Antara Penguasa, Ilmuwan, Dan Pemilik Ijazah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 3 Desember 2015 . in Dosen . 1644 views

Sebentar lagi, beberapa kota dan kabupaten akan menyelenggarakan Pilkada secara serentak. Melalui pemilihan itu, akan dihasilkan pemimpin-pemimpin pilihan rakyat yang dilakukan secara demokrastis. Bisa saja pemimpin pilihan rakyat dimaksud tergolong ilmuwan atau juga sekedar pemegang ijazah. Atau bahkan, tidak kedua-duanya, yaitu bukan ilmuwan dan juga sekaligus tidak memiliki ijazah sampai perguruan tinggi.

Hal demikian tersebut sangat mungkin terjadi, sebab rakyat tidak selalu menjatuhkan pilihgannya kepada seorang ilmuwan atau orang yang memiliki ijazah atau gelar akademik. Rakyat akan memilih orang yang dikenal, dipercayai mampu menjadi pemimpin, dan atau orang yang lebih dicintai. Bagi rakyat pilihan itu bisa dilakukan secara bebas, demikian pula bagi siapa saja juga bisa mengajukan dirinya sebagai pemimpin asalkan memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Sekalipun seseorang tidak dikenal sebagai ilmuwan, yang bersangkutan bisa saja sukses dalam memimpin asalkan mampu mengelola semua potensi yang berada di wilayah kepemimpinannya. Jika seseorang memiliki jiwa kepemimpinan, sekalipun yang bersaangkutan bukan ilmuwan dan penyandang gelar akademik, justru akan sukses. Pemimpin tidak harus mengetahui semua hal atau tidak harus ahli dalam semua bidang. Tetapi, pemimpin harus mengetahui masalah, berbagai potensi yang ada, dan mampu memanfaatkannya.

Ketika seorang bupati atau wali kota pilihan rakyat, misalnya mengetahui bahwa persoalan mendasar di wilayahnya adalah kemacetan di jalan raya, banjir, perumahan kumuh, kemiskinan, dan sejenisnya, maka pimpinan daerah itu bisa segera memanggil para ilmuwan untuk memberikan sumbangan pikiran dan gagasannya. Sebagai seorang ilmuwan, jika memang bener-benar ilmuwan akan sanggup menyelesaikan persoalan mendasar yang dirasakan oleh bupati atau wali kota terpilih itu. Pimpinan daerah tidak perlu berpikir atau menyusun gagasan sendiri, apalagi memang bukan ahlinya.

Kalau perlu ilmuwan yang dipanggil itu, dan apalagi bertempat tinggal di wilayah kekuasaan bupati atau wali kota dimaksud, mereka bisa dipaksa untuk menyumbangkan pikiran dan gagasannya. Sebagai bagian dari rakyat, yang bersangkutan harus bersedia ikut berpartisipasi menyelesaikan persoalan daerahnya. Jika perlu wali kota atau bupati memberikan target dan atau memaksa. Tentu jika benar-benar seorang ilmuwan, mereka akan sanggup dan berhasil menyelesaikan persoalan yang dimaksudkan itu. Sebagai seorang ilmuwan akan mampu menyelesaikan persoalan di bidangnya.

Pada zaman modern seperti sekarang ini, oleh karena lembaga pendidikan sudah ada di mana-mana, seharusnya telah berhasil melahirkan para ilmuwan. Tugas pemerintah dengan banyaknya ilmuwan itu seharusnya sudah tidak seberat dahulu, yaitu sebelum lembaga pendidikan sedemikian banyak seperti sekarang ini. Ahli apa saja sekarang sudah banyak, tanpa terkecuali. Mencari sarjana ekonomi, sarjana teknik, sarjana hukum, sarjana pertanian, sarjana peternakan, sarjana administrasi, hingga sarjana agama sudah tersedia di mana-mana. Para pemimpin yang ingin menyelesaikan masalah yang dirasakan oleh rakyatnya sudah tidak lagi boleh merasa kesulitan. Berbagai jenis ilmuwannya sudah tersedia begitu banyak.

Namun pada akhir-akhir ini, ---diakui atau tidak, ternyata semakin berbeda antara pemegang ijazah dengan sebutan sebagai ilmuwan. Keduanya, baik sebagai ilmuwan dan sekaligus menyandang gelar akademik seharusnya menyatu, yakni ada pada diri seseorang. Anehnya, tidak semua orang penyandang gelar akademik pantas atau layak disebut sebagai ilmuwan, dan sebaliknya, tidak semua orang yang paham terhadap sesuatru hal secara mendalam juga penyandang gelar akademik. Keadaan itulah yang kadang memunculkan persoalan baru.

Memang para pemimpin atau katakanlah para bupati atau wali kota akan bisa menyelesaikan persoalan rakyatnya jika selalu berdekatan dengan para ilmuwan. Apa saja akan berhasil maksimal jika diselesaikan dengan ilmu. Sebaliknya, jika persoalan itu diselesaikan bukan oleh ahlinya, maka justru akan rusak. Pemimpin selalu membutuhkan ilmuwan, dan bukan sekedar orang yang menyandang gelar akademik atau ijazah. Maka, pelajaran penting yang seharusnya diambil sekarang ini adalah bahwa siapa saja harus memperkaya ilmu dan bukan sekedar menumpuk ijazah. Sebab antar keduanya ternyata tidak menyatu. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up