Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa, orang terbaik adalah mereka yang sanggup memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Namun ajaran yang indah itu, oleh sementara orang, dianggap bertentangan dengan orientasi di dalam memenangkan persaingan. Alasannya, tidak akan memperoh kemenangan manakala strategi dan kemampuannya juga dibagi-bagikan kepada orang lain, dan lebih-lebih kepada kompetitornya. Oleh karena itu, bolehlah sesuatu diberikan kepada orang lain, asalkan apa yang diberikan itu tidak mengganggu atau merugikan dirinya sendiri.
Hal yang selalu terjadi, bahwa dalam kehidupan modern tidak pernah lepas dari suasana persaingan. Dalam persaingan itu, pemenangnya adalah orang yang memiliki kekuatan lebih. Manakala kelebihan itu kemudian diberikan kepada orang lain, menurut pertimbangan akal sehatnya, maka orang lain yang akan menjadi pemenangnya, dan begitu pula sebaliknya, dirinya sendiri akan kalah. Oleh karena itu, dalam kancah persaingan, siapa saja tidak dibenarkan memberikan sesuatu secara Cuma-cuma kepada kompetitornya.
Ketika saya mendapatkan tugas memimpin perguruan tinggi, saya justru berpikir berbeda dengan pikiran tersebut. Saya harus membagi-bagi apa yang saya miliki kepada siapapun, tidak terkecuali kepada para competitor. Saya berpandangan bahwa dengan membagi-bagi apa saja yang saya miliki terkait dengan pengembangan kampus, maka para kopetitor akan maju dan berkembang. Melalui competitor yang semakin kuat, maka saya juga akan semakin maju. Seseorang atau sebuah lembaga menjadi maju, menurut hemat saya, adalah bukan oleh karena kekuatannya sendiri, atau institusi yang sedeng dipimpin, melainkan oleh karena kemajuan para kompetitor itu.
Perusahaan besar menjadi semakin besar oleh karena berkompetisi dengan perusahaan yang besar, dan begitu pula sebaliknya. Perusahaan tidak akan besar jika hanya menempatkan diri pada lingkungan competitor yang terbatas, lemah, dan kecil. Oleh karena itu, membesarkan kompetitor adalah diperlukan bagi siapa saja yang menghendaki dirinya atau institusi yang dipimpinnya semakin besar. Atas dasar pandangan tersebut maka sebanarnya membesarkan orang lain sama artinya dengan membesarkan dirinya sendiri. Itulah sebabnya, Nabi mengatakan, sebaik-baik orang adalah yang sanggup memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada orag lain.
Namun anehnya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak banyak orang yang berpikir untuk membesarkan orang lain. Mereka khawatir dikalahkan jika apa yang dimiliki dimanfaatkan orang. Atas kekhawatiran itu maka pengetahuan dan apa saja yang dimiliki selalu disembunyikan atau dirahasiakan agar tidak diketahui dan apalagi diambil oleh para kompetitornya. Padahal dampak dari strategi itu adalah jelas, yaitu tidak akan memperlancar sillaturrahmi dan juga tidak akan memperoleh keuntungan apa-apa dari orang lain. Akibatnya, mereka akan sama-sama terbelakang dan tidak mendapatkan kemajuan dan keunggulan.
Ketika saya memimpin UIN Malang, banyak pimpinan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, dan bahkan mereka yang berbasis agama selain Islam, misalnya dari Krieten, Katholik, Hindu, dan Budha datang untuk melakukan studi banding. Ketika itu, saya selalu berpesan kepada teman-teman pimpinan baik tingkat universitas, fakultas, dan juga staf, agar setiap ada orang yang datang untuk bertanya tentang strategi pengembangan kampus supaya dilayani sebaik-baiknya. Apa saja yang diperlukan, agar supaya diberikan. Keberadaan perguruan tinggi Islam adalah untuk membesarkan orang, dan seharusnya tidak terkecuali terhadap siapa saja yang datang berstudi banding itu.
Pernah pada suatu ketika, saya sedang berada di luar kota, kedatangan beberapa orang dari Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Jaya Pura untuk berstudi banding. Pada waktu itu, Wakil Rektor melalui tilpun melapor dan sekaligus menanyakan apa yang boleh diberikan dan sebaliknya, apa yang tidak boleh diberikan kepada pimpinan perguruan tinggi Kristen yang dimaksudkan itu. Pertanyaan tersebut saya jawab, yaitu silahkan apa saja yang dibutuhkan untuk kemajuan perguruan tinggi tersebut diberikan. Bahkan, andaikan mereka memerlukan titik dan atau koma saja, maka silahkan diberikan, agar dibawa pulang.
Bahkan, umpama dalam kunjungan itu, ternyata waktu dan perbekalan mereka terbatas, sehingga sekalipun targetnya belum tercapai, mereka harus pulang, maka saya menyarankan agar diikuti kehendaknya itu. Akan tetapi, jika mungkin dan diperlukan, silahkan Pak Wakil Rektor mengikuti mereka ke Jaya Pura untuk menjelaskan apa saja yang belum jelas itu. Saya berpesan, jangan sampai ada sedikitpun informasi yang dirahasiakan, manakala itu penting untuk kemajuan perguruan tinggi yang bersangkutan. Pada diri kita masing-masing harus dibangun pandangan bahwa, kita beruntung berada pada institusi yang dibutuhkan orang lain. Kita harus menjadi umat terbaik, yaitu umat yang mampu memberi manfaat bagi siapapun, tidak terkecuali kepada institusi yang berbeda latar belakang agamanya.
Kebijakan tersebut, mungkin saja oleh sementara orang dianggap aneh, tetapi hal demikian itulah yang seharusnya dilakukan. Kebaikan yang ditunjukkan kepada siapapun akan memberi kesan bahwa Islam adalah indah, tinggi, dan mulia. Umat Islam seharusnya sanggup menjadi contoh, dan juga sebagai pemberi dalam bentuk apapun yang memiliki manfaat bagi kehidupan. Posisi Islam dan juga umatnya harus berhasil dibuktikan bukan berada di bawah, menggantungkan diri pada pihak lain, dan apalagi di belakang, tetapi sebaliknya, yaitu harus unggul. Harus dibangun citra bahwa Islam adalah tempat bertanya dan selalu memberi manfaat sebesar-besarnya kepada siapapun, tanpa terkecuali, sehingga berhasil menjadi yang terbaik. Wallahu a'lam



