Pada hari Kamis tanggal 17 Maret 2016, sekitar jam 15.00 saya diberi tahu lewat tilpun oleh Pak Rektor, bahwa Mas Sudiyono telah wafat. Sudah barang tentu, saya merasa terkejut, karena sebelumnya tidak mengerti, Mas Sudiyono sakit. Selama ini ketika ketemu di kampus, ia kelihatan sehat-sehat saja. Memang tidak seperti dahulu, pada akhir-akhir ini badannya menyusut, tidak segemuk dahulu, ketika masih muda.
Saya mengenal Mas Sudiyono, ----begitulah saya terbiasa memanggil, sejak ia berstatus mahasiswa. Seringkali, untuk urusan menyelesaikan studinya di S1, menjelang akhir kuliahnya, ia sering datang ke rumah, biasanya bertanya tentang cara tulis menulis dan riset untuk mengerjakan skripsinya. Selain itu, oleh karena ia tergolong aktifis, yaitu di HMI, menjadi terbiasa, datang ke rumah menghimpun donatur organisasi. Organisasi mahasiswa ekstra kampus, untuk menjalankan kegiatannya, mengharapkan dana dari orang yang dianggap sebagai seniornya.
Kedekatan saya dengan Sudiono tersebut berlanjut setelah ia diterima bekerja di IAIN, ---sekarang UIN Maliki. Oleh karena masih banyak waktu, maka pada sore hari, ia saya ajak bekerja di Universitas Muhammadiyah Malang. Saya sendiri ketika itu sudah beberapa tahun sebelumnya, bekerja di kampus itu. Sejak mahasiswa dan aktif di HMI itu, Sudiyono saya kenal sebagai pekerja keras dan disiplin, terutama dengan pekerjaan yang terkait dengan administrasi.
Pada waktu bekerja di Universitas Muhammadiyah, setelah beberapa lama menjadi staf, diberi kepercayaan sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik. Setelah itu ia juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah. Siapapun orang di kampus itu mengakui, bahwa Mas Sudiyono jika diberi tugas mengurus administrasi maka hasilnya selalu memuaskan. Dalam hal mengelola manajemen kantor dan administrasi, ia selalu bekerja rapi, tertib, dan disiplin. Hal yang paling ia tidak sukai, melihat orang bekerja sembarangan.
Demikian pula, ketika saya menjabat Rektor di UIN Malang, Mas Sudiyono, saya beri tugas sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik. Prestasi kerjanya sama ketika ia memegang jabatan yang sama di Universitas Muhammadiyah Malang. Berbagai tugas terkait Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan, selalu diselesaikan dengan baik. Ketika sedang menghadapi tugas berat sekalipun, ia tidak pernah mengeluh. Pekerjaan yang dihadapi dibagi secara jelas dan kemudian diserahkan kepada masing-masing stafnya. Selanjutnya, ia memberikan petunjuk, bimbingan, mengontol, dan akhirnya pekerjaan dimaksud selesai. Ia termasuk orang yang hemat berbicara.
Sekalipun tenaganya masih diperlukan untuk memimpin Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan, menjelang saya berakhir memimpin UIN Malang, tahun 2012, ia meminta agar statusnya diubah menjadi tenaga akademik. Permintaan itu diajukan atas alasan, jika tetap sebagai pejabat struktural maka akan segera pensiun, karena usianya sudah mendekati 60 tahun. Tentu, oleh karena alasannya jelas, permintaan itu saya penuhi. Namun oleh karena sebagai dosen harus berpendidikan S2, maka saya anjurkan agar menyelesaikan studinya. Dalam waktu tidak terlalu lama, akhirnya ia berhasil lulus S2.
Setahu saya, memang ia sering sakit. Suatu waktu, mendengar bahwa ia sakit, sekalipun pada malam hari, saya bawakan seorang juru pijat refleksi ke rumahnya. Dengan jamu dan pijat refleksi itu, saya memperoleh kabar bahwa sakitnya sembuh hingga beberapa lama dan tidak kambuh lagi. Namun, ternyata pada hari Kamis, tanggal 17 Maret 2016, sore hari sekitar jam 15.00, sebagaimana saya sebutkan di muka, saya mendengar kabar, Mas Sudiyono sudah berpulang terlebih dahulu, mendahului teman-teman seangkatannya. Tentu semua kaget, dan merasa sedih, apalagi kejadian itu amat mendadak. Menghadapi kenyataan seperti ini, tidak ada hal yang lebih penting dan utama, kecuali ialah berdoa, semoga ia khusnul khotimah, ditempatkan oleh Allah pada tempat terbaik dan mulia di sisi-Nya. amien.



