GEMA-“Inilah hebatnya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki mahad. Dimana-mana ada UIN, tapi tidak semua memiliki mahad,” itulah penggalan kalimat yang dilontarkan Prof. Dr. KH. M. Quraish Shihab, MA saat menjadi pembicara utama dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Alquran dan Kaderisasi Calon Ulama yang berlangsung di ruang pertemuan gedung rektorat Lt.4, Selasa (26/3).
Penulis Tafsir Al-Mishbah itu mengawali diskusinya dengan sebuah harapan, agar UIN Maliki Malang mempu menjadi percontohan institusi Islam yang tidak keluar dari moderasi atau atauran yang tidak keluar dari ketentuannya. Misalkan saja lulusan UIN Malang ini menjadi ustadz di tengah masyarakat, tentunya harus memiliki kemampuan memberikan pelayanan yang mudah diterima oleh masyarakat. Dan salah satu caranya seorang ustadz tidak boleh keluar dari moderasi tersebut. “Kita boleh berbeda pendapat, tapi jangan sampai keluar dari moderasi,” pesannya.
Semua umat Islam sependapat bahwa, Alquran pertama kali diturunkan kepada orang Arab yang bernama Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, isinya Alquran tidak hanya untuk kalangan orang Arab saja, melainkan untuk seluruh umat manusia. Isinya mengajak semua manusia untuk senantiasa menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi segala bentuk larangan-larangan-Nya. “Misalkan saja diperintahkan mendirikan sholat lima waktu, siapapun yang tidak menjalankannya maka akan mendapatkan siksaan yang amat pedih dari-Nya,” jelasnya.
Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam memahami isi Alquran ada banyak hal yang mempengaruhinya. Salah satunya yaitu pengetahuan yang dimilikinya, ilmu dan budaya. Islam memang pertama kali turun di Makkah, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dalam proses penyebarannya mengalami ‘interaksi dan gesekan’ antara Islam dan budaya setempat. “Sehingga bisa jadi Islam mempengaruhi budaya dan atau budaya setempat mempengaruhi Islam. Begitu pun sebaliknya,” paparnya. (aj/nhl)



