Setiap orang memiliki naluri untuk berkelompok, berkumpul dan sifat alamiah itu kemudian disalurkan dalam berorganisasi. Naluri berkumpul itu jika tersalurkan menjadikan yang bersangkutan merasa puas, gembira dan juga bangga. Organisasi apa saja, misalnya politik, social, keagamaan, kesenian, dan lainnya. Menjadi bagian dari organisasi bagi seseorang dirasakan sebagai bentuk pengakuan dari orang lain, bahwa dirinya dianggap ada, dihargai, dipercaya, dan juga harapkan bisa melakukan sesuatu.
Orang yang sudah begitu mencintai organisasi, maka organisasinya itu dianggap sebagai dirinya sendiri, sehingga apapun akan dilakukan demi menjaga nama baik terhadap apa yang dicintainya itu. Siapapun yang mengganggu, betapapun besarnya resiko itu akan ditanggung, atau akan dilawan. Itulah sebabnya, orang membela organisasi sampai mati-matian sehingga kadangkala menjadi sulit dinalar. Membela organisasi bagi orang-orang yang sudah terlanjur mencintainya dianggap sama dengan membela harkat dan martabatnya sendiri
Pilihan terhadap organisasi bagi seseorang bisa bersifat rasional atau juga emosional. Pertimbangan rasional selalu didasari oleh perhitungan, yaitu dengan pilihan itu mereka akan mengkalkulasi tentang keuntungan apa yang akan diperolehnya. Keuntungan yang dimaksudkan tidak selalu berupa uang, barang, atau harta kekayaan, melainkan juga bisa bersifat immaterial, misalnya kekuasaan, pengaruh, identitas, kebanggaan, pertemanan atau sillaturrahmi, dan tentu yang lebih penting misalnya akhlak mulia, dan lain-lain.
Hasil yang diperoleh dari keterlibatan seseorang pada organisasi yang bersifat rasional itu bisa dilihat, diukur, dan juga dievaluasi. Seseorang tetap berada pada sebuah organisasi manakala merasakan ada manfaat bagi dirinya. Umpama saja tidak merasa mendapatkan sesuatu, maka mereka akan segera menjauh dan akhirnya keluar dari keanggotaan atau simpatisan organisasi yang dimaksudkan itu. Oleh karena sifatnya yang rasional itu, yakni atas dasar perhitungan untung atau rugi secara jelas, maka sikap yang dibangun juga jelas.
Hal tersebut menjadi berbeda jika keanggotaan dalam berorganisasi hanya mendasarkan pada dorongan emosional. Seseorang masuk organisasi tertentu hanya ikut-ikutan teman, keluarga, dan bahkan untuk meneruskan tradisi orang tua. Seseorang menjadi pendukung fanatik sebuah organisasi oleh karena orang tuanya dahulu, atau orang yang disegani menjadi pimpinan organisasi dimaksud. Status keanggotaannya bukan mendasarkan pada pertimbangan rasional, melainkan oleh karena pertemanan dan atau sekedar meneruskan tradisi itu.
Namun anehnya, keanggotaan organisasi yang hanya mendasarkan pada ikatan tradisi dan atau hubungan emosional tersebut ternyata justru lebih kokoh. Mereka menempatkan dirinya sebagai bagian penting dari organisasi. Oleh karena itu, mereka sanggup membela dan bahkan berkorban untuk organisasinya itu. Hati mereka merasa terpaggil untuk melakukan apa saja, sekalipun mereka tidak mengetahui keuntungan yang akan diperolehnya. Itulah sebabnya, organisasi yang diikat oleh kekuatan emosional, ternyata ikatan itu justru lebih kokoh.
Keikut-sertaan dalam organisasi social politik, dan tidak terkecuali adalah organisasi social keagamaan biasanya mendasarkan pada ikatan emosional itu. Oleh karena itu, massa pendukungnya juga bersifat emosional. Organisasi semacam itu, jika diperhatikan secara saksama, maka tergambar menjadi bagaikan kumpulan lebah. Sepanjang ratu lebah itu masih berkomitmen dan atau memiliki integritas yang tinggi terhadap kepentingan komunitasnya, maka anak lebah tidak akan meninggalkannya. Apapun yang terjadi, mereka akan loyal dan membelanya.
Namun sebaliknya, jika ratu lebah sudah dianggap tidak lagi mampu menjaga integritasnya, maka anak lebah akan bubar dan mencari ratu lainnya. Rupanya, hubungan internal organisasi yang bersifat emosional tampak menyerupai kelompok lebah dimaksud. Jika para pimpinannya meninggalkan komitmennya, maka para anggotanya akan meninggalkannya pula. Sekalipun para pengurusnya masih ada, tetapi oleh karena komitmennya sudah diabaikan, maka para anggotanya menjadi tidak jelas lagi, yaitu masih merasa menjadi bagian dari organisasi yang dimaksudkan itu atau tidak. Oleh karena itu, organisasi yang dibangun atas dasar hubungan emosional, baik politik maupun social keagamaan, --------agar tetap kokoh, maka yang diperlukan adalah menjaga komitmennya itu.
Sementara itu, bagi organisasi yang bersifat rasional, yang diperlukan bagi orang yang terlibat adalah kejelasan dari keuntungan yang akan diperoleh. Manakala keuntungan itu tidak jelas, maka mereka akan meninggalkannya. Oleh karena bersifat rasional, maka keterlibatan orang pada organisasi itu juga menggunakan pertimbangan rasional pula. Organisasi yang bergerak di bidang bisnis atau koperasi adalah contoh yang tepat untuk menggambarkan adanya hubungan-hubungan yang bersifat rasional itu. Maka, pimpinan berbagai jenis organisasi dimaksud kiranya telah paham karakteristik tersebut, sehingga selalu tepat dalam mengelola dan sekaligus menempatkan dirinya. Wallahu a'lam



