Memandang kampus hanya sebatas untuk mendapatkan ijazah dan gelar akademik pada saat sekarang ini sebenarnya sudah sangat tidak tepat. Hal itu berbeda dari beberapa puluh tahun yang lalu. Dahulu, oleh karena jumlah perguruan tinggi masih masih terbatas, lulusannya masih belum sebanyak sekarang, sehingga ijazah dan gelar akademik sangat dihargai. Siapa saja yang dikenal sebagai lulusan perguruan tinggi, dan apalagi perguruan tinggi ternama, akan sangat mudah mendapatkan pekerjaan yang istimewa.
Gambaran tersebut, pada saat sekarang ini sudah sangat berbeda. Orang yang memiliki ijazah dan gelar akademik di berbagai jenjang sudah semakin banyak. Bukan saja lulusan S1, tetapi juga S2 dan bahkan juga S3. Tidak saja lulusan perguruan tinggi di dalam negeri, tetapi untuk beberapa bidang ilmu juga lulusan luar negeri. Dahulu, lulusan S2 bidang ilmu apapun dicari-cari, tetapi sekarang ini sudah berbalik, justru pemegang ijazah itu yang mencari-cari pekerjaan dan itupun tidak mudah.
Berbicara tentang betapa sulitnya mencari tenaga terdidik pada zaman dahulu, saya teringat apa yang saya alami pada awal tahun 1970 an. Ayah saya di desa merintis berdirinya Madrasah Mua'lillimin, yakni lembaga pendidikan setingkat SMP. Ketika itu untuk mendapatkan ijin dari pemerintah dipersyaratkan harus tersedia sejumlah guru lulusan PGA atau Madrasah Aliyah. Di Kabupaten itu, sekedar mendapatkan tenaga guru lulusan Madrasah Aliyah atau PGA sangat sulit. Ketika iitu pemegang ijazah madrasah Aliyah diperebutkan oleh banyak lembaga pendidikan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, saya harus pergi ke berbagai tempat. Mendengar kabar bahwa di suatu daerah ada lulusan Madrasah Aliyah, saya bersama ayah segera mendatanginya, dan ternyata gagal, oleh karena yang bersangkutan sudah kedahuluan diangkat menjadi guru di suatu tempat. Ijazah Aliyah saja pada waktu itu sudah sedemikian sulit dicari.
Bertolak belakang dari gambaran tersebut, pemilik ijazah dan gelar akademik pada saat sekarang ini sudah tidak akan diperebutkan lagi, kecuali bidang ilmu tertentu yang memang langka dan diperlukan. Keadaannya sudah berbalik, justru pemilik ijazah dan gelar akademik yang mencari dan bahkan memperebutkan lapangan pekerjaan. Dalam keadaan seperti itu, hanya mereka yang benar-benar menyandang kualitas dan memiliki keunggulan yang akan dicari. Institusi penerima tenaga kerja akan sangat selektif. Mereka bersedia menerimanya asalkan mendatangkan keuntungan, sedangkan yang tidak mampu menghasilkan keuntungan lebih, tidak akan diterima. Kebijakan itu diambil karena mereka bersaing dengan perusahaan atau instansi lainnya. Kemenangan akan diperoleh manakala memiliki tenaga yang memiliki banyak kelebihan.
Hidup dan berada pada suasana seperti itu, sebenarnya tidak ada pilihan, kecuali bahwa perguruan tinggi yang dijadikan tempat belajar harus menyandang nama besar dan benar-benar mampu memberikan bekal pengetahuan, dan kemampuan profesional kepada lulusannya. Perguruan tinggi yang hanya menjalankan kegiatan rutin, yaitu memberi kuliah, praktikum, ujian, dan wisuda sebenarnya tidak akan banyak menolong, dan bahkan secara psikologis akan membebani lulusan yang bersangkutan. Para lulusannya memiliki ijazah dan gelar akademik, tetapi dianggap tidak memiliki kecakapan dan atau kopentensi yang diperlukan. Ijazah dan gelar akademiknya justru membebani dirinya sendiri.
Oleh karena itu, perguruan tinggi harus dipandang secara tepat. Institusi itu harus dijadikan sebagai wahana untuk membekali diri secara utuh, berkualitas, dan dibutuhkan oleh dunia masa depan. Di tengah persaingan yang semakin tajam seperti sekarang ini, maka setidaknya ada dua kemampuan yang harus dimiliki, yaitu kemampuan membaca dan mencipta. Sudah barang tentu, membaca dalam kontek ini seharusnya dimaknai secara tepat, yaitu kemampuan untuk melihat, memahami, dan mengerti secara cepat. Maka, kebiasaan riset harus diperkuat. Bahan bacaan atau literatur pada saat sekarang ini sudah melimpah, di mana dan kapan saja bisa diperoleh. Oleh karena itu, jika mahasiswa di perguruan tinggi hanya menggantungkan diri pada dosen dan hanya memahami beberapa buku, yang bisa jadi isinya sudah usang atau tidak relevan lagi dengan kebutuhan, maka sama artinya kegiatan itu dengan membuang-buang waktu.
Melakukan kegiatan riset secara terus menerus, mencoba untuk menciptakan sesuatu yang baru, berkomunikasi secara luas dengan sesama peneliti, penyandang ilmu, dan lain-lain adalah kunci menjadikan seseorang memiliki kekuatan lebih. Relevan dengan itu, ayat al Qur'an yang pertama kali turun juga memberikan petunjuk tentang betapa pentingnya membaca dan mencipta. Jika hal itu dilakukan maka ijazah dan gelar akademik bukan hanya sebatas menjadi tanda atau simbol, tetapi akan benar-benar menunjukkan kualitas siapa pemegang dan atau penyandangnya. Akhirnya, jika demikian itu halnya maka menjadi lulusan perguruan tinggi tidak perlu lagi pesimis atau ragu, tetapi akan mantap dan menjadi percaya diri. Ketika tidak dipekerjakan oleh orang, maka akan memperkerjakan banyak orang yang memang membutuhkannya. Wallahu a'lam



