GEMA-Geliat pengelola jurnal untuk memperbaiki reputasi makin meningkat. Salah satu usahanya dengan mengundang pengelola jurnal yang sudah bereputasi internasional. Fakultas Syariah menghadirkan Prof. Dr. Istadi untuk berbagi ilmu pengelolaan jurnal di Rumah Jurnal Gedung Perpustakaan Pusat UIN Malang, Selasa (27/11).
Ketua Redaksi Jurnal BCREC, Universitas Diponegoro Semarang ini menjabarkan kendala utama yang sering dihadapi saat pengajuan akreditasi dan indeksasi. Menurutnya, cakupan keilmuan jurnal cenderung kurang spesifik sehingga tidak unik. “Karena bisa jadi banyak jurnal di kampus lain yang cakupannya sama persis dengan kita,” jelas guru besar Teknik Kimia ini.
Hal ini, lanjutnya, sering diabaikan pengelola jurnal pemula. Sehingga menghambat pengajuan indeksasi dan juga akreditasi. Namun, meski spesifik, cakupan tidak boleh terlalu sempit.
Dalam indeksasi Scopus, asesor tentu melihat kualitas skala internasionalnya. Pencantuman kota atau negara dalam penamaan jurnal tentu membuat sense-nya terlalu lokal. “Tapi, mencantumkan kata internasional dalam penamaan jurnal pun tidak akan membuat jurnal tersebut bernilai internasional,” imbuh profesor yang dikukuhkan 2017 ini.
Selain itu, keragaman penulis juga menjadi penilaian asesor. Jurnal yang hanya memuat penulis lokal tentu akan memiliki poin rendah. Karenanya, ia menyarankan pengelola untuk semangat mencari input naskah dari negara lain. “Jika penulisnya dari benua yang berbeda tentu akan bernilai lebih,” ujarnya.
Acara yang dilaksanakan selama tiga hari (27-29/11) ini dibuka oleh Wakil Rektor Dr. M. Zainuddin. Fakultas Syariah juga mengundang asesor jurnal lain untuk semakin meningkatkan geliat pengelola jurnal. Utamanya, jurnal di Kampus Ulul Albab. (nd)



