JANGAN TINGGALKAN NILAI ISLAM DI ERA INDUSTRI 4.0
Iffatunnida Jumat, 2 November 2018 . in Berita . 11700 views
1679_seminar-pai.jpg

GEMA-Memasuki era industri 4.0, dunia pendidikan diminta untuk membekali masyarakat dengan nilai-nilai luhur. Salah satunya nilai keislaman. Hal ini senada disampaikan oleh Prof. Dr. Zahrah binti Hussain dan Prof. Dr. Ahmad Fuad Effendy. Keduanya merupakan pemateri utama dalam seminar internasional yang diadakan HMJ Pendidikan Agama Islam (PAI) di Aula Rektorat Lt. 5, Kamis (1/11).
Teknologi, ujar Prof. Zahrah, akan selalu berubah mengikuti perkembangan keilmuan manusia. Wajar, karena manusia akan selalu beradaptasi dengan lingkungan dan zamannya. Namun, masalah lain tentu akan muncul. Para pakar pendidikan khawatir, nilai-nilai luhur nenek moyang akan semakin dilupakan.
Faktanya, semakin banyak pemuda yang walau selalu update dengan teknologi, tetapi tidak memiliki perilaku yang baik. Alhasil, sikap negatif mereka sering nampak saat berinteraksi di dunia maya. “Jangan sampai kita sebagai muslim menjadikan alasan mengikuti arus globalisasi untuk meninggalkan nilai-nilai keislaman,” tegas guru besar di University of Malaya, Malaysia tersebut.
Menurutnya, alasan mengikuti arus industri 4.0 tidak bisa dijadikan penghalang dalam bersikap luhur. Dengan adanya teknologi yang bervariasi, seseorang justru memiliki banyak pilihan untuk menebar hal positif. “Manfaatkan teknologi itu untuk mengajarkan orang lain dalam menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam al Quran,” jelas wanita berkacamata itu.
Sementara itu, Prof. Fuad menyarankan agar seseorang tidak menutup diri di arus industri 4.0 ini. Teknologi dan segala produknya justru menjadi sarana efektif untuk berdakwah dengan menyasar para generasi muda. “Ibaratnya teknologi yang canggih ini jembatan kita untuk menyebar nilai positif Islam pada muda-mudi,” imbuh dewan pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Centre of Arabic Language ini.
Ia juga menuturkan salah satu keuntungan yang bisa didapat jika kita mengikuti industri 4.0 dengan sikap positif ialah tidak mudah termakan hoax. Era informasi digital tentu menjadi tempat yang tepat untuk memeriksa kembali apa yang sudah kita terima. “Itulah yang kita namakan tabayyun dalam Islam. Semoga tidak ada lagi masyarakat yang termakan kontroversi murah jika tahu bagaimana ber-tabayyun menggunakan teknologi,” tambah lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor tersebut.
Seminar internasional ini menjadi pembuka gebyar International Education Festival 2018 yang digagas HMJ PAI. Selanjutnya, acara akan diisi dengan beragam kompetisi antar kelas, jurusan, dan olimpiade PAI se-Jawa-Bali. (syf/nd)

(INFOPUB)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up