Sejak tadi malam, jam 00.00, kita semua telah melewati tahun 2015 dan memasuki tahun baru 2016. Dalam sejarah jagat raya ini, tahun 2015 M, hanya sekali terjadi. Hal itu juga sama, pada hari Kamis, tanggal 31 Desember 2015, hanya sekali terjadi sepanjang sejarah kehidupan. Masa itu telah lewat, dan tidak pernah akan bisa diulangi oleh siapapun. Bagi kita semua, yang tersisa adalah kenangan, apapaun jenisnya.
Dalam keyakinan Islam, semua peristiwa kehidupan itu telah tercatat dengan teliti tanpa sedikitpun terlewatkan. Demikian pula, masing-masing pribadi atau masing-masing orang juga memiliki catatan kehidupan sebagaimana yang dimaksudkan itu. Bukan dicatat sendiri, hingga menjadi bersifat subyektif, tetapi ada makhluk Tuhan, bernama Malaikat, bertugas mencatatnya. Catatan itu pada saatnya nanti akan diberikan kepada pemiliknya dengan keadaan lengkap. Masing-masing akan membacanya sendiri-sendiri.
Catatan kehidupan pribadi tersebut tidak akan bisa dihapus, termasuk oleh pemiliknya sendiri. Catatan itulah yang akan dipertanggung jawabkan oleh yang bersangkutan kepada Dzat Pemberi Amanah, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Ada sementara orang yang menyadari atas amanah itu, tetapi juga sebaliknya, tidak memahami dan apalagi menyadari, bahwa hidup ini adalah amanah. Orang yang beruntung dalam menjalani hidup ini bukan mereka yang berpangkat, memiliki kekayaan melimpah, dihormati orang lain, melainkan adalah mereka yang memiliki catatan kehidupan yang baik.
Bagi kita semua, buku catatan kehidupan sepanjang tahun 2015 sudah ditutup. Hanya pada saatnya nanti akan dibuka kembali. Masing-masing orang akan melihatnya sendiri-sendiri. Perbuatan baik, misalnya dalam menjalankan shalat, zakat, puasa, haji, peduli dan menolong sesama, dan lain-lain, semuanya akan ditunjukkan secara tepat, tidak berkurang dan juga tidak ditambah-tambah. Sebaliknya, perbuatan yang tidak terpuji, termasuk perbuatan hati, seperti riya', ujub, iri hati, dengki, hasut, sombong, fitnah, mengadu domba, dan lain-lain, semua itu akan dapat dilihat dengan jelas.
Masing-masing orang akan dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatannya sendiri secara pribadi. Sebaliknya pertanggung jawaban itu bukan atas dasar kelompok, atau organisasi, madzhab, dan lain-lain. Kelompok-kelompok atau organisasi itu tidak diperlukan dan juga tidak ikut bertanggung jawab. Sekedar berperan sebagai saksi juga tidak perlu, karena masing-masing anggota badannya sendiri, misalnya kaki, tangan, kulit, hidung, telinga, mata, dan semuanya, bisa menjadi saksi yang amat obyektif. Demikian itulah keyakinan Islam, dan sekalipun pasti terdapat banyak orang yang tidak mempercayainya.
Atas dasar keyakinan itu, setiap muslim berusaha untuk membuat catatan hidup yang terbaik. Namun usaha itu tidak selalu mudah dilakukan. Manusia yang bersifat pelupa dan berbuat salah, akhirnya catatan baik yang diinginkan itu justru berubah menjadi buruk karena perbuatannya sendiri. Pada diri masing-masing orang terdapat dua kekuatan sekaligus, yaitu kekuatan sebagai pendorong berbuat baik, dan juga kekuatan yang pada setiap saat mendorong berbuat jahat. Kedua kekuatan yang berlawanan itu saling berebut agar diikuti. Manakala kekuatan atau nafsu berbuat baik itu yang diikuti, maka catatan kehidupan itu akan menjadi baik. Sebaliknya, manakala nafsu berbuat jahat itu ditoleransi, maka catatan tentang kejahatan itu yang akan didapat.
Mengingat kedua kekuatan yang saling berlawanan yang ada pada diri setiap orang itu, maka sebenarnya musuh setiap manusia adalah dekat, yakni ada pada dirinya masing-masing. Musuh itulah yang sebenarnya akan membawa pada kesengsaraan, atau disebut neraka. Setiap manusia akan berperang melawan musuh yang ada pada dirinya sendiri. Melawan musuh itu amat berat, dan jauh lebih berat dibanding melawan musuh dari luar dirinya. Disebutkan oleh Rasulullah melawan musuh dari dalam itu sebagai jihat akbar. Namun tidak sedikit orang ternyata lebih berkonsentrasi melawan musuh dari luar, sehingga lupa dan kedodoran ketika harus melawan musuh yang ada pada dirinya sendiri.
Melewati tahun 2015, dan memasuki tahun 2016, hal penting yang kiranya sangat perlu diingat dan disadari adalah bahwa dari waktu ke waktu, setiap orang dalam menjalani kehidupan ini selalu dicacat dan direkam. Kita semua pasti menginginkan agar catatan dan rekaman itu tatkala kelak dilihatnya sendiri tampak baik dan indah. Sebaliknya, kita tidak ingin melihat catatan hidup yang berwarna hitam, jelek, dan buruk. Agar catatan itu menjadi baik dan indah, maka kita harus berhasil mengalahkan musuh berbahaya, yakni musuh yang ada pada diri sendiri berupa kemunafikan dan bahkan juga kekafiran. Wallahu a'lam



