UIN MALIKI MALANG; Siap Kawal Perdamaian Dunia Internasional
Abadi Wijaya Senin, 23 November 2015 . in Berita . 2132 views
764_icisssssss.jpg

INFO CENTER-Semakin maraknya radikalisme, terorisme dan berbagai konflik yang mengatasnamakan Islam, membuat Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang prihatin. Kampus yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si yang terus melakukan berbagai gebrakan, salah satunya menjadi tuan rumah International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ke-4 selama tiga hari berturut-turut. Yaitu pada Hari Senin — Rabu, 23-25 November 2015.


Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. H. Mudja Rahardjo,M.Si menjelaskan lewat ICIS ke -4 ini pihaknya ingin berperan dalam menciptakan kondisi Islam yang moderat dan membangun perdamaian di dunia internasional. ”Kami mengajak seluruh Civitas Akademika UIN Maliki Malang dengan saling toleransi antara satu dengan yang |ainnya”, ujar Prof. Mudjia.
Dia memaparkan, konferensi ini mengundang 65 tokoh agama dan ulama berpengaruh dari 34 negara, 500 ulama seluruh Indonesia, para akademisi dan para duta besar negara sahabat. Di antaranya Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (Waki| Presiden RI), KH. Ahmad Hasyim Muzadi (Sekjen ICIS), Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Ketua Jatman), Tun Datuk Sri Haji Abdullah bin Haji Ahmad Badawi (Mantan PM Malaysia), Pehin Dato Ustaz Haji Badaruddin bin Dato Haji Othman (Menteri Agama Brunei Darussalam), Dr Taufik Romadhon Al Bouthi (Mufti Syiria). "Acara nantinya dibagi menjadi beberapa sesi. Yaitu, opening ceremony, kemudian dilanjutkan diskusi panel tentang tema besar Upholding Islam as Rahmatan Lil Alaminz Capitalizing Spiritualiting and lntelectuaclity Toward the Better live for Human Beings, kemudian rekomendasi—rekomendasi yang dihasilkan dalam pertemuan ICIS ini akan disebarluaskan kepada seluruh stakeholders dunia ” jelasnya.
Prof. Mudjia selaku rektor UIN Maliki Malang menegaskan, bahwa ICIS ke-4 ini mempunyai tujuan penting. Di antaranya memperkuat Islam yang moderat dan toleran, memperkuat peran Indonesia di dunia Islam sebagai jembatan dunia Islam dan Barat, mencari solusi atas berbagai persoalan sertakonflik di dunia Islam.
Senada dengan Prof. Mudjia, KH. Ahmad Hasyim Muzadi menambahkan, ICIS ke-4 juga bertujuan memperkuat mainstreem Islam Moderat di Indonesia dan dunia internasional secara global. Sebab pemikiran moderat akan tergerus oleh pemikiran radikal dan liberal jika tidak ada upaya yang sistemik untuk mengelola dengan baik pemikiran tersebut.
Menurutnya, pemikiran yang masuk di Indonesia ada dua bagian. Pertama, pemikiran moderat dan kedua pemikiran transnasional. Pemikiran transnasional adalah sekte-sekte di dalam agama, yang tidak hanya membawa agamanya tetapi juga membawa sistem politik dari negara lain. ”Ketika sistem politik ini diintrodusir, belum tentu sistem tersebut cocok dengan sistem politik di Indonesia yang berlandaskan Pancasila. ”Mungkin secara Iritualnya sama, tetapi secara pemahaman kebangsaan tidak sama. Maka harus ada sikap moderasi,” paparnya.
Bagi KH Hasyim, moderasi ini tak terbatas di bidang keimanan saja tetapi juga di bidang lain seperti hukum Islam, ekonomi dan sosial. Di bidang hukum Islam, harus ada moderasi yang menciptakan keseimbangan antara law and justice . Sebab hukum tidak selalu berisi keadilan karena terkadang berisi kepentingan dan menekan orang lain bahkan ada institusional crime, yaitu sebuah kejahatan yang disahkan oleh hukum. Sementara di bidang ekonomi, moderasi Iebih menekankan bagaimana pemerataan, kehalalan dan keberkahan. ”Moderasi di bidang sosial adalah bagaimana kita mempunyai integritas sendiri, tetapi kita mau mengerti bahwa orang Iain juga ada selain kita. Pada bidang yang menyangkut keyakinan, tentunya yang berlaku adalah ’/akum dinukum waliyadin’, (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) tetapi khusus untuk pembangunan civil society itu harus bersama-sama,” kata dia.
Ujar, sambung Kyai tersohor ini, ICIS membawakan dua misi penting. Pertama, misi menyampaikan pemikiran moderasi ke seluruh dunia dan khazanah itu ada di Indonesia. Kedua, misi menyampaikan Pancasila sebagai alternatif untuk negara yang plural, tidak sekuler tetapi juga tidak negara agama, karena harus bisa mengayomi kepentingan seluruh elemen bangsa.

 

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up