Ketika Pengetahuan Tidak Ditulis
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 11 Februari 2016 . in Dosen . 2144 views

Sudah lebih dari tujuh tahun, pada setiap pagi, sepulang dari masjid shalat subuh bersama tetangga, saya selalu menulis apa yang pernah saya lihat, saya alami, dan atau saya pikirkan. Menulis tentang apa yang saya ketahui dan pikirkan sendiri tentu tidak sulit, apalagi saya tidak pernah berpikir, apakah tulisan itu berkualitas atau tidak. Umpama saya berpikiran atau mengkhawatirkan, bahwa tulisan itu tidak berkualitas, maka saya akan mengalami kesulitan dalam menulis. Dengan sibuk berpikir kualitas itu, saya tidak bebas, melainkan hanya memikirkan kualitas tulisan itu.

Saya kira tidak hanya saya, semua orang pasti memiliki pengetahuan, pengalaman, gagasan, dan buah pikiran yang jumlahnya banyak sekali. Sehari-hari orang tidak pernah berhenti melihat, mendengarkan, merasakan dan juga memikirkan sesuatu. Hasilnya, seumpama ditulis, tentu akan sangat berguna. Akan tetapi, oleh karena tidak selalu ditulis, maka akan segera hilang begitu saja. Mungkin apa yang didapatkan itu baru teringat kembali ketika sedang membaca buku atau terlibat pembicaraan dengan orang lain. Hal yang telah lama dilihat dan dipikirkan, disadari pentingnya, oleh karena ternyata orang lain membicarakan dan atau membahasnya.

Betapapun pentingnya pengetahuan, gagasan, dan buah pikiran itu jika tidak ditulis akan terlupakan dan atau hilang percuma. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan tentang betapa pentingnya tulis menulis itu. Menulis ilmu pengetahuan, menurut khalifah yang ke empat tersebut, sama artinyua dengan mengikatnya, agar tidak segera lepas atau hilang. Orang yang pernah menulis sesuatu, maka sesuatu dimaksud akan mudah diingat kembali, dan begitu pula sebaliknya, jika pengetahuan dan gagasan itu tidak pernah ditulis.

Rendahnya semangat menulis tidak saja terjadi di kalangan masyarakat pada umumnya, tetapi juga di lembaga pendidikan, dan bahkan di perguruan tinggi. Tidak sedikit perguruan tinggi, sekalipun memiliki banyak dosen yang bergelar master dan bahkan Doktor, ternyata tidak banyak menghasilkan karya ilmiah. Buku-buku dan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh kampus-kampus yang gedungnya megah, juga masih terbatas. Masih banyak perguruan tinggi yang kegiatannya baru terbatas pada pelaksanaan kuliah, ujian, dan wisuda. Padahal, jika para dosen di perguruan tinggi tidak menulis buku dan jurnal, maka sebenarnya ada hal mendasar yang perlu dipertanyakan, yaitu apa yang sehari-hari diajarkan kepada mahasiswanya di depan ruang kuliah. Mungkin saja, mereka hanya sebatas menjelaskan isi buku yang ditulis oleh orang lain, dan bukan buku yang ditulisnya sendiri.

Seumpama saja para dosen rajin menulis buku, maka betapa banyak buku atau jurnal yang terbit di negeri ini pada setiap tahunnya. Menurut informasi, di Indonesia terdapat lebih dari 3000 perguruan tinggi, baik yang berstatus negeri maupun swasta. Umpama masing-masing perguruan tinggi itu rata-rata memiliki 200 orang dosen, maka berarti ada 600.000 dosen. Umpama setiap dosen pada setiap tahun menulis dua buku saja, maka pada setiap tahun akan terbit 1.200.000 judul buku. Namun sayang sekali, menghitung-hitung karya ilmiah yang lahir dari kampus seperti yang dibayangkan itu terasa percuma, karena untuk sementara, masih sulit dibuktikan.

Akan tetapi juga terasa aneh, sekalipun mereka tidak banyak menulis, ternyata kenaikan jabatan akademik para dosen juga lancar. Padahal sebagai salah satu persyaratan kenaikan jabatan adalah harus menulis buku ilmiah. Maka, menjadi terasa aneh, sekalipun tidak banyak buku yang terbit, ternyata kenaikan jabatan akademik berjalan lancar. Keanehan itu menjadi terjawab ketika di beberapa kampus terdengar muncul berita plagiasi. Mungkin saja, plagiasi itu dibuat untuk memenuhi persyaratan kenaikan jabatan akademik. Padahal sudah menjadi pandangan umum, bahwa plagiasi adalah merupakan kejahatan intelektual yang paling tinggi. Rendahnya semangat menulis itu sebenarnya disebabkan oleh karena selama ini belum terbangun kecintaan terhadap ilmu. Budaya menyenangi ilmu pengetahuan masih perlu ditumbuh-kembangkan, termasuk di perguruan tinggi sekalipun.

Menulis jika dibiasakan sebenarnya bukan pekerjaan berat dan sulit. Siapa saja yang merasa sulit sebenarnya hanya karena tidak terbiasa saja. Tidak mungkin seorang dosen bergelar master (S2) dan apalagi Doktor (3), tidak bisa menulis. Pada umumnya, mereka tidak menulis dengan beralasan tidak memiliki waktu atau kesempatan. Padahal bukan itu yang menjadi sebab utamanya, melainkan hanya oleh karena tidak ada minat dan atau kemauan menulis. Bekal kepintaran ada, ilmu ada, dan peralatan pun tersedia, namun jika tidak ada kemauan atau semangat, maka tidak akan menulis dan akhirnya tidak akan memiliki buku yang berhasil diterbitkan. Para petani mangga di pedesaan ketika tanamannya panen, sebagian buah hasil kebunnya itu dibagikan kepada tetangga dan juga kepada tamunya. Seharusnya, para dosen dan guru besar juga begitu, sehari-hari menulis buku, dan hasilnya bisa dibagikan kepada koleganya dan juga siapa saja yang berkunjung kepadanya. Akan tetapi oleh karena tidak terbiasa menulis, menjadi sama dengan petani yang tidak panen, tidak ada yang bisa dibagikan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up