Kesenjangan Bermula Dari Penguasaan Ilmu dan Teknologi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 27 Februari 2016 . in Dosen . 22737 views

Banyak orang berbicara tentang kesenjangan, tetapi kesenjangan yang dimaksudkan hanya sebatas menyangkut kekayaan atau pendapatan. Sebagian orang berpenghasilan hingga puluhan atau ratusan ribu dollar, sementara lainnya hanya cukup digunakan untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari, dan bahkan masih berkurangan. Sebagian orang memiliki puluhan rumah, banyak mobil mewah, tabungan yang tidak terhitung, sementara lainnya rumah saja belum memiliki, apalagi tabungan, justru sebaliknya, mereka memiliki banyak hutang yang tidak mengetahui kapan akan dilunasi. Gambaran serupa juga tampak pada negara-negara yang berbeda.

Kesenjangan dimaksud sering kali menyebabkan antar orang, atau kelompok orang yang berpunya dan yang tidak berpunya, menjadi berjarak. Di antara mereka yang berbeda itu tidak saling mengenal atau berkomunikasi hanya oleh karena kepemilikannya yang berbeda itu. Mereka yang berpunya secara berlebihan membatasi diri hanya bergaul dengan sesama orang yang berpunya, dan demikian pula sebaliknya, mereka yang tidak berpunya. Orang miskin biasanya juga hanya bergaul dan bahkan bertempat tinggal di lokasi sesama orang miskin.

Keadaan sosial yang berjarak itu seringkali dijadikan oleh para pengamat sosial, sebagai sebab terjadinya konflik atau gerakan sosial yang tidak diinginkan. Oleh para pengamat sosial, manakala terjadi keributan di suatu tempat maka segera disimpulkan bahwa kejadian yang tidak diinginkan itu disebabkan oleh kesenjangan sosial. Namun setelah kesimpulan tersebut diperoleh ternyata juga tidak mudah mengatasinya. Kesenjangan tetap terjadi, dan bahkan justru semakin jauh oleh karena mereka yang kaya akan bertambah kekayaannya dan sebaliknya, mereka yang miskin juga akan bertambah miskin.

Dalam sejarahnya, kesenjangan itu telah terjadi di mana-mana, tidak saja antar individu melainkan juga antar suku, bangsa atau negara. Negara-negara maju di dunia ini telah memiliki kekayaan melimpah, sementara itu sebaliknya, negara-negara lainnya tergolong miskin. Sekalipun telah disadari oleh banyak orang bahwa adanya kesenjangan itu sangat membahayakan bagi semua pihak, tetapi upaya untuk mendekatkan atau menghilangkannya juga tidak terlalu tampak. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu mereka yang kuat justru tidak mempedulikan terhadap yang miskin. Manakala tampak ada upaya-upaya untuk membantu terhadap yang lemah, biasanya hanya bersifat semu, hingga akhirnya usaha itu tidak membawa hasil apa-apa.

Jika direnungkan secara saksama, kesenjangan itu sebenarnya adalah merupakan akibat atau buah dari usaha, baik kuantitas dan kualitasnya berbeda. Seseorang yang cerdas, rajin, ulet, dan memiliki kemauan untuk berprestasi, maka akhirnya meninggalkan orang-orang yang tidak memiliki sifat atau usaha-usaha yang menjadikan beruntung tersebut. Para ilmuwan atau mereka yang menguasai teknologi maka hidupnya akan lebih maju bilamana dibandingkan dengan orang yang tidak memilikinya. Berbekalkan ilmu dan teknologi, maka seseorang berhasil membangun perusahaan atau menciptakan sesuatu yang baru dan dibutuhkan oleh kalangan luas, sehingga akhirnya menjadi orang kaya. Sementara itu lainnya yang tiidak berilmu dan menguasai eknologi akan menerima apa adanya. Akibatnya, terjadilah kesenjangan itu.

Pada tingkat yang lebih luas dan besar, yaitu negara atas keunggulan risetnya, mereka berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Akibatnya negara itu mampu mengolah sumber alam yang dimiliki atau membeli dari negara lain, dan hasilnya selain untuk memenuhi kebutuhannya sendiri juga kebutuhan negara lain. Negara dimaksud menjadi kaya. Negara kaya itu selanjutnya semakin berhasil menghimpun kekuatan, dan melalui lembaga riset yang diciptakan dan pendidikan berkualitas yang berhasil dibangun, akhirnya berdampak pula pada keberhasilan membangun berbagai kekuatan, dan begitu pula sebaliknya.

Maka sebenarnya, kesenjangan ekonomi yang tidak mudah diatasi itu adalah merupakan akibat dari kesenjangan dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Negera-negara maju umumnya adalah mereka yang berhasil mengembangkan kedua kekuatan dimaksud. Tidak ada negara disebut kaya dan sekaligus maju bila tidak peduli pada pengembangan ilmu dan teknologi. Al Qur'an juga menyebut bahwa, Allah akan mengangkat derajad orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajad. Oleh karena itu, jika disebut-sebut bahwa umat Islam di banyak tempat, termasuk bangsa Indonesia, selama ini menderita ketertinggalan, maka salah satu sebabnya adalah belum berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga, untuk mengejar ketertinggalan itu, kiranya tidak ada cara lain, ---termasuk umat Islam, harus mengembangkan kedua kekuatan tersebut. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up