Mengurangi Angka Kemiskinan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 7 Desember 2015 . in Dosen . 3035 views

Seringkali disebut-sebut bahwa angka kemiskinan di negeri ini masih relatif besar. Jumlah itu masih di sekitar angka 30 juta orang. Bahkan jika dihitung secara saksama, maka gambaran itu akan menjadi semakin tinggi. Padahal sejak negara ini berdiri, para pemimpinnya bercita-cita agar kemiskinan itu menjadi hilang, atau setidak-tidaknya semakin berkurang. Namun jumlah orang miskin pada kenyataannya tidak mudah dikurangi.

Sekalipun demikian, tidak berarti bahwa upaya mengurangi kemiskinan tidak dilakukan. Berbagai usaha pernah ditempuh. Akan tetapi hasilnya tidak selalu memuaskan. Dikira bahwa sebab kemiskinan itu adalah karena tidak tersedia modal, tidak memiliki ketrampilan, tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak terdidik, dan seterusnya. Namun setelah berbagai kekurangan itu diatasi, ternyata juga tidak selalu berhasil mengubah orang miskin menjadi kaya. Misalnya, ketika modalnya habis, yang bersangkutan masih juga tetap miskin.

Program transmigrasi pada suatu saat dianggap efektif untuk mengurangi kemiskinan. Program itu setelah diimplementasikan memang ada hasilnya. Akan tetapi tidak semua transmigran berhasil mengubah keadaan ekonominya. Tidak sedikit transmigran begitu modal yang diberikan oleh pemerintah habis, ternyata lahannya dijual dan kemudian kembali ke asal tanah kelahirannya. Mereka tidak tahan ketika harus bekerja keras mengolah lahan pertanian yang disediakan oleh pemerintah.

Demikian pula bahwa, mereka yang diberi atau dilatih ketrampilan tertentu dan bahkan disekolahkan selalu berhasil mengubah keadaannya. Antara sebelum dan sesudah dilatih, bagi orang-orang tertentu, seakan-akan tidak ada bedanya. Akhirnya disimpulkan bahwa mengubah orang ternyata tidak selalu mudah. Apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang terlibat pada gerakan perubahan dimaksud ternyata tidak selalu tepat. Oleh karena itu, program yang dipilih dan dikembangkan sebagai jalan keluar juga tidak selalu membawa hasil.

Manusia memang terdiri atas dua aspek, yaitu aspek jasmani dan aspek ruhani. Memahamai aspek jasmani tidak terlalu rumit. Untuk memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, perumahan, dan sejenisnya bisa diupayakan dan tidak terlalu sulit dilakukan. Akan tetapi manusia tidak hanya tergantung atau ditentukan oleh aspek yang bersifat fisik itu. Ada aspek lain yang lebih menentukan, yaitu aspek non fisik. Aspek yang dimaksudkan itu terdiri atas mental, jiwa, atau hati yang bersangkutan.

Tuntutan aspek fisiknya berhasil dicukupi, tetapi jika aspek non fisiknya tidak terpenuhi maka program pengentasan kemiskinan itu akan gagal. Orang miskin tidak sekedar bisa dimaknai sebagai kekurangan harta kekayaan, tidak memiliki ketrampilan dan atau juga tidak memiliki lapangan pekerjaan, melainkan oleh karena yang bersangkutan juga miskin mental, miskin cita-cita, miskin kepercayaan diri, miskin harapan masa depan, dan bahkan juga miskin hati.

Mengubah orang-orang yang menyandang kemiskinan yang bersifat non fisik itu pasti tidak mudah melakukannya. Ketika mereka diberi uang maka belum tentu dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan yang semestinya. Diberi ketrampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang semestinya sudah cukup, tetapi ternyata tidak selalu dimanfaatkan. Orang-orang seperti itu tidak mudah diubah dan diajak maju. Mereka memang merasakan bahwa hidup miskin itu berat, tetapi tidak selalu mudah ditolong dan diajak keluar dari kemiskinannya itu.

Mengubah orang harus melalui cara yang tepat. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui upaya membangun kesadaran. Sedangkan agar seseorang tumbuh kesadarannya maka harus diajak untuk membaca, yaitu membaca dirinya sendiri dan lingkungannya. Itulah kiranya mengapa ayat al Qur'an yang pertama kali turun adalah perintah membaca. Orang yang membaca secara benar hingga yang bersangkutan menjadi paham, maka akan tumbuh kesadarannya. Mereka yang berhasil menjadi sadar, maka selanjutnya akan bangkit. Mengubah orang rupanya bukan sekedar memenuhi kebutuhan fisiknya, melainkan lebih tepat adalah ditempuh dengan cara mengubah jiwanya.

Selalu menerima apa adanya diubah menjadi selalu berusaha untuk meraih prestasi lebih baik. Semula tidak memiliki kepercayaan diri diubah menjadi optimis dan mampu menciptakan keadaan baru. Semula menjalankan kehidupan secara rutin diubah menjadi lebih dinamis dan inovatif. Pada orang-orang miskin seharusnya ditanamkan keyakinan bahwa dunia ini, dalam batas-batas tertentu, bisa diubah oleh kemauan seseorang. Maka, siapa saja tidak boleh menyerah pada keadaan, tetapi harus berusaha mengubah keadaan, termasuk keadaan kemiskinan. Jika demikian yang dilakukan, mungkin saja usaha dimaksud berhasil dan biayanya juga tidak terlalu mahal. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up