau menjadi kenyataan manakala semua unsur yang ada di perguruan tinggi Islam itu mau bergerak, menunaikan amanahnya masing-masing secara maksimal. Pertanyaan saya dalam hati ketika itu adalah bagaimana menggerakkan semua unsur itu. Dalam upaya mencari jawaban yang tepat, ingatan saya tertuju pada sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw. setelah hijrah ke Madinah.

Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat Madinah, sebagaimana yang saya pelajari selama ini, selain sejak awal menyatukan kaum Muhajirin dan Kaum Anshar, adalah membangun Masjid. Tempat ibadah itu digunakan untuk membangun komunikasi, baik secara vertikal maupun horizontal sekaligus. Hubungan vertilak dengan Tuhan dilakukan melalui shalat berjama'ah di masjid itu. Maka artinya, kedua kepentingan komunikasi lewat masjid dan shalat berjama'ah terpenuhi sejaligus. Maka, itulah yang saya lakukan pertama kali ketika memulai menunaikan amanah memimpin perguruan tinggi Islam.

Pekerjaan memakmurkan masjid ternyata tidak mudah. Tidak semua warga kampus segera merespon ajakan itu. Ada saja sementara orang yang melihatnya dari ilmu fiqh, bahwa shalat berjama'ah itu tidak wajib, melainkan hanya sekedar sunnah. Maka, menurut pendapat mereka tidak boleh dipaksakan kepada semua orang. Tetapi apapun respon mereka itu, saya tidak pernah berhenti mengajak dan sekaligus juga memberi contoh, yaitu berusaha datang terlebih dahulu sebelum warga kampus hadir di tempat ibadah itu. Selain itu, juga mengajak melalui surat resmi agar berjama'ah, melalui himbauan pada saat rapat dinas, dan seterusnya.

Mendasarkan pengalaman tersebut, ternyata tidak ada korelasi antara mereka yang berpendidikan tinggi, berjabatan akademik atau berpangkat tinggi dengan kerajinan datang ke masjid. Mahasiswa dan karyawan justru lebih cepat merespon gerakan shalat berjama'ah di masjid dibanding mereka yang sudah berpendidikan dan berpangkat tinggi. Selain itu, mengajak siswa dan karyawan jauh lebih mudah dibanding dengan mengajak para dosen senior. Orang yang lebih pintar lebih suka mendiskusikan shalat berkjama'ah dibanding dengan mengerjakan shalat berjama'ah itu sendiri.

Setelah melewati waktu lama, usaha tersebut dalam batas-batas tertentu, membawakan hasil. Ada dua masjid di kampus, masing-masing berukuran besar, sekarang ini telah dipenuhi oleh jama'ah pada setiap waktu shalat berjama'ah. Dampaknya, ialah bahwa kemajuan atau dinamika itu selalu berawal dari komunikasi, maka melalui kegiatan shalat berjama'ah menjadi terpenuhi. Para dosen, karyawan dan mahasiswa setelah shalat berjama'ah, maka mereka saling bertemu, bertukar pikiran dan pengalaman secara informal setelah shalat ternyata memiliki arti yang amat besar untuk menumbuhkan semangat bersama-sama membesarkan kampus secara bersama-sama.

Akhirnya dengan berjama'ah itu, informasi, pendapat, dan harapan untuk maju bisa dibagi-bagi dan secara cepat bisa diterima oleh semua warga kampus. Hal-hal yang telah disampaikan melalui rapat dinas atau surat resmi bisa diperjelas atau diperkaya melalui komunikasi informal di rumah ibadah. Semangat dan gagasan memajukan kampus juga datang dari mana saja. Bahkan hal yang tidak saya duga sebelumnya, bahwa melalui rumah ibadah ini, juga tumbuh semangat membaca dan menghafal al Qur'an. Hingga terakhir ini, jumlah penghafal al Qur'an di UIN Malang, yang pada awalnya gerakan itu dimulai dari masjid, ternyata sudah tidak kurang dari 20 % dari jumlah mahasiswa yang ada, atau lebih dari 2000 mahasiswa. Oleh karena itu, rumah ibadah memang tepat disebut sebagai laboratorium pembinaan karakter, dan bahkan juga sebagai sumber idea atau gagasan baru yang amat penting dipelihara di lembaga pendidikan. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up