Tatkala Orang Berjiwa Politik Memimpin Perguruan Tinggi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 28 Desember 2015 . in Dosen . 1962 views

Setiap orang cenderrung menyenangi hal yang berbeda-beda. Adakalanya orang lebih menyukai politik, adakalanya berdagang, guru, bertani, seni, ilmuwan, dan lain-lain. Kecenderungan itu terrbentuk dari latar belakang kehidupan keluarga yang bersangkutan sejak kecil, pengaruh pendidikan, dan atau mungkin dari pembawaannya masing-masing.

Masing-masing jenis kesenangan atau hoby itu akan berkembang maksimal manakala memperoleh penyaluran yang tepat. Seorang yang berhoby politik akan cepat berkembang dan sukses manakala kesenangannya itu memperoleh penyaluran yang tepat. Seorang yang berjiwa dan menyenangi tugas-tugas sebagai guru dan memperoleh lapangan pekerjaan sebagaimana kesenangannya itu, maka jiwa keguruannya akan tumbuh dan berkembang.

Demikian pula seorang seniman, jika jiwa, hoby dan atau kesenangannya itu tersalurkan maka akan menghasilkan produk seni yang unggul. Namun pada kenyataannya, menemukan hoby atau bakat dirinya sendiri saja tidak mudah, dan demikian pula, mencari tempat penyalurannya yang tepat. Akhirnya banyak orang yang gagal dalam hidupnya oleh karenya tidak berhasil menemukan bakat dan penyalurannya secara tepat.

Siapa saja yang melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan kesenangan, bakat, dan atau hobinya, maka tidak akan mudah berhasil. Seorang seniman yang terpaksa terjun ke bidang lain, misalnya di bidang kesehatan, pertanian, peternakan, dan atau lainnya, maka tidak akan terlalu sukses. Mungkin ukuran suksesnya juga akan berbeda. Seorang seniman, tentu yang dipikirkan adalah agar menghasilkan keindahan. Sementara itu, seorang petani tidak terlalu memerlukan seni, tetapi yang terpenting adalah target panennya terpenuhi.

Problem yang tidak jauh berbeda adalah jika seorang yang berbakat atau berhoby politik memimpin perguruan tinggi. Seseorang yang berjiwa politik, yang dipikirkan adalah kekuasaan. Kekuasaan dianggap sebagai segala-galanya. Oleh karena itu, sehari-hari yang dipikirkan adalah bagaimana mendapatkan kekuasaan, menggunakan, dan mempertahankannya. Persoalannya adalah, bagaimana bakat dan hobinya itu dijalankan, ketika mereka berada di lingkungan pendidikan tinggi.

Seumpama seseorang yang berbakat dan hoby politik itu berada di lingkungan politik pada umumnya, maka kemampuannya itu akan berkembang. Segalanya tidak akan menjadi masalah oleh karena apa yang ada pada dirinya itu berada pada tempat yang tepat. Seorang yang memiliki hoby politik berada di kalangan politik, maka akan menghasilkan produk maksimal. Namun akan menjadi masalah ketika yang bersangkutan berada pada lingkungan yang seharusnya tidak menggunakan logika politik di tempat itu.

Perguruan tinggi bukan tempatnya bagi siapa saja untuk mencari kekuasaan, tetapi adalah tempat untuk menumbuh-kembangkan ilmu pengetahuan. Logika politik sangat berbeda dari logika pengembangan ilmu. Memang, sekalipun di perguruan tinggi, oleh karena di tempat itu terdapat banyak orang, maka juga mengharuskan untuk diatur, dan pasti menggunakan taktik dan strategi. Namun, taktik dan strategi di kampus seharusnya berbeda dibanding di lapangan politik pada umumnya. Orang kampus seharusnya ditumbuh-kembangkan jiwa bebas, berani, dan terbuka. Ketiga jiwa tersebut akan berhadapan dengan ciri khas orang politik, yaitu lebih menyukai suasana stabil, aman, dan loyal.

Kompetisi antara jiwa politik dan jiwa kampus biasanya dimenangkan oleh pemimpinnya. Ketika pemimpinnya orang politik, maka sifat berani, terbuka, dan bebas menjadi tidak tumbuh dan atau bahkan sengaja dimatikan. Kampus akhirnya dihuni oleh orang-orang yang patuh, aman, dan mengedepankan kestabilan dengan resiko keilmuannya tidak berkembang. Sebab, jika berseberangan dengan pemimpin kampus yang berjiwa politik, maka posisinya akan terancam. Maka pilihan yang dianggap tepat adalah terpaksa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan pemimpin yang berjiwa politik itu.

Maka, kampus yang dipimpin oleh orang yang berjiwa politik akan menjadi bersifat rutin, miskin pikiran kritis, berorientasi stabil, birokratis, dan terbangun sikap loyal pada atasannya. Namun loyal yang tumbuh itu sebenarnya tidak selalu jelas, yaitu apakah loyal semu, loyal bersyarat, dan atau loyal sungguhan. Pemimpin dimaksud, bisa saja merasa sukses, oleh karena kampusnya sudah aman, stabil, dan orang-orangnya loyal. Padahal, kampus disebut hebat yang sebenarnya adalah jika para penghuninya justru tidak membangun sikap sebagaimana digambarkan itu. Sebagai institusi yang diberi amanah mengembangkan ilmu, maka di tempat itu harus berhasil dikembangkan iklim akademik, orang-orang di dalamnya harus berjiwa bebas, berani, terbuka, tetapi bertanggung jawab. Sebaliknya, bukan loyal, aman, dan stabil sebagaimana dikehendaki oleh pada umumnya pemimpin yang berjiwa politik. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up