Ketika Harta Berada Pada Orang Yang Tidak Amanah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 2 Desember 2015 . in Dosen . 3954 views

Semua orang mengatakan bahwa harta kekayaan itu penting. Tanpa harta yang cukup, hidup akan dirasakan sulit. Apa saja tidak bisa dibeli sehingga kebutuhan tidak bisa dicukupi. Orang yang tidak punya harta juga tidak akan dihormati, dan apalagi sehari-hari hidupnya menjadi beban orang lain.

Orang kaya dan apalagi dermawan biasanya dihormati. Selain itu, apa saja bisa dicukupi, dan dengan kekayaannnya itu, mereka mudah berkomunikasi dengan siapa saja. Sebaliknya, orang miskin, hubungannya terbatas, mereka tidak berani dan atau tidak mungkin berkomunikasi dengan sembarang orang, misalnya dengan orang kaya, pejabat tinggi, dan semacamnya.

Atas dasar kenyataan tersebut, jika tidak terpaksa, orang tidak mau menjadi miskin. Orang mau bekerja apa saja, pergi ke mana saja, dan bahkan hingga berani melakukan korupsi, pada hakekatnya adalah untuk menghindari kemiskinan itu. Dalam kehidupan ini harta menjadi amat penting bagi siapa saja.

Namun agar harta itu menjadi bermanfaat dan membawa berkah, selain agar diperoleh dengan cara yang benar dan halal, maka juga harus berada pada orang pintar dan jujur. Jika tidak, maka harta bisa menjadi pintu menuju kesengsaraan. Pemilik harta yang tidak pintar akan menggunakan hartanya untuk hal-hal yang tidak perlu dan bahkan membahayakan. Begitu pula jika pemilik harta itu tidak jujur maka akan melahirkan masalah yang tidak mudah diselesaikan.

Bangsa Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam atau harta yang melimpah. Tanahnya subur, dan memiliki beraneka sumber dan jenis tambang yang luar biasa banyaknya. Tambang emas, perak, besi, batu bara, minyak, nikel, gas, dan lain-lain, semuanya ada di Indonesia. Demikian pula kekayaan hutan, laut dengan bermacam-macam jenis ikan, dan berbagai potensi lainnya. Semua adalah merupakan kekayaan yang melimpah bagi bangsa ini.

Sayangnya, sebagai pemiliknya sendiri belum mampu mengelola sumber alam dimaksud secara maksimal. Oleh karena modal dan teknologi belum dimiliki sendiri, maka pengelolaan sumber alam itu masih diserahkan pada pihak asing. Akibatnya, kekayaan yang melimpah itu belum berhasil mensejahterakaan rakyatnya, karena hanya sebagian kecil hasilnya yang bisa diterima. Pemilik modal dan teknologi akan memperoleh keuntungan terbanyak. Itulah sebagai resiko jika kekayaan berada pada orang yang belum sanggup menerima amanah.

Bahkan konflik, perseteruan, persaingan antar elite yang selalu saja terjadi sebenarnya adalah bersumber dari kekayaan alam yang melimpah itu. Sudah lama antar elite saling berprasangka dan curiga-mencurigai adalah dari adanya kerjasama dengan asing itu. Sebagaimana yang sangat aktual pada saat ini adalah persoalan Freeport. Antar elte terlibat konflik hingga menggegerkan jagat politik sekarang ini, adalah terkait persoalan sumber alam yang pengelolaannya masih ditangani oleh pihak asing.

Umpama saja bangsa ini telah memiliki modal, teknologi, dan kebijakan yang tepat, maka kekayaan alam itu akan memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyatnya. Namun karena keterbatasan itu, maka kekayaan itu hanya menjadikan para elitenya bertengkar, berebut, konflik, dan ujung-ujungnya akan memasukkan mereka ke penjara. Maka, pelajaran penting yang seharusnya diambil adalah bahwa harta kekayaan memang penting dimiliki, tetapi agar benar-benar memberi manfaat, maka pemiliknya harus cerdas dan jujur. Jika tidak, maka harta justru akan membawa petaka bagi pemiliknya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up