Tatkala Seseorang Telah Kehilangan Rasa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 8 November 2015 . in Dosen . 6742 views

Pada bagian penting dari kehidupan manusia ini adalah rasa. Siapapun selain dikarunia badan, jasmani atau raga, juga dilengkapi dengan rasa. Seseorang tidak akan dianggap normal jika tidak memiliki apa yang disebut rasa itu. Bahkan, jika rasa itu sudah tidak ada pada diri sesdeorang, maka sebenarnya kemanusiaannya juga sudah hilang.

Sehari-hari kita menyaksikan berbagai jenis buah-buahan. Di antaranya ada pisang, manggis, durian, langsat, rambutan, nanas, apel, sersat, mentimun, anggur, dan masih banyak lagi lainnya. Berbagai jenis buah-buahan tersebut selain memiliki rupa, bentuk, dan warna yang berbeda-beda, masing-masing jenis buah tersebut memiliki rasa yang berlain-lainan.

Demikian pula, kita mengenal berbagai macam daging hewan. Sekalipun rupanya mirip, tetapi setiap jenis daging hewan yang berbeda-beda, maka rasanya juga berlain-lainan. Daging kambing rasanya berbeda dibanding daging kerbau, daging sapi, daging ayam, daging kelinci, dan seterusnya. Selain bentuk dan warnanya, di antara berbagai jenis daging hewan dimaksud juga bisa dibedakan dari rasanya yang berbeda-beda.

Perbedaan juga ada pada berbagai jenis ikan, baik ikan air tawar maupun ikan laut. Berbagai jenis ikan itu, selain berbeda bentuk, ukuran, dan warnanya, juga rasanya berlainan. Ikan lele berbeda rasanya dibanding ikan wader, gurami, udang, kepiting, ikan gabus, dan lain-lain. Demikian pula berbagai jenis ikan di laut yang ribuan macamnya itu, rasanya juga berbeda-beda. Ikan layur berbeda dari ikan tongkol, ikan sepat, ikan tuna, dan seterusnya.

Memperhatikan berbagai jenis buah-buahan, daging, dan ikan tersebut, selain memiliki bentuk, warna, dan rupa yang berbeda-beda, juga memiliki rasa yang berlain-lainan. Umpama rasa itu dicabut oleh Allah, Sang Pemilik rasa itu, maka perbedaan benda-benda itu tidak akan ada lagi. Makan buah mangga akan sama dengan buah nanas, sama pula dengan makan durian, pepaya, manggis dan lain-lain. Selanjutnya, orang juga tidak akan memilih jenis daging, jika semua daging memiliki rasa yang sama. Maka, rasa ternyata lebih penting dari sekedar bentuk, warna, ukuran, dan lainnya.

Selanjutnya, pada diri manusia juga memiliki rasa. Ada bermacam-macam rasa, misalnya rasa malu, rasa sedih, rasa sakit, rasa senang, rasa terhormat, rasa takut, rasa dihargai, rasa bangga, rasa puas, rasa gagal, dan tentu masih banyak lagi lainnya. Rasa itu perlu dipelihara. Jika rasa yang dimaksudkan itu telah hilang, maka harkat kemanusiaan juga sudah tidak sempurna. Tatkala seseorang tidak memiliki rasa, maka sama halnya tidak memiliki apa-apa. Untuk kepentingan pengobatan misalnya, dokter mematikan rasa sakit pasiennya. Sekalipun debedah atau dipotong-potong, setelah dibius, seseorang tidak merasakan sakit.

Rasa sakit pada diri seseorang. untuk sementara waktu, ternyata bisa dihilangkan lewat pembiusan. Dan, ketika rasa sakit itu sudah hilang, maka sekalipun masih memiliki tangan, kaki, daging, atau lainnya, tidak akan merasa memilikinya. Sebab, punya atau tidak punya angota badan itu, maka yang bersangkutan tidak merasakannya lagi.

Jika rasa sakit saja dengan obat tertentu bisa dihilangkan, maka jenis rasa yang lain juga sangat mungkin hilang dengan sedirinya atau sengaja dihilangkan. Orang yang tidak memiliki rasa, sebagaimana dikemukakan di muka, maka akan hilang sifat kemanusiaannya. Orang yang sudah kehilangan rasa malu, maka akan berbuat sekehendak hatinya. Mungkin saja, oleh karena sudah tidak memiliki rasa malu, maka pakaian dan atau atribut lain tidak dianggap penting. Pergi kemana-mana orang yang tidak memiliki rasa malu, hampir-hampir tidak berpakaian, kecuali sangat minim.

Oleh karena tidak memiliki rasa malu, maka seseorang menjadi berperilaku seenaknya sendiri sekalipun dianggap menyerupai binatang. Orang berpakaian secara pantas oleh karena ia masih memiliki rasa malu, yaitu malu ketika bagian tubuhnya dilihat orang lain. Seseorang selalu berganti-ganti pakaian, oleh karena malu dianggap miskin dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya.

Pada akhir-akhir ini, banyak orang merasa gelisah, bahwa bangsa ini sudah banyak berubah. Tetapi perubahan yang dimaksudkan itu dinilai negatif. Misalnya, banyak orang sudah tidak peduli sesama. Seseorang memiliki berpuluh-puluh rumah, kendaraan, dan juga tabungan melimpah, sementara itu di kanan kirinya terdapat orang-orang miskin yang tidak bisa berteduh dan sehari-hari tidak makan. Seharusnya mereka melihat keadaan itu iba atau belas kasihan, tetapi oleh karena rasa kepedulian dan rasa kasih sayang sudah hilang, maka enak saja mereka hidup di tengah-tengah orang miskin itu.

Rasa ternyata memiliki fungsi yang amat vital. Tanpa memiliki rasa, maka keberadaan dan bahkan harkat dan martabat seseorang sebenarnya sudah hilang. Oleh karena itu, jika bangsa ini ingin menjadi beradab, maka yang diperlukan adalah menghidupkan dan memelihara rasa pada seluruh warganya. Pemimpin yang tidak jujur dan tidak adil, adalah karena rasanya sudah menipis. Demikian pula, rakyat yang tidak mudah diurus, adalah juga sama, yaitu telah kehilangan rasa. Maka, bangsa ini boleh kekurangan beras dan kebutuhan pokok lainnya, tetapi sama sekali tidak boleh kehilangan apa yang disebut rasa itu. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up