Dalam pertemuan dengan seorang pengusaha Taiwan di Bali sebagaimana saya tulis dalam artikel kemarin, juga berbicara tentang kepemimpinan. Jenis usahanya yang beraneka ragam dan mempekerjakan banyak orang, tentu membutuhkan kemampuan dan ketrampilan memimpin. Tanpa berbekal kemampuan memimpin orang, maka tidak mungkin usahanya bertahan lama dan apalagi menjadi maju.
Pandangan orang Taiwan tentang kepemimpinan ternyata sederhana saja. Mengajak orang lain seharusnya dirinya sendiri sudah menjalankan atau mengalaminya. Mengajak makmur, maka dirinya sendiri harus sudah makmur terlebih dahulu. Orang miskin tidak akan dipercaya ketika mengajak dan apalagi membimbing orang lain yang belum berhasil menjadi makmur. Atas dasar pandangannya itu, maka pemimpin harus punya pengalaman dan bahkan juga kaya terlebih dahulu, baru mengajak orang lain bekerja agar menjadi kaya.
Selain itu pemimpin, kata seorang pengusaha Taiwan, harus mengetahui kemampuan dirinya sendiri. Orang yang tidak mengenal atau mengetahui kemampuan dirinya sendiri, maka menjadi berbahaya jika menjadi pemimpin. Tatkala memimpin, mereka tidak akan mengetahui akan dibawa atau diajak kemana orang yang sedang dipimpinnya. Organisasi yang sedang dipimpin oleh orang yang tidak mengerti, termasuk tidak mengerti tentang kemampuan dirinya sendiri, maka organisasinya tidak akan berjalan efektif.
Dalam berdiskusi sambil makan malam di rumah makan tersebut, tatkala berbicara kepemimpinan di Indonesia , pengusaha Taiwan melihat hal aneh. Tampak sekali jabatan dikaitkan dengan pekerjaan mendapatkan rizki. Menurut pengusaha Taiwan, antara mencari penghidupan seharusnya dibedakan dari posisi jabatan publik. Mencari penghidupan seharusnya ditempuh dengan cara bekerja. Agar seseorang menjadi kaya maka seharusnya bekerja, menjadi pengusaha, misalnya. Sedangkan menjabat pada jabatan publik seharusnya dipandang sebagai pengabdian. Mencampur antara keduanya akan mengakibatkan terjadinya penyimpangan atau korupsi.
Keanehan lain yang juga dilihat oleh pengusaha Taiwan dalam kepemimpinan di Indonesia adalah terkait kepemimpinan politik. Posisi kepemimpinan ternyata diperebutkan dengan memasukkan variabel uang. Untuk menjadi bupati, wali kota, anggota parlemen, dan sejenisnya, sekalipun disebut berdemokrasi, selalu menggunakan uang. Jabatan politik akhirnya dijadikan bisnis. Padahal, penanaman modal di dalam kekuasaan adalah sangat membahayakan. Ia menyebut bahwa bukan saja rakyat yang akan merugi, tetapi pejabat yang bersangkutan juga sangat mengkhawatirkan. Siapapun yang telah mengeluarkan modal akan berusaha mendapat pengembalian dari modal dan bahkan juga berharap memperoleh keuntungan.
Mengelola kekuasaan dengan mengikuti logika bisnis yang demikian itu akan sangat memungkinkan bagi pejabat yang bersangkutan melakukan penyimpangan. Berbagai kasus terbongkarnya para pejabat pemerintah telah melakukan korupsi adalah oleh karena politik dikaitkan dengan upaya seseorang mendapatkan kekayaan itu. Bekerja untuk mendapatkan uang disatukan dengan bekerja sebagai pengabdian di politik. Hal demikian itu menjadikan orang yang semula baik menjadi terpaksa berbuat tidak baik, dimaksudkan hanya sekedar ingin mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan terlebih dahulu.
Melihat kenyataan bahwa untuk menduduki jabatan politik harus bermodalkan uang, maka akibat lainnya, orang yang merasa memiliki banyak uang juga ikut memperebutkan jabatan dimaksud, sekalipun yang bersangkutan tidak memiliki modal pengetahuan dan pengalaman. Sekalipun seseorang tidak pernah duduk di dalam pemerintahan, tetapi oleh karena terpilih, maka seketika yang bersangkutan menjadi pejabat politik. Bisa dibayangkan, orang yang sama sekali tidak mengerti birokrasi, dengan serta merta memimpin birokrasi. Bagi orang yang pintar beradaptasi akan cepat memahami lapangan pekerjaannya. Tetapi sebaliknya, akan menjadi persoalan tersendiri, jika yang bersangkutan tidak segera belajar, maka akan membahayakan semua pihak.
Pemimpin menurut pengusaha Taiwan yang kebetulan saya temui di Bali dimaksud, harus mampu membaca dan memahami dirinya sendiri. Kemampuan membaca dirinya sendiri adalah sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Boleh saja semua orang memiliki keinginan bermacam-macam, tetapi keinginan itu harus diukur dan disesuaikan dengan kemampuan yang ada padanya. Orang yang tidak memahami dirinya sendiri dan akhirnya mengangkat beban yang melampaui batas kemampuannya, maka akan membahayakan terhadap dirinya sendiri dan juga orang lain yang terkait dengannya. Wallahu a'lam



