GEMA-Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi (KBMB) UIN Maliki melalui BIOMA (Bidikmisi On March) mengadakan acara seminar nasional Revitalisasi Peran Pendidikan untuk Menyiapkan Generasi Emas 2045. Dengan menghadirkan Direktur Kemahasiswaan Ditjen Belmawa Kemenristek Dikti, Didin Wahidin sebagai narasumber. Kamis (24/3) di Gedung Rektorat Lt. 5.
Mengawali seminar yang bertajuk revitalisasi peran pendidikan, Didin Wahidin mengupas persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Diantaranya permasalahan kemiskinan dan pengangguran yang dinilai masih tinggi, kompetensi tenaga kerja yang masih rendah. “Selain itu persoalan kesenjangan sosial, radikalisme, dan daya saing bangsa masih kalah dengan negara tetangga,” paparnya.
Indonesia saat ini, kata dia, sudah masuk masyarakat ekonomi Asean. Dimana pendidikan, tenaga kerja, produk pertanian, dan kesejahteraan sudah terbuka. Masyarakat Indonesia tidak lagi bersaing dengan orang Indonesia, akan tetapi juga bersaing dengan seluruh masyarakat Asean. Orang dari negara Asean, bebas melamar pekerjaan di Indonesia begitu juga sebaliknya. Untuk itu, perlu dipersiapkan keahlian soft skills dan hard skills.
Solusinya, tambah Didin, diperlukan perluasan akses pendidikan, peningkatan keilmuan (penguasaan Iptek), keterampilan berfikir, pembinaan soft skill, wirausaha, penguatan karakter dan cinta tanah air, dan pembekalan keterampilan. “Mari kita sama-sama satukan langkah untuk memajukan pendidikan Indonesia,” ajaknya.
Menurut Fikri Abdul Aziz, Ketua Panitia BIOMA 2016, sesuai dengan visi-misi yang diusung penggagas KBMB, Muh. Nuh, tentang kebangkitan kaum duafa, bangsa Indonesia akan menghadapi era ‘Bonus Demografi’ dimana puncak kelahiran akan terjadi dalam rentang waktu 2016-2045. Bonus demografi ini menjadi penentu kemajuan atau kemunduran bangsa di masa yang akan datang. Tergantung pemerintah, dipersiapkan dengan baik atau tidak. “Seminar nasional ini ditujukan untuk menyuarakan pendidikan kepada masyarakat luas tentang pentingnya pendidikan,” ujar Fikri.
Seminar nasional ini, kata mahasiswa Hukum Bisnis Syariah, diadopsi dari istilah Education For Better Life, yang mana pendidikan itu bisa menentukan keberhasilan suatu bangsa. “Kami memilih Didin Wahidin sebagai narasumber karena beliau merupakan salah satu tokoh bidang pendidikan yang berpengaruh,” tukasnya. (inh/*)



