GEMA-Hari ini Senin, (2/10) para pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari tingkatan Rektor, Wakil Rektor, para Dekan, Wakil Dekan, Ketua Jurusan, serta para pimpinan lembaga dan unit di lingkungan UIN Maliki Malang mulai sibuk menyiapkan perumusan kebijakan baru ke depan.
Ketua Panitia Rapat Pimpinan (Rapim) tahun 2017 Drs. Mahfudh Shodar, M.Ag melaporkan bahwa peserta Rapim kali ini diikuti 98 peserta dengan 12 orang panitia. Kegiatan yang dibuka tepat pukul 09.00 WIB itu akan difokuskan pada persoalan rencana pengembangan UIN Maliki. “Semua peserta Rapim diharapkan agar lebih cermat dan hati-hati dalam membuat keputusan kebijakan, karena salah sedikit bisa berpengaruh terhadap yang lainnya,” paparnya.
Rektor UIN Maliki Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag mengajak seluruh pimpinan yang hadir untuk bersama-sama mengutamakan kebijakan pengembangan kampus ulul albab ini. Setiap perguruan tinggi memiliki tiga fokus utama yang biasa disebut dengan istilah tridharma perguruan tinggi. Dalam tridharma tersebut seringkali hanya dimaknai sebagai kewajiban saja. Padahal, didalamnya terdapat banyak tanggung jawab besar yang seyogyanya harus direalisasikan.
“Saya ingin UIN Malang ini tidak hanya melaksanakan tridharma yang fokus pada pendidikan dan penelitian saja. Akan tetapi ada wujud nyata terkait pengabdian kepada masyarakat,” harapnya.
Alumnus Pondok Pesantren Tebu Ireng itu menilai bahwa perguruan tinggi Malang ini tertinggal dalam merespon problem keagamaan baik di ranah dunia maupun di Inonesia sendiri. Misalnya saja persoalan diskriminasi warga muslim rohingya di Miyanmar, serta persoalan paham keagamaan yang kerap terjadi di negara NKRI ini. “Kita dituntut untuk memberikan kontribusi terhadap masalah global yang terjadi. Jika tidak, berarti kita dianggap absen dan sama saja dengan tidak ada,” paparnya.
Selain itu, Profesor kelahiran Lamongan tahun 1962 itu juga mengajak kepada para dosen untuk meningkatkan penelitiannya serta membiasakan diri untuk mempublikasikan karya reserachnya di jurnal baik, jurnal nasional maupun internasional. “Research yang dilakukan tentunya disesuaikan dengan problematika yang ada dan disesuaikan dengan disiplin keilmuannya masing-masing,” harapnya.



