PROF. DR. MULYADI KARTANEGARA: BELAJAR INTEGRASI HARUS PAHAMI ASASNYA
Abadi Wijaya Kamis, 27 Desember 2018 . in Berita . 3900 views
1765_prof-mulyadi.jpg
PAKAR FILSAFAT ISLAM: Prof . Dr. Mulyadi Kartanegara saat menjadi pemateri dalam FGD yang bertajuk Integrasi sains dan agama di UIN Maliki Malang. Kamis (27/12).


GEMA-Pakar filsafat Islam Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara salah satu Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta hadir di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk memberikan kuliah tamunya kepada para dosen. Kamis, (27/12).
Dalam paparan materinya Prof. Mulyadi menegaskan bahwa sebelum melakukan proses integrasi keilmuan umum dengan agama atau sains dengan Islam harus diketahu terlebih dahulu apa yang mau diintegrasikan? Pasalnya, hingga saat ini ilmuan barat yang menganut aliran positifisme tidak mengakui adanya keilmuan yang berbasis integrasi. Barat hanya mengadopsi hukum psitif, semua keilmuan harus dapat dibuktikan kebenarannya melalui eksperimen yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. “Ilmuan barat hanya mempercayai sesuatu yang bisa dilihat, dirasakan dan terukur,” paparnya.
Lalu, kata Prof. Mulyadi, bagaimana dengan ilmu agama? Menurur dia sebelum mempelajari proses integrasi lebih jauh harus dibedakan terlebih dahulu bahwa sebenarnya keilmuan ini terbagi menjadi dua yaitu sains dan ilmu, atau sesuatu yang fisik dan non fisik. “Sains masuk dalam ketegori fisik dan ilmu cakupannya bisa masuk kategori non fisik seperti ilmu agama yang sering berhubungan dengan sesuatu yang holistik metafisik,” paparnya.
Mengukur objek non fisik, tidak bisa menggunakan metode fisik yang biasa digunakan untuk metode research. Islam membagi objek penelitiannya itu dibagi menjadi dua kategori ada yang bersifat mahsusat dan ma’kulat atau ada yang bersifat kauniyah dan kauliyah. “Alam semesta ini masuk kategori ayat kauniyahnya, dan semuanya berujung pada ke esaan sang Pencipta,” terangnya.
Prof. Mulyadi melanjutkan bahwa, sebenarnya teori barat yang banyak mengikuti aliran positifisme itu memiliki kelemahan juga, misalnya saja jika sesuatu itu hanya diakui kebenarannya bila bisa dilihat dengan mata, bagaimana persoalan suara yang keluar dari mulut seseorang. Suara tidak wujud dan tidak bisa dilihat secara kasat mata, tapi keberadaanya nyata. “Itu menjadi keritik saya terhadap teori positifisme,” paparnya.
Belajar sains dan ilmu agama itu sebenarnya tujuannya sama yaitu untuk mencari kebenaran. Akan tetapi paradigma itu saat ini sudah terbalik, seorang ilmuan terdahulu yang teorinya sampai saat ini digunakan oleh para saintis memilki tujuan bahwa belajar itu untuk menemukan kebenaran. “Akan tetapi, saat ini belajar bukan untuk mencari kebenaran malah untuk mencari pekerjaan dan mereka tidak peduli pada kebenaran” keluhnya.
Makanya, kata dia, ilmuan saat ini tidak bisa sekritis seperti imam al Ghazali, “Ingat, kebenaran mutlak itu hanya milik Allah dan menuntut ilmu itu menjadi perintahNya,” pesannya.

 

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up