GEMA-“Misi utama pendidikan pesantren yang sebenarnya adalah bagaimana memanusiakan manusia,” ungkap Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Mudjia Rahardjo., M.Si dalam sambutan pembukaan1th International Conference of Pesantren (ICP), Jumat (29-30/7).
Lebih lanjut, Prof. Mudji menjelaskan, pesantren tidak hanya sebagai lembaga transformasi pengetahuan. Lebih dari itu, pesantren adalah lembaga yang mampu mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya.
Membangun pesantren, lanjut Prof. Mujdi, berarti juga membangun dan menjaga peradaban Islam. Dari itu perlu ada evaluasi dan perumusan konsep serta sistem, bagaimana pendidikan pesantren kedepannya. “Konferensi ini harus produktif. Peserta konferensi harus turut menyumbangkan ide serta gagasan. Bagaimana mengembangkan pendidikan pesantren menjadi lebih baik dan mampu bersaing di era global ini,” terang Rektor kelahiran Blitar tersebut.
Menurut Prof. Mudji, sistem pendidikan berbasis boarding shcool sudah banyak diminati. Maka dari itu, kampus Islam semestinya harus berbasis pesantren. Sebab pesantren sangat evektif dalam menghasilkan output yang berbudi luhur dan memiliki spiritualitas. “Kampus Islam seharusnya memiliki lulusan yang punya intelektualitas dan spiritualitas,” tegas Prof. Mudji.
Sistem serta output itu, lanjut Prof. Mujdi, bisa merujuk pada sistem dan konsep empat pilar pengembangan Pusat Mahad Al-Jamiah UIN Maliki Malang. Semua Lulusan harus memiliki kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional. “Empat pilar tersebut bisa dicapai dengan adanya mahad di dalam kampus ini,” pungkas Prof. Mujdi. (sy)



