Ketika Remaja Tawuran, Siapa Salah ?
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 15 Desember 2015 . in Dosen . 1128 views

Berada pada alam yang serba bebas seperti sekarang ini ternyata tidak semua orang merasa hidupnya tenang. Banyak perbincangan di tengah masyarakat terkait dengan keadaan yang dirasakan memprihatinkan. Persoalan yang menyedihkan bukan saja berada pada wilayah rakyat seperti misalnya masih besarnya angka kemiskinan, perumahan kumuh, fasilitas sosial tidak mencukupi, pendidikan kurang merata, dan sejenis, tetapi yang justru lebih memprihatinkan lagi adalah perilaku para pemimpinnya.

Jika dahulu penjara dihuni oleh rakyat kecil oleh karena mereka mencuri, bertengkar dengan tetangga, berjudi, meminum minuman keras, dan sejenisnya, maka pada saat sekarang ini justru diisi oleh orang-orang yang seharusnya menjadi tauladan, yaitu para tokoh, mantan pejabat, dan atau para pemimpin masyarakat. Dahulu orang melakukan kesalahan oleh karena keadaannya serba berkekurangan, baik kekurangan harta, pengalaman, atau pengetahuan.

Sekarang ini berbeda dengan dahulu, yaitu orang yang dihukum adalah justru orang pintar, berpengaruh, dan bahkan memiliki jabatan tinggi. Demikian pula, mereka juga dikenal sebagai orang yang berilmu pengetahuan, dan berpengalaman luas. Oleh karena itu, kesalahan dan atau kejahatan bukan dimonopoli oleh orang-orang tertentu tetapi adalah milik semuanya. Hal demikian itu, menunjukkan seolah-olah keadilan berhasil diwujudkan. Namun sebenarnya, disadari atau tidak, ada aspek penting yang terabaikan, yaitu adalah keharusan adanya orang yang dituakan dan menjadi tauladan.

Orang tua pada zaman dahulu, sekalipun pendidikan mereka belum semaju sekarang ini, mampu mewujudkan kehidupan yang damai, harmonis, saling menghargai antar sesama. Dengan demikian itu, orang merasakan kehidupan yang agung, mulia, dan bermartabat. Kehormatan sebagai manusia sama-sama dijaga. Memang, pada masyarakat itu terdapat strata sosial yang dijadikan pegangan dalam berkomunikasi oleh semua. Masing-masing orang yang berada pada stratanya mampu menempatkan dirinya sebagaimana yang berlaku pada masyarakat itu. Orang yang tidak mampu menempatkan diri dipandang rendah oleh komunitasnya.

Di zaman demokratis seperti sekarang ini, ternyata keadaannya menjadi berbalik. Menghormati antar sesama sudah tidak bisa dirasakan lagi. Bahkan orang tua, pemimpin, dan juga guru seolah-olah dianggap tidak memiliki kekuatan atau kelebihan lagi. Mereka diperlakukan sama. Seakan-akan membantah pada orang tua, membangkang pada pemimpin, dan guru dianggap hal biasa. Kehidupan seperti berjalan tanpa tauladan atau tiada orang yang dituakan. Reference person dianggap sudah tidak penting. Apa saja dinilai dengan uang. Mereka yang beruang adalah yang dihormati, dijadikan pemimpin, dan bahkan yang dijadikan guru, sekalipun mereka tidak memiliki kelebihan lainnya.

Memposisikan harta atau uang sebagai segala-galanya itu, menjadikan moral, budi pekerti, atau akhlaq sudah semakin tidak dianggap penting lagi. Akibatnya, di mana-mana orang berebut uang, jabatan atau harta kekayaan. Mereka tahu bahwa, hanya dengan uang maka kehormatan, penghargaan, dan jabatan berhasil bisa diperoleh. Keadaan yang demikian itu, menjadikan banyak orang berebut apa saja yang dianggap perlu diperebutkan. Konflik, saling menjatuhkan, dan bahkan mengkriminalkan sesama dianggap sebagai hal biasa. Maka, bagi siapapun, hidup menjadi tidak aman.

Pada akhir-akhir ini, para pemimpin sudah tidak malu-malu bersengketa atau konflik secara terbuka. Dahulu, para orang tua, jika menemui masalah, maka diselesaikan dengan memilih waktu yang tepat, agar para anak-anak tidak mengetahuinya. Sekarang ini, keadaannya berbalik. Para pemimpin atau orang tua yang berselisih, justru dipertontonkan di muka umum, sehingga siapapun boleh mengetahuinya. Sebenarnya, yang diperselisihkan juga amat sederhana, yaitu hanya terkait dengan jabatan, uang, harta, dan sejenisnya. Mereka mengira bahwa uang dan jabatan lebih tinggi nilainya dibanding harkat dan martabat orang itu sendiri.

Oleh karena perselisihan, pertengkaran, saling menjatuhkan, dan sejenisnya itu secara langsung diketahui oleh siapapun, ---tidak terkecuali adalah oleh anak-anak remaja, maka mereka akan memahami, bahwa melakukan sesuatu hal yang tidak sepatutnya tersebut dibolehkan atau dianggap wajar. Maka, janganlah menyesal dan atau menyalahkan siapapun jika para remaja juga tawuran, berkelahi, dan berperilaku biadab. Mereka melakukan tindakan biadab itu oleh karena ada yang dicontoh, yaitu sementara para pemimpinnya sendiri. Maka, sudah waktunya bangsa ini belajar dari kearifan orang tua dahulu. Pada umumnya, mereka tidak berpendidikan terlalu tinggi, tetapi ternyata menyandang kearifan yang luar biasa. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up