GEMA-Identitas seseorang bisa terlihat jelas, salah satunya, dengan memperhatikan cara berbicaranya. Pasalnya, setiap daerah pasti memiliki keunikan dalam bertutur kata. Hal ini dipaparkan oleh Dr. Suhandano, MA. pakar Linguistik Antropologis dalam Workshop Penelitian Linguistik Antropologi. Acara digagas oleh Lembaga Kajian Bahasa dan Budaya, yang bernaung di Fakultas Humaniora, Senin (15/7). Dihadiri para dosen pengampu mata kuliah bahasa di UIN Malang, workshop tersebut bertempat di Aula fakultas Lt. 3.
Pada dasarnya, menurut Suhandano, Linguistik Antropologis mempelajari bahasa yang dikaitkan dengan budaya penuturnya. Tak hanya sekedar mengidentifikasi identitas penutur, namun cabang keilmuan tersebut juga mengupas tuntas kultur yang dianut si pembicara. “Seperti perbedaan ketika salam. Tata cara salam menunjukkan identitas orang tersebut,” papar dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.
Karena itu, lanjutnya, tidak salah jika dikatakan, “Berbicara itu mempraktikkan budaya penutur.” Ketika mempelajari bahasa dari beragam budaya di dunia, kita akan menemukan hal-hal unik. Hal yang pastinya berbeda dengan budaya kita sendiri.
Perbedaan ini, menurut peraih gelar master dari The Australian National University itu, disebabkan oleh konsep penutur yang juga sangat beragam. Ia memberi contoh, bagi penutur Bahasa Korea, mengatakan bayi yang lucu seperti anak anjing adalah hal yang positif. “Kalau di Indonesia? Tentu tidak, karena konotasi kata anjing sendiri tidak positif untuk budaya kita,” jelasnya. (nd)



